Atasi Phobia-mu!

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

21 Maret 2009

Sebelumnya sudah saya ceritakan bukan bahwa malam ini kami diundang makan oleh salah satu temannya Nano nanochan? Cerita tentang makan malam ini pernah disinggung sedikit di sini. Saya tentu saja sangat antusias mendengarnya. Tetapi kemudian Nano nano chan terdiam sesaat, tampak khawatir. Saya tanya kenapa dia kemudian menjawab,

“Aku lupa kasih tau, Tokkuri (nama temannya yang mengundang) punya dua anjing besar. Kamu yakin masih mau berangkat ke sana?”

Oh oh, Anjing! Memangnya kenapa dengan anjing? Yah saya phobia dengan anjing. Sejak kecil saya memang takut sama hewan yang satu ini. Tiap kali bertemu muka dengan anjing, saya langsung deg-degan. Jantung berdebar-debar, tangan keringat dingin (persis seperti naik kora-kora) dan saya tidak bisa diam alias gelisah. Nama klinis untuk penyakit ini adalah Cynophobia.

Jika bertemu atau melihat anjing yang jaraknya masih 100 meter, saya memilih untuk menghindar meskipun anjing itu adalah anjing kecil yang lucu. Lucu untuk semua orang tapi tidak bagi saya. Dan Nano nano chan tahu sekali bahwa saya takut anjing.

“Sebesar apa anjingnya?” tanya saya.

“Setinggi ini” katanya sambil meletakkan tangannya setinggi pinggangnya. Oh mati saya! Gede banget!.

“Apa anjingnya nggak tidur di dalam?” tanya saya mulai panik.

“Nggak, mereka tidur di dalam, aku nggak tahu seperti apa apartemen Tokkuri, kalau luas mungkin masih nyaman, tapi kalau sempit, ditambah kita dan dua ekor anjing besar, rasanya nggak akan nyaman” jelasnya.

Saya terdiam. Di satu sisi, saya anggap ini adalah sebuah kehormatan diundang makan oleh temannya, sedangkan di satu sisi saya takut setengah mati dengan anjing. Tempo hari saja, saya tidak mau turun dari mobil ketika kami menjemput salah satu temannya ketika tahu bahwa temannya itu punya anjing besar. Saya terus terang merasa tidak enak. Masa hanya karena saya takut anjing lalu harus batal acara makan malamnya. Konyol banget!

“Kalau kamu nggak mau ke sana ya nggak apa-apa, biar aku telepon Tokkuri dan mengundangnya kemari, ok?” katanya lagi sambil menelpon Tokkuri.

Ternyata temannya ini sudah memasak untuk kami. Wah, saya tambah tidak enak. Ayolaaah wita, hadapi rasa takutmu!! Saya berulang kali mengatakan itu dalam hati. Akhirnya,

“Janji ya, aku jangan ditinggal sendiri?” Tanya saya.

“Nggak akan, tenang aja” jawabnya. “Anjing itu bisa merasakan mana orang baik dan jahat, jadi tenang aja, ok?”.

Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat.

Pink & Leo

Karena Nano nano chan belum pernah berkunjung ke tempat Tokkuri, maka kami janjian di depan supermarket dekat rumahnya. Tokkuri akan menjemput kami. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya dia datang juga. Setelah berkenalan, kami meluncur menuju apartemen Tokkuri.

Kamar Tokkuri ada di lantai tiga. Saya berjalan paling belakang sambil memegangi ujung lengan jaket milik Nano nano chan. Hati saya semakin berdebar-debar. Ketika pintu dibuka, langsung saja salah anjingnya menyambut kami dengan menyalak. Saya sempat menjerit kaget dan menarik Nano nano chan ke depan saya (maksudnya supaya menghalangi anjing itu mendekati saya).

Untung ada Kazuho, pacar Tokkuri, yang menenangkan “among tamu” kami tersebut. Di dalam ada satu lagi anjing menunggu. Si “among tamu” tadi bernama Leo, malam ini dia sangat agresif dan tidak bisa diam. Sama resahnya dengan saya. Sedangkan yang satunya bernama Pink, sangat kalem dan pendiam. Kedua anjing ini berjenis Golden Retriever.

Saya langsung duduk di kursi makan dengan Nano nano chan di sebelah saya. Awas saja kalau sampai dia meninggalkan saya sendirian!

Kontak Pertama

Leo tetap tidak bisa diam. Berjalan ke sana ke mari dengan resah. Huhuhu saya takut dia menerkam saya kapan saja, sedangkan pink sesekali mendatangi saya. Ketika ia mendekat, dengan perlahan dan hati-hati  saya beranikan untuk mengelus kepalanya. Begitu menyentuh kepalanya, tiba-tiba saya bisa merasakan tangan saya menghangat. Darah langsung kembali mengalir ke dalam telapal tangan saya. Rasa deg-degan yang sejak tadi ada, tiba-tiba hilang.

Mengelus-elus Pink, rasanya sama seperti mengelus kucing peliharaan saya. Kami saling bertatapan, dan saya bisa rasakan kalau Pink tidak akan menyakiti saya. Ini adalah kontak fisik yang pertama kali dalam hidup saya dengan seekor anjing. Ternyata tidak menakutkan. Saya tidak lagi merasa gelisah. Perasaan seperti diterima oleh mereka telah memenuhi diri saya malam itu. Seperti yang Nano nano chan bilang: Anjing bisa membedakan mana orang baik dan orang jahat.

Sampai sekarang bisa dikatakan phobia saya terhadap anjing sudah hilang. Dalam dua minggu bisa menghilangkan rasa takut yang selama ini saya idap selama hidup saya. Ini sebuah kemajuan. Jika kita percaya bisa dan punya tekad ternyata tidak ada yang tidak mungkin.

Saya bisa mengatasi rasa takut saya!😀 dan baru tahu, bahwa anjing-anjing ini sangat manis sekali.

Pink, sayang blur😦

2 thoughts on “Atasi Phobia-mu!

  1. Pingback: Hey, Kuro! « Doppelganger is here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s