Si Manusia Jaket ini bernama asli Eka Perwitasari Fauzi. Sudah hidup selama 27 tahun, hmm tahun ini yang ke 28, insyaallah. Lahir di Yogyakarta tahun 1982 kemudian ikut orang tua hijrah ke Jakarta pada tahun 1987 dan Alhamdulillah tumbuh kembang dengan baik hingga saat ini (walaupun terkadang otaknya agak sedikit miring) :D .

Lulus kuliah tahun 2005 dari Fakultas Ilmu Komunikasi ambil konsentrasi Jurnalistik di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Senayan. Kalau tahu Senayan City, di sebelahnya ada gedung besar warnanya abu-abu, pokoknya gedungnya bagus deh. Nah, kampus saya ada di sebelah gedung bagus itu :D .

Setelah luntang lantung selama kurang lebih tiga tahun, kerja serabutan, akhirnya berhasil menemukan pekerjaan sebagai penulis berita untuk travel agen pada tahun 2008 dan  sebagai wartawan di sebuah Harian khusus Anak-anak di Jakarta sejak akhir tahun 2009 hingga sekarang.

Kenapa jadi wartawan? Karena impian saya adalah ingin keliling dunia. Seperti Philleas Fog, tokoh utama “Around the World in 80 Days”. Lho, kenapa nggak jadi pramugari aja? Waduh, saya ndak biasa dandan & pakai rok. Terakhir iseng ikut walk in interview aja ditolak karena kelebihan berat badan :D .

Jadi, berhubung saya suka membaca dan menulis, dan saya lebih baik dalam menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan daripada berkata-kata, maka jurnalislah pilihan saya. Idealis? Nggak juga, pernah coba kerjaan lain, tapi ternyata memang rejeki saya ada di dunia tulis menulis ini, gimana dong? Jadi saya anggap, sudah takdirnya begitu hehehe. Just follow the path (^^)v

Kenapa Manusia Jaket?

Sebenarnya ini adalah sebuah komentar yang dibuat oleh teman saya untuk foto saya yang memakai jaket ketika berada di Jepang (eh di sana dingin jo!). Memang secara tidak sadar sampai detik ini saya akui, saya tidak lepas dari yang namanya jaket.

Semalam saya berpikir, sejak kapan yah saya menjadi orang yang tidak pernah lepas dari Jaket. Hmm…dari jaman kuliah? Kayaknya sebelum itu deh. Waktu kuliah saya sudah menjadi satu dengan sebuah jaket berwarna abu-abu gelap.

Aha! Sejak SMA! Saya baru menyadari itu. Ya, berhubung saya menghabiskan tiga tahun masa SMA saya di kota pelajar, Jogja, yang waktu itu masih dingin sekali. Jogja, 13 tahun yang lalu udaranya jauh lebih dingin dari sekarang dan penyakit sinusitis saya kambuh tak karuan selama tiga tahun di sini. Bayangkan setiap hari selama tiga tahun saya harus membawa sapu tangan, dan di waktu pagi setiap selesai mandi, saya selalu bersin-bersin dan jumlahnya tidak terhitung. Hidung meler sudah menjadi santapan sehari-hari (sampai-sampai saputangan yang tadinya kering menjadi basah karena  untuk melap hidung yang meler itu). Penderitaan saya baru akan berakhir pada saat jam istirahat, yaitu dimana saya bisa pergi ke luar kelas dan terkena sinar matahari (melernya langsung berhenti).

Dari situ kegilaan saya akan jaket dimulai. Awalnya hanya sweater, saya ingat sekali sweater wol bermotif perca monokromatik (hmm…dimana ya sweater itu sekarang?). Itu yang pertama. Kemudian jaket biru donker yang dibelikan kembaran dengan adik saya (ketika punya saya rusak, akhirnya punya adik saya menjadi hak milik hehe). Alas an saya memakai jaket juga ditambah kondisi dimana saya harus menggunakan motor kemana-mana.

Pindah ke Jakarta, sinus saya mulai membaik karena kota ini PANAS!! Masa kuliah semester awal, si biru donker terpaksa pension. Kehadirannya digantikan oleh jaket abu-abu gelap, yang saya pakai mulai awal semester tiga! Jadi selama di Jakarta, alas an saya menggunakan jaket adalah selain ruang kelas yang dingin, juga untuk mencegah masuk angin karena saya tetap bermotor selama di Jakarta (hingga detik ini!).

Namun anehnya memang saya tidak bisa lepas dari jaket. Mungkin karena terbiasa memakai jaket kemana-mana, jadi merasa aneh jika tidak memakainya.  Entah kenapa saya merasa terlindungi jika memakai jaket, rasanya seperti memakai baju zirah hehehe. Ada-ada saja ya?

Well, enjoy the blog! (^^)v

Salam,

-EPS-

Ps.

