Waktu

Jakarta, 10 November 2009    22.00 WIB

Saya baru saja terbangun satu jam yang lalu. Saya terlelap ketika sedang membaca buku“ Botchan“ karangan Natsume Soseki. Saya memang bukan tipe orang yang akan terjaga terus ketika membaca buku. Terus terang saya membaca buku agar saya terlelap lebih cepat atau memang ingin melupakan masalah-masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Buat saya tidak ada yang lebih menenangkan selain membaca buku di tempat tidur, setelah seharian bekerja.

Kembali pada kenapa saya terjaga. Pintu kamar malam ini memang saya biarkan terbuka karena saya pikir saya pasti terbangun lagi entah jam berapa untuk melakukan sholat Isya. Saya biarkan diri saya terlelap karena memang saya lelah sekali. Saya terlelap sekitar pukul 7.30. dan sekitar satu jam kemudian si mbak membangunkan saya dengan mengatakan kedua orang tua saya sudah pulang dan menanyakan apakah saya ingin makan bersama mereka. Jika ini terjadi biasanya saya akan menolak tawaran tersebut dan melanjutkan tidur saya. Namun malam ini tidak biasa. Entah kenapa saya, yang sebelumnya sudah makan malam bersama adik-adik saya, dengan mata masih mengantuk dan pikiran yang belum sadar penuh, langsung beranjak dari tempat tidur dan menemui kedua orang tua saya.

Duduk bersama mereka di meja makan, bercerita tentang hari masing-masing. Pikiran saya masih belum sadar penuh, kenapa saya melakukan hal itu. Hahaha mungkin jauh di alam bawah sadar saya, sebenarnya saya merindukan mereka.

Saya bisa dibilang jarang bertemu mereka. Terdengar aneh memang. Tinggal satu rumah tapi jarang bertemu. Kedua orang tua saya bekerja di perusahaan yang sama. Mereka berangkat pagi sekali dan pulang sekitar pukul 9. Malam ini mereka pulang lebih awal. Biasanya kalau mereka pulang, saya sudah tidur, dan ketika mereka berangkat saya belum bangun.

Ayah saya pernah berkata “kamu itu seharusnya bangun pagi, biar bisa sempet ngobrol sama papa dan mama. Siapa tahu itu terakhir kali ketemu“

Hal itu dikatakan ayah saya ketika gempa besar terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu. Dan memang, pada saat kejadian, saya tidak bisa menghubungi mereka berdua. Namun syukurlah mereka tidak apa-apa. Dari situ saya kemudian merenungkan kata-kata ayah saya tersebut. Beliau tidak marah, hanya saja mengingatkan tidak ada yang pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita.

Sejak saat itu saya sering kali mengumpat pada diri saya sendiri ketika saya bangun dan mendapati kedua orang tua saya sudah berangkat.

“Bangun pagian dong wit! Kalo nggak bisa ketemu lg gimana“

Itu yang ada di pikiran saya ketika memandang garasi yang sudah kosong.

time-flies-clock-10-11-2006

Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa kita tarik kembali. Waktu itu bagaikan nafas yang tidak dapat ditarik kembali. Begitu yang pernah saya dengar. Bagi orang arab, waktu dianggap seperti pedang karena memiliki dua sisi. Di satu sisi kita dapat menggunakan untuk menebas namun di satu sisi ia dapat menebas kita jika tidak dipergunakan dengan baik.

Dan mungkin hal itu yang membuat saya tergerak untuk duduk di meja makan bertiga dengan kedua orang tua saya. Saya tidak tahu berapa banyak waktu yang saya punya untuk mereka. Ataupun waktu yang mereka punya untuk saya. Ketika ayah saya memberitahu bahwa ibu saya akan bertugas ke Medan hari kamis besok, ibu saya berkata „“sudah mau pensiun, tapi malah jadi lebih sering ditugasi ke luar kota“. Mendengar itu saya spontan menimpali „“mungkin karena mau pensiun ma, jadi ditugasi ke luar kota, kan enak jalan-jalan“. Kami bertiga hanya tertawa.

Namun saya tertegun. Pikiran saya melayang pada peristiwa salah satu teman ayah saya yang kehilangan istrinya karena kecelakaan pesawat. Saya memang tidak pernah suka naik pesawat. Bukannya saya menyumpahi ibu saya atau apa. Tapi terkadang pikiran konyol terlintas dalam pikiran saya.

Pikiran saya masih kosong. Saya tidak tahu kapan waktu saya tersisa. Apakah tiga tahun, dua tahun, satu tahun, satu bulan, satu minggu atau besok adalah waktu terakhir saya. Terkadang itulah yang memenuhi pikiran saya jika saya sedang berkendara dengan motor saya.

Entah kenapa, saya merasa waktu saya tidak banyak tersisa. Entah kenapa. Jangan tanya saya karena sayapun tidak tahu jawabannya.

2 thoughts on “Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s