Orang Spesial

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

19 Maret 2009

Kami bertiga sudah hampir sampai stasiun ketika HP di kantong saya berbunyi. Nano nano chan. Dia sudah keluar kampus dan akan menunggu di Chuo-dori. Saya sebenarnya masih ingin bersama teman-teman baru saya. Tapi saya harus kembali karena nano nano chan membawa orang spesial yang juga sudah saya tunggu-tunggu. Saya sudah mendapatkan nomor telepon dan kotak dari Mas Sonny dan Kiki. Kami pun berpisah di depan stasiun.

Saya sampai di depan Mr. Donut ketika seseorang memanggil nama saya. Nano nano muncul bersama seorang pria botak yang langsung kenali sebagai Suma san. Sahabat baiknya dari semester satu. Nama aslinya sebenarnya adalah Masu, tetapi ternyata orang Jepang juga suka membalik-balik nama. Untuk bercanda saja.

Kami makan siang di Hamanoi. Seperti biasa, Nano nano chan-lah yang memesankan makanan untuk saya. Makan siang saya adalah Kaisen Don (Seafood Bowl) semangkuk besar nasi hangat dengan potongan nori, daging ikan segar dengan mayonaise, telur ikan dan telur ayam mentah di atasnya. Telur setengah matang saja saya nggak doyan, apalagi telur mentah. Huekk! Tapi berhubung perut lapar, kali ini saya bisa menghabiskan menu itu. Ternyata  rasanya…enaaaaak banget!! Nano nano chan sampai terkagum-kagum😀.

Suma san adalah seorang dokter syaraf. Dia bekerja di emergency room di rumah sakit kampus. Mereka sudah saling mengenal sejak tahun pertama, begitu yang selama ini diceritakan pada saya. Suma san orangnya sangat halus, kalau ngomong lembuut sekali. Singkat kata Alim! (nggak kaya yang satu ini ni)

Hari rupanya Suma akan ke Hokkaido mengunjungi teman. Karena kami juga harus sampai di Hachinohe jam 3, akhirnya setelah makan siang, kami bergegas menuju stasiun. Suma harus naik bis ke bandara, dan kami harus mengejar kereta ke Hachinohe. Tempo hari, mama mengundang kami untuk datang ke tempat latihan shamisen untuk menyaksikan mereka berlatih. Mama ternyata adalah seorang penyanyi lagu tradisional Jepang dan Papa adalah seorang pemain Shakuhachi. Mereka mempunyai grup kesenian yang sudah pentas di kompetisi-kompetisi nasional.

Sore ini kami diundang untuk datang melihat mereka berlatih. Oh oh, saya tidak punya alasan untuk tetap tinggal di Morioka. Padahal tadinya saya sudah bilang kalau saya mau bertemu dengan teman-teman baru saya, tapi karena sudah ada janji dengan mama dan papa, jadi harus datang.

Kami sampai di stasiun dan mengantarkan Suma kun sampai naik ke bis. Setelah itu, kami bergegas masuk ke dalam stasiun, mengejar kereta ke Hachinohe. Di perjalanan kami sempat membicarakan tentang perjalanan ke Hokkaido. Sedang ada promosi liburan. Hmm…

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s