Road to Hachinohe

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

15 Maret 2009

Perjalanan menuju Hachinohe, di prefektur Aomori lumayan jauh. Dua jam menyetir dengan keadaan jalan sepi senyap. Berkali-kali saya terbangun, namun belum sampai juga. Sampai akhirnya, kami sampai di pinggiran kota ini.

Kami menyempatkan berhenti di supermarket, katanya dia butuh sesuatu. Namun ternyata yang dicari tidak ada di situ. Maka kami masuk ke dalam kota untuk mencari ke departemen store yang lebih besar. Dan inilah Hachinohe!

Pusat kota Hachinohe

Ceramah Makan Siang

Sebelum ke departemen store, kami menyempatkan untuk makan siang di restoran yang dia sebut sebagai “fast food”, Gyuudon.

Bayangan tentang restoran “fast food” yang lekat dengan imej junk food akan hilang seketika ketika duduk dan memesan makanan di restoran ini. Dari yang saya lihat, maksudnya “fast food” di sini adalah benar-benar cepat. Pelayan sangat cekatan dalam menghidangkan pesanan. Saya terkagum-kagum (bahkan nano nano chan pun  juga) dengan cara mereka mengambil dan membawakan dua bahkan tiga gelas ocha untuk kami, para pelanggan. Hebat sekali!

Pesanan kami sudah datang. Kali pertama makan gyuudon dan langsung jatuh cinta pada menu ini. Namun porsinya sangat besar, dan kebiasaan buruk saya mulai timbul, menyisakan makanan. Melihat hal ini Nano nano chan berkata

“Wita, kamu harus menghabiskan makanan, sebagai tanda terima kasih pada Tuhan (baca: dewa). Aku pernah denger bahwa tiap butir nasi dihuni oleh satu dewa. Oleh karena itu, kita harus menunjukkan rasa hormat dengan cara menghabiskan makanan”

Hooh, baiklah, baiklah. Jadi diomelin deh!

Selesai makan kami kemudian berhenti di Cino, sebuah departemen store yang cukup besar di jantung kota. Dia sempat berkata “Rasanya aneh, melihatmu ada di sini, di jalanan di Hachinohe, rasanya nggak percaya, kaya mimpi”.

Huuuh, jangankan kamu, saya pun masih nggak percaya kalau saya sudah menapakkan kaki di Hachinohe, kota tercintamu ini!, batin saya geli.

Kazu

Keluar dari Chino, saya diajak ke sebuah toko kecil, bisa dibilang ini adalah butik kecil. Toko ini adalah milik salah satu temannya. Namanya Kazu dan dia sangat…kakkooii hhehehe. Kazu sangat kaget ketika saya memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Jepang (padahal cuma tau “hajimemashite” doang hahah)

Butik milik Kazu dihuni oleh berbagai kolek si baju, kebanyakan untuk laki-laki beserta aksesorisnya. Barang-barangnya bagus-bagus dan MAHAL hehhe😀. Kazu menawarkan untuk makan malam suatu hari bersama di akhir pembicaraan. Nano nano chan setuju untuk memberi kabar jika memang ada waktu. Kami pun mohon diri.

Sampai di luar, saya mengatakan bahwa Kazu mirip sekali dengan salah seorang teman saya di Jakarta. Nano nano chan kemudian menceritakan sedikit tentang Kazu, bahwa butik tersebut merupakan usaha yang dikelola bersama istrinya. Waks, udah ada yang punya, nggak jadi deh! (dasar! hehe)

Terus terang, hari ini badan saya seperti mau copot semua, tapi kami atau tepatnya dia, sudah janji pada temannya malam ini. Nggak bisa leyeh-leyeh barang sebentar, saya merasa selalu terburu-buru. Mungkin ini yang disebut sebagai “Time is Money”, dan saya akhirnya menjadi saksi betapa tepat waktu-nya orang Jepang itu.

Berikutnya: Negeri Kappa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s