White Day

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

14 Maret 2009

Selamat pagi Morioka! Saya tidak terbangun untuk tahajud😦. Terlalu lelah sepertinya bahkan suara alarm pun tidak terdengar. Setelah sholat subuh, saya kembali tidur dan bangun ketika matahari sudah tinggi.

Sudah hampir pukul 12 siang! Oh, tidak! Saya merasa tidak enak pada nenek. Saya turun untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Nenek memanggil saya untuk makan siang bersama. Saya tidak berani makan banyak, karena takut tidak habis dan rasanya tidak sopan jika tidak menghabiskan makanan.

Nenek bertanya banyak tentang saya. Indonesia itu di sebelah mana dan ada apa saja. Nano nano chan menjadi translator kami berdua. Saya kemudian mengeluarkan hadiah yang saya bawa untuk nenek, sebuah kain batik dan sandal.

Setelah makan, saya diajak ke ruang keluarga. Nenek menunjukkan sebuah ruang luas dengan sebuah altar. Rumah nenek merupakan tipe rumah tradisional Jepang pada umumnya. Ruang keluarga itu menggunakan tatami. Di dinding ruang keluarga terdapat berbagai foto para anggota keluarga Ishikita (akhirnya disebut juga). Ada foto kakak, adik dan kedua orang tua nano nano chan, juga foto kakek yang sedang di rawat di panti jompo. Nenek di Morioka ini adalah nenek dari pihak ibu-nya Nano nano chan.

Sekitar pukul tiga, saya dan Nano nano chan  naik ke atas untuk bersantai. Dia memperlihatkan koleksi The Beatles-nya. Dan bercerita banyak tentang mereka. Sisa waktu kami habiskan dengan menonton film dan mendengarkan musik. Pukul 6 kami turun untuk makan malam. Nenek kemudian terburu-buru keluar untuk mengunjungi kakek, hanya sebentar katanya. Sebenarnya kami berencana berangkat ke Hachinohe sore ini, namun nenek terburu-buru dan kami tidak sempat mengatakan bahwa kami akan pergi. Akhirnya kami harus menunggu sampai beliau kembali.

Nano nano chan mengeluh sakit di tenggorokan. Saya membiarkannya beristirahat sambil menunggu nenek. Saya kembali ke kamar saya dan menerawang ke langit-langit ruangan. Sambil memejamkan mata, pikiran saya terusik oleh satu hal.

Ketika di Tokyo, Nano nano chan sempat berkata, apa yang saya inginkan untuk white day? Yap, hari ini tanggal 14 Maret. Tepat sebulan setelah valentine. Dan di Jepang ada kebiasaan untuk seorang anak laki-laki yang mendapatkan kado valentine untuk memberikan balasan kepada anak wanita yang memberikan kado kepadanya. Valentine di Jepang biasanya dijadikan sebagai momen yang tepat untuk membuat pengakuan cinta kepada orang yang disukai.

Saya tidak menjawab pertanyaan Nano nano chan itu. Saya pikir saya tidak perlu kado apapun. Selain saya tidak merayakan valentine, saya sudah mendapatkan kado yang paling berharga yaitu menghabiskan waktu bersama dia ♥.

Tertunda

Bunyi gemeretak kayu membangunkan saya. Oh, saya terlelap ternyata. Di luar sana, terdengar angin bergemuruh. Saya melihat jam menunjukkan pukul 8 malam. Nano nano chan menghampiri saya, memberitahu bahwa nenek sudah pulang tetapi kami tidak mungkin berangkat ke Hachinohe malam ini. Badai akan turun dan terlalu berbahaya untuk melakukan perjalanan malam. Akhirnya kami menginap satu malam lagi di rumah nenek.

Oh well…

Next: Winter Wonderland!

NB:

Maaf, hari ini lagi-lagi tidak mengambil foto ^^;

4 thoughts on “White Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s