Gembel di bangku taman

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

18 Maret 2009

Gembel? Di Jepang? Masa iya ada? Ada lho! Gembel itu saya! Heheh Hari ini saya kembali ke Morioka karena Nano nano chan kerja part time di RS. Akhirnya saya bisa melihat kota ini seutuhnya. Hari ini tidak pakai mobil, tapi pakai shinkansen dari Hachinohe.

Dari stasiun berjalan kaki ke arah Chuo-dori.  Melewati toko yang menjual berbagai macam topeng yang aneh-aneh bentuknya. Kami juga membeli Bakudanyaki  (bom bakar) yaitu takoyaki sebesar kepalan tangan. Saya tidak mengambil gambarnya jadi ini saya ambil dari website perusahaan makanan itu.

Kami berpisah di depan kuil Sakurayama. Dia janji akan menjemput saya jam 5 sore di tempat yang sama. Dia juga mengingatkan bahwa nanti malam akan ada farewell party untuk Dennis, temannya yang sudah disebut-sebut disini. Sayangnya, ini hanya untuk anggota, jadi dia tidak bisa mengajak saya. Setelah memanggil taksi, dia segera menghilang di balik tikungan.

Saya yang berbekal peta kota ini (ambil di bagian informasi di stasiun) memutuskan untuk berkeliling sendiri. Pertama yang paling dekat yaitu Iwate Park. Taman ini sangat besaaar dan luas. Namun karena belum masuk musim semi, pepohonan di taman itu masih ‘botak’.

Seperti taman Miyagi, karena letaknya sangat tinggi, dari taman ini bisa melihat kota Morioka dari atas. Saya lelah berkeliling dan udara semakin dingin. Saya akhirnya mencari tempat untuk menghangatkan diri yaitu mall. Saya masuk ke salah satu departemen store di kota ini, namanya Kawatoku. Yang sangat saya sukai dari sebuah departemen store di Jepang adalah basement. Alasannya? Di basement adalah food court. Ada berbagai toko yang menjual berbagai makanan. Bentuknya lucu-lucu. Saya suka berkeliling di lantai ini. Buanyaaak sekali makanan.

Puas melihat makanan, saya harus keluar lagi. Departmen store ini tidak begitu besar, tidak seperti mall-mall di Indonesia. Akhirnya terpaksa keluar dari ruangan yang hangat tersebut. Di luar, saya membeli dua kaleng teh dan kopi dari vending machine. Masing-masing kaleng saya taruh di dalam saku jaket sebelah kanan dan kiri. Yap, kedua kaleng minuman itu saya beli bukan untuk minum, tetapi untuk menghangatkan tangan.

Saya tidak tahu harus kemana dan saya sangat ngantuuuuuuk sekali. Rasanya ingin menjatuhkan diri dan tidur. Baru kali ini saya merasakan kantuk yang tidak tertahankan, padahal saya di luar ruangan. Sangat tidak biasa.

Saya duduk di sebuah gazebo kosong. Angin bertiup lumayan kencang, dingin. Kaleng-kaleng di kiri dan kanan saya sudah mulai dingin. Saya membuka satu, wah kopi pahit. Apakah membantu menghilangkan kantuk? TIDAK sama sekali. Duduk dengan pikiran kosong, saya pun…tertidur.

15 menit kemudian terbangun kaget. Kaget oleh pikiran bahwa orang akan mengira saya ini gembel yang tidak punya tempat tinggal. Saya pikir sudah tidur lama sekali. Tidak ada orang di sekeliling saya. Taman itu sepi sekali. Lumayan segar. Saya kemudian berjalan memutari taman ini. Menyebrangi Nakatsugawa. Oh iya, saya sempat ‘parno’ karena ketika memutari sungai ini, ada laki-laki yang mengikuti. Saya sempat panik karena di jalan itu hanya ada saya dan dia. Untung dia berbelok. Huff! Dasar penakut!

Saya kemudian menyebrang ke sisi yang satunya yang di dekat taman. Duduk di salah satu bangku  di pinggir sungai. Banyak orang yang lalu lalang di situ, kebanyakan anak muda. Saya tidak khawatir lagi karena banyak orang. Perut saya mulai keroncongan. Jam sudah menunjukkan pukul empat ketika telepon genggam di saku saya berdering. Oh nano nano chan, dia menanyakan saya ada dimana. Rupanya dia selesai lebih cepat dan akan menjemput saya 10 menit lagi di tempat awal, Kuil Sakurayama.

Saya dengan setengah berlari menaiki taman Iwate (dan juga menuruninya) karena 10 menit tidak akan mungkin bisa sampai di kuil itu jika mengikuti arah datang tadi. Jadi saya memotong tengah-tengah taman yang artinya menanjak kemudian menuruninya.