Trima kasih untuk Aji Kurniadhi untuk komentar “Manusia Jaket” di FB :D

Si Manusia Jaket ini bernama asli Eka Perwitasari Fauzi. Sudah hidup selama 27 tahun, hmm tahun ini yang ke 28, insyaallah. Lahir di Yogyakarta tahun 1982 kemudian hijrah ke Jakarta pada tahun 1987 dan Alhamdulillah tumbuh kembang dengan baik hingga saat ini (walaupun terkadang otaknya agak sedikit miring) :D .

Lulus kuliah tahun 2005 dari Fakultas Ilmu Komunikasi ambil konsentrasi Jurnalistik di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Senayan. Kalau tahu Senayan City, di sebelahnya ada gedung besar warnanya abu-abu, pokoknya gedungnya bagus deh. Nah, kampus saya ada di sebelah gedung bagus itu :D .

Setelah luntang lantung selama kurang lebih tiga tahun, kerja serabutan, akhirnya berhasil menemukan pekerjaan sebagai penulis berita untuk travel agen pada tahun 2008 dan  sebagai wartawan di sebuah Harian khusus Anak-anak di Jakarta sejak akhir tahun 2009 hingga sekarang.

Kenapa jadi wartawan? Karena impian saya adalah ingin keliling dunia. Seperti Philleas Fog, tokoh utama “Around the World in 80 Days”. Lho, kenapa nggak jadi pramugari aja? Waduh, saya ndak biasa dandan & pakai rok. Terakhir iseng ikut walk in interview ditolak karena kelebihan berat badan :D .

Jadi, berhubung saya suka membaca dan menulis, dan saya lebih baik dalam menuangkan pikiran dalam bentuk tulisa daripada berkata-kata, maka jurnalislah pilihan saya. Idealis? Nggak juga, pernah coba kerjaan lain, tapi ternyata memang rejeki saya ada di dunia tulis menulis ini, gimana dong? Jadi saya anggap, sudah takdirnya begitu hehehe. Just follow the path (^^)v

Kenapa Manusia Jaket?

Sebenarnya ini adalah sebuah komentar yang dibuat oleh teman saya untuk foto saya yang memakai jaket ketika berada di Jepang (eh di sana dingin jo!). Memang secara tidak sadar sampai detik ini saya akui, saya tidak lepas dari yang namanya jaket.

Semalam saya berpikir, sejak kapan yah saya menjadi orang yang tidak pernah lepas dari Jaket. Hmm…dari jaman kuliah? Kayaknya sebelum itu deh. Waktu kuliah saya sudah menjadi satu dengan sebuah jaket berwarna abu-abu gelap.

Aha! Sejak SMA! Saya baru menyadari itu. Ya, berhubung saya menghabiskan tiga tahun masa SMA saya di kota pelajar, Jogja, yang waktu itu masih dingin sekali. Jogja, 13 tahun yang lalu udaranya jauh lebih dingin dari sekarang dan penyakit sinusitis saya kambuh tak karuan selama tiga tahun di sini. Bayangkan setiap hari selama tiga tahun saya harus membawa sapu tangan, dan di waktu pagi setiap selesai mandi, saya selalu bersin-bersin dan jumlahnya tidak terhitung. Hidung meler sudah menjadi santapan sehari-hari (sampai-sampai saputangan yang tadinya kering menjadi basah karena  untuk melap hidung yang meler itu). Penderitaan saya baru akan berakhir pada saat jam istirahat, yaitu dimana saya bisa pergi ke luar kelas dan terkena sinar matahari (melernya langsung berhenti).

Dari situ kegilaan saya akan jaket dimulai. Awalnya hanya sweater, saya ingat sekali sweater wol bermotif perca monokromatic (hmm…dimana ya sweater itu sekarang?). Itu yang pertama. Kemudian jaket biru donker yang dibelikan kembaran dengan adik saya (ketika punya saya rusak, akhirnya punya adik saya menjadi hak milik hehe). Alas an saya memakai jaket juga ditambah kondisi dimana saya harus menggunakan motor kemana-mana.

Pindah ke Jakarta, sinus saya mulai membaik karena kota ini PANAS!! Masa kuliah semester awal, si biru donker terpaksa pension. Kehadirannya digantikan oleh jaket abu-abu gelap, yang saya pakai mulai awal semester tiga! Jadi selama di Jakarta, alas an saya menggunakan jaket adalah selain ruang kelas yang dingin, juga untuk mencegah masuk angin karena saya tetap bermotor selama di Jakarta (hingga detik ini!).

Namun anehnya memang saya tidak bisa lepas dari jaket. Mungkin karena terbiasa memakai jaket kemana-mana, jadi merasa aneh jika tidak memakainya.  Entah kenapa saya merasa terlindungi jika memakai jaket, rasanya seperti memakai baju zirah hehehe. Ada-ada saja ya?

-EPS-

Ps.

Trima kasih untuk Aji Kurniadhi untuk komentar “Manusia Jaket” di FB :D