Kucing Laut di Kabushima

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

17 Maret 2009

Tujuan kami selanjutnya adalah Kabushima. Di sini saya bertemu buanyaaaaakkk sekali Umineko yang jika diartikan secara harfiah adalah kucing laut. Ada alasan tersendiri kenapa mereka disebut kucing laut (umi = laut, neko = kucing) walaupun mereka benar-benar dari spesies yang berbeda yaitu burung. Yah, kita di Indonesia, lebih mengenal si umineko ini dengan sebutan Burung Camar.

Umineko adalah seekor burung namun mereka mengeluarkan suara mirip “nya nya nya” seperti kucing (orang Jepang menggambarkan suara kucing dengan ‘nya nya’ bukan miauw atau meong). Makanya mereka disebut umineko. Ada ada aja~

Kami berjalan menaiki anak tangga menuju ke Kuil Kabushima di atas pulau. Bebe sangat takut pada umineko, jadi terpaksa jalan menempel dan bergerak pelan-pelan. Kuil ini penuh dengan kotoran umineko.

Bebe mengajak saya  untuk melempar koin dan membunyikan lonceng di depan kuil. Tentu saja hanya untuk iseng hahah.

Kemudian kami mengambil omikuji (ramalan) dan membacanya. Kata orang jika jelek maka harus diikatkan pada pohon setempat, katanya untuk menolak bala. Tapi tampaknya kami berdua mendapat omikuji yang sama (di dalamnya bacaannya sama persis) hihihihi.

Ada yang bisa membacakan peruntungan saya? ^^;

Lumayan bagus, dalam hal cinta katanya akan ada sesuatu yang membahagiakan. Kami sama-sama tertawa. Ketika turun, bebe membeli kripik di kios makanan. Sebenarnya ada takoyaki, tapi berhubung sudah kenyang, maka saya urungkan niat membeli makanan kesukaan saya itu.

Ada satu hal menarik ketika Bebe membuka bungkus kripik itu. Ketika bunyi ‘Krekk’ terdengar, tiba-tiba semua umineko mengerubungi Bebe. Ia menjerit-jerit ketakutan, saya meneriakkan “Nigete (lari)!” keripik tersebar di jalan dan makin banyak umineko datang berkerumun. Bebe lari ke dalam mobil, sedangkan saya yang tidak sempat lari, berlindung di kotak telepon yang jaraknya lumayan jauh dari mobil.

Setelah keripiknya habis, para umineko itu tidak segera pergi. Mereka malah diam di tempat seperti menunggu kami untuk keluar dari perlindungan masing-masing. Saya perlahan membuka pintu kotak telepon tersebut dan berlari ke arah bebe. Sudah aman? Belum! Ketika saya melihat ke arah syal saya, oh no! Ada kotoran umineko di situ. Bebe langsung menyarankan untuk ke toilet. Masih dengan takut-takut melihat keluar. Umineko itu masih menunggu di sana. Kami pun jalan perlahan-lahan.

Sampai di kamar mandi, saya mencuci syal saya. Hu uh bikin kerjaan saja. Bebe terus bertanya “apakah tidak apa-apa? Bisa hilang tidak ya?”. Saya bilang tidak apa-apa, sudah hilang dan tidak berbau. Haaah lumayanlah kenang-kenangan dari Kabushima: umineko’s poop XD~

2 thoughts on “Kucing Laut di Kabushima

    • sempet ngeri liat tuh umineko, nggragas hahaha si bebe ini mukanya tembem tp kurus perutnya dia, mungkin bnran ky swing manager lw itu kali ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s