Saudara Sebangsa

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

19 Maret 2009

Pagi ini saya masih di Morioka dan baru sadar bahwa syal saya tertinggal di City Hall. Bukan barang mahal sih tapi syal itu setia menemani saya kemanapun, mulai dari meninggalkan Jakarta sampai kemarin. Jadi, sedikit ada yang kurang jika benda itu tidak berada bersama saya hari ini. Nano nano chan berjanji akan menelpon pihak City Hall untuk menanyakan apakah benar syal itu tertinggal di sana.

Pagi ini Nano nano chan harus kembali ke lab, jadi kami berangkat pagi-pagi. Nenek kemudian menawarkan untuk mengantar kami, naik mobile lho! Hihihi rasanya seperti anak sekolahan saja, diantar oleh nenek.

Saya tidak ingat berapa usia nenek, (kepala 7 kalau tidak salah) tapi beliau masih lihai berkendara, dan kalian tahu lagu apa yang mengiringi kami selama perjalanan yang singkat itu? Kylie Minogue! Wah nenek gaul!😀

Kami turun tepat di depan kampus. Setelah mengucapkan terima kasih pada nenek kami menyebrangi jalan dan masuk ke dalam gedung.

Kampus ini sudah sangat tua dan menempel dengan rumah sakit universitas. Seram juga sebenarnya. Kadang saya nggak habis pikir kalau dia bisa betah nge-lab sampai jam 2 pagi, sendirian. Hiiiiy! Saya benci rumah sakit dan juga yg berbau kedokteran. Ah emang dasarnya aja penakut hihihi

Sebenarnya saya tidak mau masuk ke dalam kampus, tapi semalam nano nano chan berkata bahwa Dennis punya kenalan orang Indonesia di lantai 4. Soerang mahasiswa kedokteran juga, sudah tiga tahun di sini, tapi nano nano chan tidak pernah tahu (lhaa piye tho mas?).

Karena dia ada rapat dengan profesor, maka dia meminta Dennis untuk mengantar saya. Kami turun ke lantai 4 dan Dennis mengetuk ruangan lab di depan kami. Seorang wanita muda berkacamata keluar menyapa kami. Dennis menjelaskan pada wanita itu bahwa saya juga orang Indonesia. Namanya Mbak Ivo. Tanpa ba bi bu saya langsung mengajak ngobrol. Akhirnya saya ketemu orang Indonesia!:D Mbak Ivo ini sebelumnya adalah mahasiswa kedokteran UI, berkat beasiswa, beliau bisa lanjut studi di Jepang.

Ketika pertama kali mengobrol sempat terasa aneh karena hampir seminggu ini saya hanya menggunakan bahasa Inggris dan Jepang. Hahahha.

Melihat kami mengobrol, dennis melontarkan komentar yang sangat lucu: “Wow you speak the same language!”

Aduh duh, ya iyalah Dennis, lha wong sama-sama dari Indonesia, masa pake bahasa Jerman?!😀

Tapi, akhirnya kami kembali menggunakan bahasa Inggris karena kasian melihat Dennis tidak mengerti sama sekali apa yang kami bicarakan😀. Tiba-tiba, dari depan saya muncul si nano nano chan. Setelah saling berkenalan, mereka bertiga pun saling membicarakan masalah kelulusan. Ternyata mbak Ivo ini walaupun baru tiga tahun tapi sudah bisa mengajukan sidang kelulusan. Hebaaaatt!

Sayang, kami tidak bisa mengobrol lama karena Mbak Ivo harus kembali bekerja. Saya diberi nomor telepon dan email jika mungkin ingin menghubunginya. “Kalau mau jalan-jalan, hubungin aku aja wit” katanya.

Akhirnya kami berpisah di lantai 4. Mbak Ivo masuk ke dalam lab-nya. Nano nano chan kembali ke lantai 5 dan saya ke lantai dasar. Nano nano chan mengatakan bahwa sepertinya akan lama di lab jadi sambil menunggu, saya disarankan untuk keliling kota (lagi!). Oh baiklah…

Hujan rintik ketika saya keluar gedung. Saya berkali-kali mengusap rintik air yang jatuh di layar telepon selular, sambil mengirim pesan singkat kepada ibu saya. Saya berjalan ke arah Chuo-dori, sambil terus berkutat dengan telepon seluler Jepang yang rumit ini. Saya dipinjami telepon selularnya nano nano chan karena HP saya blass nggak bisa dipakai karena tidak ada jaringan (payah nih T*******L).

Mata saya masih terpusat pada layar telepon seluler itu ketika tiba-tiba saya mendengar sapaan “Assalamualaikum”. Saya langsung mengangkat wajah untuk melihat sang penyapa

Seorang laki-laki memakai topi bersama tiga orang lainnya. Satu laki-laki asia dan dan dua wanita. Saya menjawab salam tersebut. Laki-laki itu kemudian bertanya dalam bahasa Inggris.

“Are you Malaysian or Indonesian?” tanyanya.

“Indonesian” jawab saya.

“Hoo, ya sudah mbak, ikut kita aja. Kita juga dari Indonesia” katanya sambil tertawa.

Waaah, saya tersenyum lebar. Rasa janggal di bibir saya belum hilang ketika mengobrol dengan Mbak Ivo sekitar setengah jam yang lalu, sekarang saya sudah berbicara dengan saudara sebangsa saya di sini, di pinggir jalan di Morioka, Jepang! Kebetulan? No, inilah En! Hehe😀

Laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Sonny dan dia juga memperkenal seorang gadis manis di sebelahnya, Kiki, yang juga orang Indonesia. Sedangkan yang dua lagi, dari China kalau tidak salah (haduh maap, saya tidak ingat).

Mereka  semua adalah mahasiswa/i Hiroshima University. Jauh jauh dari Hiroshima untuk ikut hmm seminar kalau tidak salah di Iwate Prefectural University. Karena mereka baru pertama kali ke Morioka, dan bertanya ada apa saja yang bisa dilihat di sini. Saya ajak putar-putar, hahaha padahal saya juga baru seminggu di Jepang.

Bersama Kiki di depan Kawatoku

Akhirnya saya menceritakan tentang mbak Ivo kepada Mas Sonny, karena kalau soal berkeliling mungkin Mbak Ivo lebih fasih dibanding saya. Saya memberikan nomor telepon mbak Ivo yang langsung dihubungi oleh Mas Sonny. Mereka janjian untuk pergi dan kumpul dengan teman-teman dari Iwate University, besok. Mereka mengajak saya namun saya harus tanya dulu pada nano nano chan.

Dan saya sungguh menyesal tidak bergabung dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s