Akhirnya: Morioka!

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

13 Maret 2009

Pukul setengah tujuh malam kami sampai di Morioka. Malam ini kami akan menginap di rumah neneknya. Dia berusaha menelpon neneknya untuk mengabarkan kedatangan kami. Namun sepertinya nenek sedang pergi keluar dan kami harus menunggu dia kembali ke rumah. Karena sudah lewat makan malam dan tidak mau merepotkan nenek, kami pergi makan sushi di stasiun. Sushi yang berputar! Waa, saya belum pernah makan yang seperti ini *ndeso banget deh* (^^;).

Awalnya saya meremehkan. Ah cuma piring kecil-kecil begini mah, sanggup makan banyak! *belagu*. Mencapai piring ke-6, perut saya sudah penuh. Dia masih terus mengambil piring-piring yang berwarna warni tersebut. Tiap warna memiliki harga yang berbeda.

Stasiun Morioka, tempat favorit saya hehe

Kenyang makan, kami berkeliling stasiun. Menyenangkan lho! Hehe. Stasiun Morioka ini sangat besar. Di lantai bawahnya ada departemen store Fessan dan di basement ada berbagai macam toko yang menjual kue-kue dan oleh-oleh. Di Jepang, hampir di setiap stasiun ada pusat souvenir. Biasanya menjual makanan atau benda-benda khas dari kota atau daerah tersebut. Stasiun Morioka adalah stasiun favorit saya.

Saya mengusulkan untuk membeli sesuatu untuk nenek. Dia mengatakan itu adalah ide yang bagus karena kita akan merepotkan nenek malam ini maka kalau tidak ‘menyogok’ nenek, katanya saya tidak akan diijinkan menginap. Saya langsung pucat pasi, kemudian dia mengatakan bahwa dia hanya bercanda sambil mentertawakan tampang saya.

“Obaachan wa ii hito da yo (nenek orang yang baik kok)” katanya.

Evil Doctor’s lab

Dari stasiun kami naik taksi ke arah Rumah Sakit Yuuai tempat dia bekerja paruh waktu. Dia mau mengambil mobil, karena besok kami berencana turun ke Hachinohe dengan mobil. Dari Yuuai, kami meluncur ke kampus Iwate Medical School. Katanya ada sesuatu yang mau diambil dari lab. Kampus yang selama ini hanya saya pandangi dari foto-foto yang dikirimkannya, sekarang ada di depan mata saya.

Bulan Maret, salju masih ada walaupun tidak setebal bulan Desember. Saya sempat menyentuh salju yang teronggok di depan pintu kampus. Kampus ini sangat tua dan sepi. Lab-nya ada di lantai lima. Saya dipersilahkan masuk ke dalam karena tidak ada profesor malam ini. Saya masih ingat rasanya ketika berada di tempat yang hanya bisa saya pandangi lewat webcam selama ini. Rasanya tidak percaya bisa berada di sini.

Saya kemudian diperkenalkan pada temannya. Seorang mahasiswa asing dari Tanzania, bernama Dennis Russa. Orangnya sangat baik dan dia tampak terkejut melihat saya di situ. “I heard a lot about you”  katanya sambil cengar-cengir melihat ke arah nano nano chan.

Dennis lulus dan diwisuda tanggal 11 Maret, tepat pada saat saya datang. Dennis mengatakan dia akan kembali ke Tanzania pada tanggal 29 besok setelah empat tahun di sini. Dari pertemuan ini saya bisa katakan, Dennis orang yang baik dan saya suka dengannya. Setelah berbincang-bincang dengannya, saya kemudian kembali ke ruang tunggu, sementara Dennis kembali ‘nge-lab’.

Di ruang tunggu ada begitu banyak file. Salah satunya file penelitian miliknya. Di papan pengumuman saya membaca bahwa akan ada farewell party untuk Dennis. Ada foto para anggota lab itu di situ. Hangat sekali.

Microwave& Taka chan

Tidak lama kemudian kami meninggalkan kampus untukmeluncur menuju rumah salah satu temannya. Katanya temannya akan memberikan microwave secara cuma-cuma katanya agar saya bisa membuatkan lasagna untuknya.

Hati saya berdebar karena ini adalah teman Jepang-nya. Kalau dengan Dennis, saya bisa berbicara dengan bahasa Inggris. Tapi yang ini orang jepang, bagaimana kalau dia tidak suka dengan saya? Bagaimana kalau saya dianggap teroris? Saya sedikit was-was.

Hujan rintik mengguyur kota ini ketika kami sampai di apartemen tempat temannya ini. Dingin sekali. Heater di dalam mobil pun tidak mampu menghilangkan kebekuan di tangan saya. Setelah memarkir mobil, seorang pria tambun membawa payung menyambut kami keluar dari mobil dan tampak terkejut melihat saya. Tapi kemudian dia tersenyum pada saya.

Di dalam lebih hangat. Saya dipersilahkan masuk. Taka chan, begitu dia diperkenalkan pada saya. Seorang dokter bius untuk gigi di rumah sakit yang sama tempat Nano nano chan bekerja di Hachinohe. Taka chan orangnya sangat lucu. Dia berkata bahwa ketika kecil pernah tinggal di Bali bersama orang tuanya. Dia selalu berusaha berbicara dengan bahasa Inggris. Saya tidak tega melihat dia harus mengerutkan dahi untuk sebuah kata dalam bahasa Inggris.

Saya dijamu dengan ocha dan senbei. Bahkan ketika hendak mohon diri, Taka chan memberikan beberapa bungkus senbei untuk saya. Senang sekali. Saya sangat lega karena sejauh ini saya bertemu dengan orang-orang yang baik. Setelah Dennis, saya suka Taka chan. Teman saya yang pertama di Jepang.

Obaachan

Kami sampai di rumah nenek, malam sekali. Sekitar pukul 12 malam. Nenek menyambut saya dengan senyum. Lagi-lagi, orang yang hanya saya dengar-dengar selama ini ada di hadapan saya. Beliau mempersilahkan kami masuk dan memberi tahu bahwa koper saya sudah sampai.

Saya memberikan kue yang tadi kami beri. Kami duduk dan berbincang sebentar dengan beliau di dapur. Tempat ini sangat hangat, nyaman dan menyenangkan. Saya masih kaku berbicara dengan beliau di dapur, sementara Nano nano chan menyiapkan kamar saya di atas.

Tidak lama nenek kemudian minta diri untuk tidur. Saya pun ditunjukkan kamar tempat saya tidur. Hore, futon! Persis seperti Nobita!

Ada heater di sebelah kanan dekat kepala. Cukup hangat. Sebelum tidur saya sholat isya terlebih dahulu dan berganti baju (dipinjami baju tidur). Dia meletakkan handphone di dekat kepala saya, dan menyetel alarm untuk sholat tahajud. dia memberi tahu bahwa kamar mandi ada di bawah jika saya mau wudhu. Dia juga mengatakan, kamarnya ada di sebelah, jadi kalau perlu apa-apa tinggal ketok saja. “Oyasumi” katanya menutup serangkaian kegiatan kami seharian itu.

Saya hanya terdiam memandangi ruangan tempat saya berada di bawah futon. Masih tidak percaya saya berada di sini. Bunyi hujan menjadi lagu nina bobo. Suasana sunyi senyap dan tidak butuh waktu lama untuk untuk saya untuk terlelap dan berkelana di alam mimpi malam itu.

Next: White Day!

NB:

Tidak sempat berfoto bersama nenek karena baterai saya habis ^^;

One thought on “Akhirnya: Morioka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s