Perang Ketupat

sumber: thejakartapost.com

sumber: thejakartapost.com

Perang yang satu ini jauh dari imej darah, senjata, granat dsb. Malah, kalau seandainya pernah menyaksikan mungkin lebih baik bawa piring hehe. Ya, Perang Ketupat namanya. Perang ini adalah sebuah ritual tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung, propinsi Bali.

DSC-9215-500

Tradisi ini sering juga disebut Aci Rah Pengangon oleh masyarakat setempat. Ritual ini diawali dengan upacara sembahyang bersama oleh seluruh warga desa di pura setempat. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Ketupat ini.

Setelah upacara selesai, para peserta akan menyiapkan “amunisi” masing-masing yang berupa “tipat” dan “bantal” (semacam ketupat). Ribuan ketupat yang digunakan dalam acara ini merupakan hasil sumbangan dari warga Desa Adat Kapal, Badung. Setelah semuanya siap, jalanan yang ada di depan pura akan ditutup selama 30 menit untuk semua kendaraan bermotor.

DSC-9229-500

Para warga akan berkumpul di sepanjang jalan dan terbagi dalam dua kelompok yaitu utara dan selatan. Kemudian, “perang” pun dimulai. Aksi saling lempar ketupat ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Terkadang tak jarang ada ketupat “nyasar” kea rah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen ini. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tidak ada dendam.

Perang Ketupat merupakan bentuk rasa terima kasih warga kepada Sang Hyang Widhi atas panen juga sebagai doa agar terhindar dari kekeringan. Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Tipat atau Topat di daerah Lombok dan Makassar. Hanya saja waktu pelaksanaannya berbeda. Perang Tipat di Lombok dan Mataram jatuh pada bulan Desember ketika bulan purnama.

Perang Tipat juga telah menjadi salah satu atraksi wisata yang popular setiap tahunnya di Lombok. Namun yang paling penting adalah sebagai bentuk kesadaran atas toleransi antar umat yang telah dilakukan turun temurun oleh para leluhur kita.

Mungkin festival serupa bias ditemukan di Spanyol dengan festival tomat atau Belanda dengan festival jeruknya. (Wta/06192009)

Sumber: dari berbagai sumber, photo credit to Putu Eka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s