Negeri Matahari Terbit

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

12 Maret 2009

Pukul 6 dan saya melihat matahari Jepang yang pertama. Adakah yang berbeda dengan di Indonesia? Yah, tidak ada bedanya sih, hanya saja suasana dan aromanya berbeda (hingga saat ini saya masih mengingat dengan baik harum ruangan dan udara di negara itu). Saya menyantap sarapan, kali ini roti dengan selai coklat yang dibeli di supermarket tadi malam, sambil ditemani televisi yang menyiarkan mengenai kasus seorang wanita Jepang (atau korea) yang katanya adalah mata-mata Jepang untuk Korea Utara. Waktu hubungan Jepang dan Korea Utara memang sedang memanas. Ini saya lihat dari berita-berita yang saya lihat di televisi. Mereka menyiarkan berita mengenai rencana Korut yang akan menguji coba rudal mereka dan mereka mengarahkannya ke Jepang.

Cukup berbicara tentang politik, saya terus terang tidak begitu suka hehe.

Keberuntungan yang pertama

Perjalanan saya selanjutnya terasa lebih ringan karena tidak ada lagi koper berat yang mengikuti kami. Sebelum pergi pagi ini, dia sudah pergi ke supermarket dekat penginapan untuk mengirim koper saya ke Morioka.

Dia tentu saja senang, setelah semalam saya meledeknya akan menjadi Hercules karena mengangkat koper saya naik turun tangga.

Pagi ini kami ke Asakusa dan dia berjanji akan memperlihatkan Ameyokocho di waktu pagi. Kami pergi naik kendaraan yang sebenarnya sangat tidak dianjurkan jika bepergian ke Jepang: Taksi. Naik taksi untuk berkeliling kota manapun adalah pilihan terakhir, jika tidak terpaksa. Ini bias dimaklumi karena argo taksi dimulai dengan angka 710 yen (sekitar Rp71000). Namun harga tiap taksi bervariasi. Namun karena harus mengejar waktu dan tidak ada kendaraan lain, maka taksi adalah pilihan kami. Disinilah keberuntungan pertama saya (kami) dimulai.

Duduk di dalam taksi Jepang, sangat unik. Semua supirnya memakai seragam resmi dan sarung tangan. Di antara kursi supir dan kursi sebelahnya terdaapt nampan kecil. Rupanya itu untuk meletakkan ongkos yang dibayar.

Tidak lama kami sampai di tujuan. Ketika akan mengeluarkan uang, sang supir sudah mengucapkan “Arigatou Gozaimasu” kemudian saya melihat uang 1000 yen di nampan itu dan saya pikir oh sudah dibayar olehnya. Namun ketika keluar dia tiba-tiba berbisik “Nanti aku ganti uangnya”. Eh?o_O;

Ketika di luar sambil berjalan ke arah kuil yang dimaksud, saya bertanya “lho uang apa ya?”. Mendengar ini gentian dia yang bingung “lho, tadi bukannya kamu yang taro uanng 1000 yen buat bayar taksi?”. Lalu saya menjelaskan bahwa ketika mau membayar uang itu sudah ada di situ, saya kira dia yang meletakkannya. Lalu dia mengira justru saya yang meletakkan uang itu. kemudian pikiran kami berdua sampai pada satu kesimpulan: itu uang penumpang sebelum kami dan sang supir tidak tahu atau mungkin lupa. Kami berdua tertawa. Lucky! ♥ begitu katanya.😀

Asakusa dan Sensou-ji

Akhirnya kami sampai di kuil Sensou-ji di Asakusa. Kuil ini sangat ramai. Padahal hari ini hari Kamis, dan bukan hari libur (kalau di Indonesia). Baru jam 08.22 pagi ketika foto ini diambil, tetapi ramai sekali.

Di depan pintu gerbang Sensou-ji

Di dalam komplek ini terdapat dua kuil kuil yaitu Asakusa yang merupakan kuil Buddha dan Sensou-ji yaitu kuil Shinto. Di depan kuil tersebut berjejer berbagai macam toko yang menjual pernak pernik kuil dan MAKANAN! (^^)/

Makanan yang menggiurkan bukan?

pernak pernik di Asakusa

Menggiurkan!

Saya akhirnya sampai di kuil ini. Ada berbagai patung di sini. Salah satunya sangat unik karena wajahnya tersenyum aneh.

Patung menyeringai

Kami memutari komplek kuil dan berhenti di sebuah toko kue. Kalau di Indonesia saya yakin kue ini adalah kue cubit. Hanya saja di sini di dalamnya diisi oleh pasta kacang merah yang manis. Enak dan lumayan untuk ganjal perut.

Kue apa ya ini?

Saya kemudian bertemu dengan serombongan anak-anak SD yang mengumpulkan teman internasional. (Tulisannya bisa dibaca disini). Saya menyempatkan memotret pohon sakura yang masih gundul. Hehehe

Dari Asakusa kami naik kereta ke Ameyokocho. Saya menyempatkan memotret sebuah Omikoshi yang dipajang di terowongan menuju ke stasiun kereta bawah tanah.

Omikoshi di terowongan tanah

Tulisan selanjutnya: Ameyokocho dan Kawasaki City.

2 thoughts on “Negeri Matahari Terbit

  1. menyenangkan… lihatlah betapa makanan” itu begitu menggiurkan! yang pertama itu, kirain buku, gak taunya makanan ya? hihihi…

  2. Ahhhh, Sensoji🙂 Kuil di Jepang yang pertama kali aku kunjungi…Pas ke ke Jepang lagi gak pernah sempat ngunjungin Sensoji lagi, padahal pilih penginapannya selalu dekat Sensoji🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s