Lost in Morioka

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

25 Maret 2009

“Blo’on!” adalah kata yang tepat dialamatkan pada saya atas apa yang terjadi hari ini.

Niatnya adalah pergi ke Akita dan Aomori. Berangkat pukul 10.25 dari Hachinohe menuju Morioka. Kalau menurut rencana sih setelah makan siang akan berangkat menuju Akita, prefektur tetangga, masih di  wilayah Tohoku. Namun apa yang terjadi adalah melenceng juaaaauuhh sekali.

Bis dalam kota

Awalnya begini, tadi ketika turun dari stasiun, kami mencoba menggunakan bis dalam kota. Tidak berjalan kaki atau naik taksi. Tarif masing-masing bis sangat bervariasi. Ada yang satu kali bayar untuk kemana saja (tarif flat), dan  ada yang ditentukan dari jarak.

Misalnya saya naik dari halte A, maka pada halte berikutnya misalnya halte B akan tertera harga sekitar 110 yen. Nah, kemudian jika terus ke halte C dan D maka harganya akan berubah (jika dekat biasanya tidak bertambah).

Ketika turun pencet tombol yang ada di salah satu tiang dekat pintu belakang agar supir tahu bahwa kalian akan turun.

Cara membayarnya adalah dengan meletakkan tiket kita tadi dan memasukkan uang (baik kertas atau koin) di kotak  nomor 6 di sebelah kiri supir.

Saya sempat panik, ketika saya tidak punya uang kecil untuk membayar ongkos sekitar 100 yen. Tapi ternyata, bisa  menukar di changing machine di kotak nomor 5 (nggak usah nuker ke supir hehe). Praktis!

Dan yang saya salut adalah supir-supirnya sangat sopan. Mereka tidak akan menjalankan bus sampai penumpang benar-benar duduk di tempatnya atau berpegang pada handrail (jika berdiri).

Ok, cukup tentang gambaran bus di Jepang. Kembali lagi ke cerita hari ini.

Setelah makan siang, kami berpisah di belakang kampus. Katanya  jika ingin kembali ke stasiun cukup naik bus yang sama yang tadi kami naiki, karena dia hanya berputar di dalam kota saja dan akan kembali ke stasiun. Oh baiklah.

Iwate University

Sebenarnya, ada rasa malas jika harus pergi ke Akita hari ini. Jadi, sebelum pergi saya mau putar-putar dalam kota dulu, kalau masih ada waktu baru pergi ke Akita. Maka terbersit oleh saya untuk melihat kampus Iwate University yang menjadi incaran saya.

Sambil memasang telinga dan sesekali melihat ke papan pengumuman, saya berkeliling kota ini. Akhirnya sampai di depan gerbang kampus. Waah, seperti yang saya lihat di website! Besar sekali.

Saya melihat peta kampus ini dan berjalan berkeliling. Gedung Fakultas Humanities and Social Science masih agak terus ke dalam, tetapi saya tertarik dengan lapangan sepak bola di sebelah kanan saya. Salju mulai turun ketika saya mendekat ke dekat lapangan. Ternyata ada team rugby yang sedang latihan (dalam hujan salju!!).
http://www.emocutez.com

Beralih ke gedung fakultas Humanities & Social Science, keadaan kampus saat itu sepi sekali. Udara semakin dingin menggigit. Setelah melihat-lihat papan pengumuman (kebanyakan isinya tentang lowongan part-time untuk mahasiswa), saya memutuskan akan kembali ke tengah kota dan pergi ke Akita.

Saya kembali menunggu bis di halte tempat saya turun tadi dengan mengingat kata-kata nano nano chan: “naiklah bis yang sama”. Saya menunggu 10 menit, tidak ada penampakan dari bis yang dimaksud. Saya melihat sekeliling saya, tidak ada orang sama sekali. Saya kemudian berpikir, apa saya menunggu di halte yang salah. Saya mencoba menyebrang, dan menunggu disana. Tidak ada juga bis yang muncul.
http://www.emocutez.com

Tiba-tiba kemudian saya melihat bis dari arah lain, tapi tidak menuju arah saya. Akhirnya saya mencoba berjalan menuju halte tempat bis tadi lewat dengan pikiran mungkin bisnya lewat situ, bukan lewat sini.

Salju turun semakin deras dan saya tidak melihat satu bis pun. Tangan saya mulai dingin dan kepala mulai basah karena salju yang jatuh. Akhirnya kembali ke seberang halte depan Iwate Daigaku dan masuk ke mini market terdekat dan membeli 2 buah kaleng kopi panas dan beberapa coklat.