Ngos-ngosan sampai di depan kuil. Belum ada orang. Saya duduk lagi di bangku di depan kuil sekitar 5 menit kemudian baru muncul si nano nano. Saya cerita kemana saja saya seharian ini. Dia bilang masih ada waktu dua jam sebelum jam 6 (farewell party untuk Dennis, dimulai jam 6). Dia kemudian mengajak saya ke city hall karena katanya ada satu tempat di gedung itu dimana kota Morioka bisa kelihatan seluruhnya dengan latar Gunung Iwate.

Sayang sungguh sayang, ketika sampai di city hall, pintu untuk ke balkon ditutup. Dia kekeuh mau menunjukkan gunung Iwate, kami naik turun lantai mencoba semua pintu. Namun semua tertutup. Yah apa boleh buat.

Kami kemudian menuju kantin pegawai di lantai dasar. Sudah sepi, tadinya ragu mau masuk karena jam makan siang sudah lewat. Tapi ternyata mereka masih melayani. Saya makan soba dingin yang dicelup dengan shoyu.

Sebenarnya saya pernah mencoba menu yang sama di Tokyo Tower, tapi saya tidak punya pilihan lain. Sampai-sampai dia heran, “Soba lagi?”

Sambil menunggu saya makan, dia membaca komik. Di piring kecil ada wasabi. Ketika terakhir makan soba dia mengatakan bahwa wasabi harus dimasukkan semua ke dalam shoyu. Okelah, kalau begitu. Masukkan wasabi dan aduk-aduk shoyunya. Celupkan soba ke dalam mulut dan $#@&! MENYENGAT.

Sial! Kemarin karashi, sekarang wasabi. Sambil berlinang air mata, saya makan terus. Harus habis, harus habis, begitu pikiran saya. Sipir yang sedang membaca komik di depan saya ini, tidak tahu bahwa saya sudah berlinang air  mata menahan  rasa menyengat dari shoyu rasa wasabi. Soba-nya masih ada seperempat Ketika akhirnya ia menurunkan komiknya, barulah dia bertanya “Kamu kenapa?”.

“Aku kan ngikutin apa yang kamu bilang, masukkin semua wasabi ke soyu, sekarang ini pedas banget”.

“Masa sih? Sini coba” katanya sambil mengambil alih sumpit.

“Ah sou da, karai” katanya, “nggak habis? Ya udah sini” lanjutnya.

Begitulah, kalau saya tidak habis makan, selalu ada dia yang menghabiskan sisanya. Sudah jam setengah 6 sore ketika kami keluar dari city hall. Dia mengatakan sebaiknya dia pergi ke kampus sekarang. Farewell Party untuk Dennis diadakan di lab mereka. Maka kami pun berpisah di perempatan jalan.

Saya memutar otak. Oke, sampai jam 10 malam nanti, apa yang harus saya lakukan? Dia menyuruh saya ke manga cafe atau internet cafe. Tapi saya pikir toh percuma saya tidak begitu mengerti kanji. Saya kembali mengitari Chuo-dori. Pemandangan di jalan ini saat malam hari sangat menakjubkan. Tampak sangat hidup.

Saya menemukan Eigakan-dori (jalan bioskop), di jalan ini banyak ditemukan cinema-cinema kecil. Aha! Lebih baik saya nonton film saja, di dalam bioskop pasti hangat, paling tidak saya bisa tidur di dalam. Begitulah ide saya. Tapi apa mau dikata, sampai di atas, film yang akan saya tonton, sudah mulai satu jam yang lalu. Mau maksa beli tiket, sayang uangnya (1 kali nonton di sini 1000 yen, sekitar Rp100.000an).

Kecewa. Akhirnya kembali berkeliling. Kaki saya mulai sakit. Rupanya sepatu yang diberikan nenek terlalu kecil 1 ukuran. Saya baru sadar. Saya kembali masuk ke Kawatoku dengan niat menghangatkan badan. Namun saya membaca pengumuman bahwa mereka hanya buka hingga jam 8 malam saja. Wah, ingin nangis rasanya. Dimana saya harus menghangatkan badan?

Sambil memutar otak, saya membeli dango isi kacang merah yang didiskon karena sudah malam. Aha! Stasiun! Ada ruang tunggu di sana yang hangat. Dan kita boleh menunggu ataupun tidur di tempat itu. Oke, saya langsung bergegas berjalan menuju stasiun dan menghabiskan waktu hingga jam 10 di sana. Ah hangat!

Karena sudah malam, maka malam ini kami bermalam di rumah nenek (lagi).

Next:  3 Indonesians in One Day!

2 thoughts on “Gembel di bangku taman

  1. hei tul,,untung bukan polisi yg ngikutin kyk di roponggi,,hahhaah!

    jiaaa dia masukin semua tu wasabi,,nyahahahha

  2. Pingback: Bakudanyaki: Memanggang Bom! « Doppelganger is here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s