Dinner@Asuka

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

1 6 Maret 2009

Saya mohon diri dari Asuka pukul 4 sore. Saya kembali berjalan tanpa arah. Perasaan hangat itu, menghilang ketika saya melangkah keluar dari pintu Asuka. Saya tidak tahu harus kemana lagi. Saya mendengar nada panggilan dari telepon selular yang dipinjamkan nano nano chan pada saya, karena hp saya sama sekali tidak bisa digunakan. Itu dia! Tapi saya tidak mau bicara dengannya. Lima panggilan tidak saya jawab. Semua dari dia.

Saya menyempatkan diri melihat seorang gadis remaja yang bernyanyi di pinggir jalan. Saya berkeliling tanpa arah, saya berusaha menyesatkan diri,namun kota ini terlalu kecil. Tidak perlu takut tersesat. Saya sudah hapal jalan-jalan besarnya. Pukul 6 saya pulang untuk sholat magrib untuk menenangkan hati. Pukul 6 lebih sedikit saya keluar lagi. Saya tidak menghiraukan lagi anjuran agar tidak keluar lebih dari jam 6.

Malam di Taman Miyagi

Saya kembali ke Miyagi Koen, melihat Hachinohe dari kejauhan, angin dingin berhembus. Tidak ada siapapun di taman ini kecuali saya.

Saya berpikir dan berpikir. Ayolah wita, kamu sudah sampai sejauh ini, masa mau pulang begitu saja? Jangan rusak liburan ini, kata hati kecil saya. saya menarik nafas panjang dan memutuskan untuk mengesampingkan semua ini. Saya harus bersenang-senang, saya sudah sampai sejauh ini. Apapun yang terjadi saya harus selalu tersenyum di hadapannya. HARUS!

Telepon genggam berbunyi kembali. Nano nano chan lg, kali ini saya angkat. Saya minta maaf karena tidak mengangkat telepon darinya. Saya tidak mendengar dan sekarang sedikit menyesatkan diri tersesat. Alasan banget. Dia terdengar sedikit khawatir ketika tahu saya masih di luar. Dia meminta saya menunggu di depan city hall dan akan menjemput di sana.

Saya menunggu di bangku taman dan menunggu dalam diam. Saya memperhatikan seorang anak muda yang sedang berlatih free style bike. Melihatnya selalu terjatuh, ingin rasanya meneriakkan “GANBATTEE!!”. Menyemangati orang lain ketika sedih, saya pikir paling tidak bisa mengobati rasa luka saya.

Face to Face

Akhirnya dia datang. Saya mengingatkan diri untuk tersenyum. Pintu mobil dibuka dan kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah “kamu sudah makan?”. Dijawab “belum”. Saya langsung masuk dan memasang seat belt. “aku mau tunjukkin sesuatu, pokoknya kita ke depan Hon Hachinohe, kita akan makan di situ”. Dia masih terbengong-bengong.

Di perjalanan singkat, saya menceritakan pertemuan saya dengan mama Nishiki. Dia bilang tahu tentang tempat itu tapi belum pernah makan di situ. Tidak lama kami pun sampai. Saya segera menelpon mama, mengatakan bahwa kami sudah sampai.

Nano nano chan sempat berkata “wita, aku belum ambil uang, apa iya cukup?” katanya sambil menghitung jumlah koin di dompet hitam kecil jelek miliknya itu. saya mengatakan jangan khawatir dan kemudian menyeret tangannya. Dia tampak kebingungan😀.

Pintu dibuka dan mama menyambut kami. Saya memperkenalkan nano nano chan pada mereka. Kami dipersilahkan duduk di depan kitchen. Restoran ini memang berkonsep open kitchen sehingga pengunjung dapat melihat langsung chef-nya beraksi di depan mereka.

Perut kami berdua sudah keroncongan. Dan malam mini kami sangat sangat beruntung karena kami diberi chicken steak & chiken karage secara CUMA CUMA alias GRATIS!. “Kan, saya sudah janji sama wita, mau mentraktir” kata mama pada nano nano chan yang senyum-senyum pada saya. “Apa aku bilang, nggak usah khawatir kan?” kata saya padanya. Maka, keluarlah kata-kata favoritnya itu “yokatta ne wita chan!”

Makanan kami akhirnya datang. Waw!o_O; Yang membuat saya terkaget-kaget adalah ukuran porsinya: BANYAK! Bahkan kami pun harus berbagi karena buaanyak sekali porsinya. Dan rasanya….ENAAAK!😀

Nano nao chan lagi-lagi menjadi penerjemah bagi kami. Entah kenapa kalau ada dia, saya menjadi “manja”, tidak mau memakai bahasa Jepang karena tahu kalau dia mengerti bahasa Inggris. Tapi kalau dengan orang lain yag tidak mengerti bahasa Inggris, saya mau tidak mau jadi terdorong untuk menggunakan bahasa Jepang saya.

Malam itu sangat menyenangkan karena mama dan papa Tatezaki adalah teman Jepang pertama yang saya dapatkan (bukan dikenalkan oleh nano nano chan) hehehe. Dan tentu saja dia senang karena dia jadi nambah lagi temannya.

“Yokatta ne, wita chan!” ugh, kata ini akhirnya terlontar lagi😀.

Pukul 10 kami mohon diri karena masih ada janji untuk pergi ke tempat Kappa. Suasana hati sudah lumayan “adem” meski saya sesekali menghindari kontak mata dengannya.

ごちそうさまでした! (gochisousama deshita=thanks for the food)

m(_ _)m

Next: Bon Hachinohe

One thought on “Dinner@Asuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s