Saya kembali menunggu. Kaki pegal, tangan dan muka dingin, menenteng sekantong penuh makanan. Tidak ada orang di sekeliling saya. Saya langsung berpikir, gawat! gimana kalau tidak bisa kembali?
http://www.emocutez.com

Saya sabar menunggu di tempat yang sama. Tidak lama sebuah bis muncul. Harapan saya adalah saya bisa duduk dan menghangatkan diri (di dalam bis cukup hangat). Legaaa…sambil memandang sekeliling saya duduk sambil makan coklat, rumah-rumah padat lama-lama memudar berganti menjadi jarang-jarang dan jalanan kian melebar. Eh, seharusnya kalau kembali ke kota kan perumahannya semakin memadat bukan malah jarang-jarang. Ada yang nggak beres nih!
http://www.emocutez.com

Pemandangan di kiri dan kanan saya sudah berubah menjadi hutan dan pegunungan. Dan di depan saya melihat papa penunjuk arah bahwa Morioka sudah jauh di belakang saya!!!Haaaaa, kok malah menjauh dari Morioka? Bagaimana ini????
http://www.emocutez.com

Saya berusaha untuk tidak panik. Bis ini pasti punya pool terakhir. Saya akan turun disitu saja.

Orang-orang naik dan turun. Rasa-rasanya saya ingin turun disitu dan menyebrangi jalan untuk naik bis ke arah sebaliknya: Morioka! Tapi melihat keadaan sekeliling yang seperti puncak pass, sepi dan tidak ada ruang atau gedung untuk berlindung dari hawa dingin, saya memutuskan bahwa tetap tinggal di bis adalah pilihan yang tepat.

Bis kemudian memasuki perumahan kecil, dan berhenti di sebuah halte. Rupanya itu halte terakhir dan saya benar-benar menjadi penumpang terakhir. Saya maju mendekat ke arah supir dan bertanya apakah bis ini akan ke stasiun Morioka? (pertanyaan yang seharusnya saya tanyakan sebelum saya naik). BLO’ON bangett!
http://www.emocutez.com

Jreng jreng!! Raut muka sang supir langsung panik.  Saya hanya bisa bahasa Jepang ‘darurat’ dan dia tidak mengerti bahasa Inggris. (mati deh! Jadi sama-sama panik!).

Dia menjelaskan (dalam bahasa Jepang) bahwa bis ini tidak ke stasiun, hanya sampai sini. Sang supir bicara dengan sangat cepat, ketika saya memberikan karcis dan uang 1000 yen. Saya hanya mangut-mangut.

Dia, dengan panik, keluar dari bis dan menjelaskan sebuah papan di dekat halte bahwa bis selanjutnya adalah jam 15.21. Saat itu masih jam 14.50, artinya saya harus menunggu sekitar 30 menit lebih untuk bisa kembali ke Morioka.

Supir bus mengembalikan uang saya lebih dari separuhnya (padahal saya rasa ongkosnya adalah 800 yen lebih). Yang saya tangkap, karena saya tersesat maka tidak perlu membayar full, sepertinya dia kasihan dengan saya. Dia menyuruh saya untuk menunggu di halte ini dan jangan pergi kemana-mana. Bisnya akan datang.

Si 15.21 PM

Saya merogoh telepon selular di kantong dengan maksud menghubungi nano nano chan tapi ternyata batere-nya habis. Saya coba menyalakan dan memberi kabar, karena saya tidak tahu saya ada dimana, maka saya ketik nama sebuah sekolah yang berdiri di depan saya. Entah sudah terkirim atau belum yang pasti telepon itu benar-benar mati total.
http://www.emocutez.com

Harapan saya adalah semoga bis itu cepat datang karena semua coklat sudah habis, minuman kalengnya sudah dingin dan saya mulai menggigil karena salju mulai turun dengan deras. Tidak ada mini market di dekat situ. Tidak ada tempat untuk menghangatkan diri. Tidak mungkin saya mengetok rumah-rumah di situ agar saya bisa menunggu dengan nyaman. Ketika sebuah mobil lewat ingin rasanya menyetop dan meminta tumpangan. Haaa, saya tidak cukup berani melakukan itu. Saya mencoba menyalakan hp kembali. Tidak berhasil. Hanya sempat melihat jam sedikit. Sudah jam 15.19, dan belum ada penampakan dari bis yang ditunggu. Saya mulai khawatir, bagaimana kalau ternyata tidak ada bis yang lewat??

Dan apa yang terjadi? Pukul 15.21 bis itu benar-benar muncul!! Saya berkata dalam hati: gilaaa~ tepat waktu sekali. Bis berhenti di depan saya, masih kosong. Pintu terbuka, sang supir menyapa dan kali ini saya bertanya apakah bis ini sampai ke stasiun Morioka? Dan dijawab dengan “iya” dan anggukan dari sang supir. Saya langsung duduk paling depan. Legaaaaa rasanyaa. Bis ini melewati jalan yang sama, namun kali ini saya melihat papan menunjuk arah bahwa kami mendekati Morioka.

Legaaa, kaki cenut2 dan saya menyadari bahwa duduk di kursi paling depan adalah pilihan yang salah, karena setiap pintu terbuka, hawa dingin dari luar ikut masuk. Kaki yang sejak tadi membeku bukannya menghangat malah semakin beku. Nasib Oh Nasib!

http://www.emocutez.com

4 thoughts on “Lost in Morioka

    • edaann re, klo gk pake salju sih gpp, gw cm takut mati beku itu aja hahahha gile yak, bnr2 tepat waktu itu bis, abangnya kgk pake ngetem kaya M24 di pasar Slipi! langsung tancap! hahahhahahaha

  1. Pingback: Berpindah « Doppelganger

  2. Pingback: Lari, lari! « Doppelganger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s