Bon Hachinohe

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

17 Maret 2009

Di kamus, Bon (盆) itu artinya nampan atau baki. Saya tidak tahu apakah nama Bon di sini, punya artinya yang sama. Yang jelas Bon milik Kappa san ini ditulis dengan romaji. Ya, inilah izakaya (kedai minum) yang saya sebut-sebut sebelumnya. Masih lanjutan dari hari kemarin sebenarnya.

Kami sampai di depan pintu Bon, tempatnya tidak begitu besar. Namun ketika dibuka, wah di dalam penuh dengan orang. Semua orang melihat saya (karena saya lah yang berdiri paling depan) baru ke belakang saya yaitu si Nano nano chan. Semua kebingungan. Kappa san yang berdiri di belakang counter langsung menyapa dan menyuruh saya masuk.

Sebagian besar orang-orang di situ adalah teman-teman nano nano chan. Saya dikenalkan satu per satu. Lalu kami mengambil tempat duduk di depan counter. Kappa san bertanya saya mau minum apa. Saya jawab “apa saja asalkan bukan bir atau sake”, akhirnya saya diberi segelas Chai Tea. Kalau boleh berkomentar ini rasanya seperti teh tarik, tetapi lebih berempah. Nano nano chan berkata bahwa malam ini sangat tidak biasa, karena tumben semuanya kumpul di sini. Biasanya sangat jarang sekali.

Saya kemudian dikenalkan dengan seorang cewek yang duduk di sebelahnya. Namanya Bebe. Dia ini lucu sekali. Masih 22 tahun dan bekerja sebagai kaigofukushi atau elder caretaker, perawat untuk orang jompo. Wah kebetulan sekali, saya juga sedang mencari tentang pekerjaan tersebut (waktu itu).

Bebe bilang bahwa pekerjaan itu sangat berat. Tidak terlalu menarik kok, begitu katanya. Bebe ini juga sangat kreatif dan suka membuat pernak-pernik seperti gelang, gantungan handphone, dan lainnya. Dia sangat suka musik etnik seperti jimbe. Pokoknya dia mengingatkan saya pada orang-orang hippie pada tahun 60 & 70 an.

Entah apa yang menarik dari saya, tapi kemudian bebe memberikan sebuah gelang buatannya pada saya. Bebe tentu saja tidak mengerti bahasa inggris, jadi lagi-lagi mau tidak mau, saya menggunakan bahasa Jepang darurat saya. Untung saya selalu di dampingi translator handal saya😀.

Satu lagi orang yang selalu tersenyum adalah Sako. Dia lumayan dekat dengan Nano nano chan. Sako adalah pelayan di izakaya ini, untuk malam hari saja. Rupanya Bon hanyalah pekerjaan sampingan saja. Sehari-hari dia adalah seorang home interior.

Malam itu, saya, seorang asing yang baru lima hari menginjakkan kaki di negeri asing ini, bisa tertawa dan bernyanyi bersama orang-orang yang baru saya kenal. Tidak bisa dipercaya. Nano nano chan hanya memandangi saya, katanya, “Kok bisa?”

“Lho kenapa?” tanya saya.

“Iya, kok bisa cepet berbaur sama teman-temanku. Kalau orang lain mungkin nggak akan bisa”

Saya tidak menjawab, karena saya juga tidak tahu mengapa saya bisa tertawa-tawa bersama mereka. Padahal kami, dari segi bahasa, tidak saling mengerti. Yang pasti malam itu saya tertawa sepuasnya, tertawa dari dalam hati. Untuk menyembunyikan  kepedihan dan kesedihan di dalam hati. Saya harus tersenyum. Harus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s