Negeri Kappa


Saya tidak tahu nama asli ataupun alasan kenapa dia dipanggil Kappa san. Jelas dia tidak berwarna hijau, tidak botak, tidak bersisik dan tidak memiliki tempurung di punggungnya (Kappa adalah sejenis jin atau lelembut di Jepang, hidupnya menyendiri di danau). Nano nano chan pun tidak tahu mengapa temannya itu dipanggil Kappa san.

Namun rumah Kappa san ada jauh di bukit, jauh dari kota. Terpencil di suatu tempat di Hachinohe. Saya tidak tahu pasti dimana karena ketika berangkat dan pulang, jalanan sangat sepi dan gelap. Yah, inilah Negeri Kappa.

Rumah Kappa san berupa pondok kayu dengan halaman luas tanpa pagar. Bel ditekan dan seorang gadis kecil membukakan pintu untuk kami. Kaya chan, 4 tahun, gadis kecil yang tidak bisa diam dan berhenti mengoceh, lucu sekali. Kaya adalah anak kedua dari Kappa san dan istrinya Naomi san. Mereka sangat ramah dan welcome kepada saya, seorang yang asing.

Kappa san adalah pemilik sebuah kedai minuman di tengah kota. Namanya Bon Hachinohe. Dia dan Naomi bercerita tentang pengalaman mereka ke Bali beberapa tahun yang lalu. Berbicara dengan Kappa san sangat menyenangkan karena dia tahu banyak tentang Indonesia. Dia tahu makanan Padang dan cara penyajiannya yang unik. Dia bahkan pernah membuat sate ayam, namun di dalam rumah. Nano nano chan menimpali bahwa ketika Kappa membakar sate, semua teman-temannya langsung keluar rumah karena banyak sekali asap. Saya tertawa mendengarnya.

Dango

Naomi menjamu saya dengan dango.  Ternyata ada bermacam-macam cara memasak dango. Ada yang direbus sampai matang kemudian dicelupkan ke dalam shoyu dan langsung dimakan. Ada pula yang dicelupkan ke dalam shoyu dulu kemudian dibakar, seperti yang dihidangkan oleh Naomi. Rasanya? Asin!

Saya tidak sempat mengambil foto dango-nya Naomi san jadi saya ambil dari om google saja. Seperti inilah dango bakar.

Shoyunya jadi lengket seperti karamel tapi rasanya asin, menempel di gigi.

Satu lagi teman si dango, yang rasanya cukup aneh yaitu teh rumput laut. Rasanya seperti nori yang dilarutkan. Meski rasanya aneh tetapi segar sekali lho. Empat hari pertama di Jepang, lidah saya masih belum terbiasa dengan makanan di sini, kecuali sushi.

Malam sudah larut ketika kami mohon diri. Kappa meminta kami untuk datang ke Bon Hachinohe besok malam dan Nano nano chan berjanji akan datang.

Capek, kedinginan, saya butuh tidur sekarang!

Next: Air mata, dan Jodoh

2 thoughts on “Negeri Kappa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s