“Don’t act like the hypocrite, who thinks he can conceal his wiles while loudly quoting the Koran.”

-  Hafez, 14th Century Iranian Poet

Baru saja saya selesai menonton sebuah film yang membuat hati saya miris. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan film ini. Namun, berbekal beberapa review di tempat saya biasa men-download film, akhirnya film ini berhasil tersaji di depan saya.

Sinopsis

Freidoune dan Zahra

The Stoning of Soraya M. bercerita tentang nasib malang yang menimpa seorang wanita muslim di sebuah kota kecil bernama Kupayeh di Iran. Film ini bercerita tentang bibi Soraya yang bernama Zahra yang berusaha untuk menyampaikan kisah tragis keponakannya pada dunia. Zahra bertemu dengan seorang jurnalis Perancis keturunan Iran, Freidoune, yang  sedang melakukan perjalanan ke Iran.

Di tengah perjalanan, mobilnya rusak dan harus diperbaiki di bengkel di kota tersebut. Zahra yang dianggap gila oleh penduduk setempat kemudian meminta Fredouine, yang sedang menunggu mobilnya diperbaiki, untuk merekam semua ucapannya.

“The voices of women do not matter here. I want you to take my voice with you,”

- Zahra, bibi dari Soraya.

Ceritapun bergulir mengenai kisah Soraya. Di sini, diceritakan betapa Soraya sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Ali,  adalah seorang  sipir penjara yang ringan tangan dan selalu bersenang-senang dengan wanita lain. Ia meminta Soraya untuk menceraikannya agar dapat menikah dengan gadis berusia 14 tahun.

Soraya menolak permintaan suaminya tersebut. Ali tetap berusaha mencari cara agar berpisah dengan Soraya. Dirinya kemudian menghasut imam kampung tersebut untuk bersekongkol dengan dirinya untuk memfitnah Soraya.

Soraya yang bekerja pada seorang duda beranak satu kemudian difitnah oleh suaminya sendiri bahwa dia telah berselingkuh dengan sang duda tersebut. Untuk membuktikan bahwa Soraya benar berselingkuh, Ali mengancam si duda untuk mengakui bahwa memang Soraya menggoda dirinya. Jika tidak maka ia akan membuat anaknya menjadi yatim. Demi melindungi anaknya, maka si duda terpaksa berbohong di hadapan walikota, orang yang berhak memutuskan semua perkara.

When a man accuses his wife, she must prove her innocence. That is the law. On the other hand, if a wife accuses her husband, she must prove his guilt.”

- Ebrahim, Walikota Kupayeh

Seluruh warga termakan dengan hasutan Ali tidak terkecuali ayah dan kedua putra Soraya. Setelah berunding dengan semua petinggi kota maka diputuskan bahwa Soraya terbukti bersalah dan akan dihukum.

Menurut hukum yang berlaku di negeri itu, jika seorang wanita terbukti berselingkuh maka hukumannya adalah dengan dilempari batu hingga mati. Zahra yang berusaha mati-matian membela keponakannya, tidak dapat berbuat apa-apa. “Yes, it’s clear, all women are guilty, and all men are innocent,” kata Zahra.

Soraya dikubur setengah badan hingga sebatas pinggang dengan tangan diikat ke belakang. Satu persatu orang melempari dirinya dengan batu. Soraya yang malang akhirnya tewas di tangan para tetangga dan keluarganya sendiri.

Potret Nyata Wanita Iran

Di akhir film, Freidoune yang selesai merekam semua perkataan Zahra kemudin menerbitkannya dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari Soraya Manutcheri. Freidoune Sahebjam adalah jurnalis pertama yang berani mengungkap kejahatan yang melibatkan komunitas Bahá’í di Iran. Ia juga mengungkap tentang penggunakan anak-anak sebagai tentara secara illegal pada masa perang Iran-Irak (1980-1988).

Namun satu hal yang tidak saya suka dari film ini adalah kurang penggambaran mendetail tentang ciri-ciri sebuah kota muslim. Islam di sini disimbolisasi dengan seruan Allah Akbar, wanita berhijab, ulama bersorban yang membawa AlQuran dan tasbih, dan yang paling ditonjolkan adalah betapa Islam agama yang keras karena dapat menghukum seorang manusia dengan mencabut nyawanya.

Lagi-lagi film khas Hollywood yang hanya melihat Islam dari satu sudut pandang saja. Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang Iran ini adalah benar dan pembuat film adalah salah. Namun, dengan hanya melihat satu sisi yang sempit, film ini seakan memberikan penilaian bahwa Islam adalah agama yang keras dan primitif. Saya hanya ingin mengungkapkan pendapat bahwa satu sudut pandang saja tidak dapat dijadikan sebagai penilaian mutlak atas sesuatu hal. Diperlukan berbagai sisi untuk menilai sesuatu itu negatif atau positif.

Namun, di sisi lain, film ini membuat air mata saya jatuh, karena di sini digambarkan betapa wanita tidak memiliki hak dan suara untuk membela diri. Jika dilihat dari segi kemanusiaan, jelas praktik “Stoning” ini sangat melanggar hak asasi manusia. Sangat menyedihkan betapa fitnah dapat membinasakan kehidupan seorang manusia.  Dan yang paling penting, apa hak kita sebagai sesama manusia untuk mengadili orang lain. Jika Allah saja Maha Pemberi Maaf, apakah manusia berhak mencabut nyawa seorang manusia atas kejahatan yang telah dilakukannya?

Film ini membuat saya berpikir, betapa beruntungnya saya, sebagai wanita yang memiliki kebebasan untuk bersuara. Saya memikirkan betapa malangnya nasib para saudari-saudari saya di luar sana, yang mungkin kehadirannya tidak lebih dari vas bunga penghias meja. Semoga Allah SWT, melindungi mereka semua. Amin.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Kritik dan komentar dipersilahkan.

The Stoning of Soraya M.

Sutradara : Cyrus Nowrasteh
Tanggal rilis : 7 September 2008 (Toronto Film Festival)
Berdasarkan Novel oleh Freidoune Sahebjam

Pemain:
Shohreh Aghdashloo …    Zahra
Mozhan Marnò             …    Soraya M.
James Caviezel             …    Freidoune
Navid Negahban          …    Ali
Ali Pourtash                  …    Mullah
David Diaan                   …    Ebrahim

Bahasa : Persia

-EPS-