Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

“Merah itu artinya berani
Putih itu artinya suci”

Kata-kata itu selalu teringat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Segala macam atribut berbau merah putih memang selalu kita sematkan hampir setiap hari, mulai dari topi, seragam, dasi, sampai waktu jaman saya SD dulu setiap hari jumat dan senam pagi bersama, kami harus memakai semacam rumbai2 yang terbuat dari tali rafia di kedua tangan (mirip pom2nya cheerleader) yang warnanya merah putih. Maksudnya apa? saya juga nggak gitu ngerti waktu itu, yang pasti kalau tidak bawa, wajah langsung pucat pasi. Langsung kena hukum (heran deh, apa2 dihukum jaman itu).

Kalau boleh bertanya, kapan sih terakhir merasa nasionalis? kalau saya akan menjawab, mungkin waktu SMA dulu. Karena setiap hari Senin masih (harus!) ikut upacara bendera dsb. Mulai masuk kuliah, sedikit-demi sedikit rasa nasionalis itu mulai terkikis. Paling2 merasa nasionalis banget klo liat tim bulu tangkis Indonesia bertanding dan menang heheh kalau kalah? heehee matiin tv aja ;p

Tapi tahun ini entah kenapa jiwa nasionalis itu perlahan-lahan tumbuh kembali. Ada dua hal yang membuat saya berkaca. Yang pertama, perjalanan ke Jepang. Mungkin benar, di saat kita jauh dari Ibu Pertiwi, semakin kita sadar siapa kita, dan bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah orang asing yang bukan sebangsa. Saya baru merasakan itu ketika saya harus berulang kali menunjukan letak Jakarta dan Indonesia di globe mini, atau menjawab pertanyaan2 seputar Indonesia dan budayanya. Menjawab pertanyaan2 dari teman2 Jepang tersebut sebenarnya cukup mudah namun saya cukup berhati-hati menjawabnya, jangan sampai menimbulkan kesan negatif (jadi mirip ujian kewarganegaraan heheh). Berada disana juga seperti membawa beban moral buat saya karena saya harus membawa imej positif tentang Indonesia (saya rasa ini juga kewajiban bagi setiap WNI dimanapun mereka berada) dan ini dengan sendirinya menumbuhkan rasa cinta tanah air (beneran lhoo hehe)

Yang kedua, kedatangan sepupu2 dari jauh. Yang membuat saya kagum pada mereka adalah mereka menyadari betul kalau mereka masih memiliki darah Indonesia. Bela2in pergi ke mangga dua, panas-panas, desak2an cuma mau cari apa? Kaos Timnas Sepakbola Indonesia! yang dengan bangganya mereka tunjukkan pada saya (sungguh terharu waktu mereka menunjuk Garuda Pancasila di dada kiri kaos tersebut).

Jadi walaupun besar dan tumbuh di negara lain tidak membuat mereka lupa akan kulitnya. Saya merasa kalah karena jiwa nasionalis mereka jauh lebih tinggi dibanding saya yang lahir dan besar di negara ini. Saya baru menyadari betapa saya harus belajar banyak dari mereka, belajar bangga menjadi seorang manusia Indonesia.

Hmm…tugas yang cukup menantang. Tapi saya yakin saya bisa. Saya tidak harus menjadi duta besar atau duta budaya atau duta2 yang lain agar budaya Indonesia dikenal dunia. Cukup dengan menjadi orang Indonesia, dengan sendirinya kita sudah menjadi duta bagi bangsa ini.

Kita masih punya banyak pekerjaan untuk bangsa ini. Tidak perlu hal yang besar, bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan berusaha menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Amin.

“kalau mati, dengan berani;
kalau hidup dengan berani.
Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa menjajah kita.”

– Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Dirgahayu Indonesia!

-witcha-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s