Antik & Gyuudon

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

26 Maret 2009

Siapa yang suka barang antik? Saya! Malam ini kami makan malam di Asuka. Sebelumnya kami sempat pergi ke sebuah toko antik untuk melihat-lihat kimono seken. Seken? Maksudnya bekas? Iya betul. ini adalah satu lagi hal unik yang saya temukan di Jepang: Toko Kimono Bekas. Seperti yang sudah saya tulis di sini.

Satu set kimono baru dan lengkap harganya sangat mahal, bisa sekitar 20.000 yen. Oleh karena itu biasanya orang-orang lebih suka menyewa dari pada membeli, kecuali yang berduit tentunya.

Dan biasanya, orang-orang terutama wanita memakai kimono hanya untuk moment spesial saja. Seperti ketika lulus-lulusan sekolah, perayaan hari menjadi dewasa (seijin shiki), pertemuan keluarga, perjodohan, saat berkabung dan pemakaman dan perkawinan.

Para gadis memakai kimono pada upacara Seijin Shiki

Kalau membicarakan pakaian tradisional Jepang ini, saya bukan ahlinya dan saya tahu pasti akan sangat panjang. Jadi saya hanya akan menulis mengenai apa yang saya tahu saja. Dari neechan Imelda juga saya tahu bahwa kimono tidak bagus untuk orang yang berdada besar. Hmm…kalau dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga karena jika dada “menyembul” jadi kelihatan tidak bagus.

Kimono Seken

Nah, jika ingin membeli kimono yg bagus tidak terlalu mahal, bisa datang ke toko kimono bekas. Ada berbagai macam kimono, baik untuk laki-laki dan wanita.  Kimono – kimono di sini biasanya dihargai mulai dari 3000 yen ke atas. Beberapa malah ada yang seharga 5000 yen dengan kualitas, corak dan kondisi yang masih sangat bagus. Tapi perlu diingat, harga itu hanya untuk satu potong kimono saja, belum termasuk obi dan lan-lain. Biasanya di toko tersebut dijual juga aksesoris seperti obi, geta dan tas kecil.

Selain kimono, ada juga haori dan chanchanko. Biasanya Haori dihargai sekitar 1000 yen. tergantung toko dan lokasinya. Beda daerah, beda harga. Biasanya daerah Utara lebih murah dibanding daerah lain.

Nah, ada satu toko di Hachinohe yang sangat saya sukai. Toko ini merupakan toko barang-barang antik. Kalau boleh membayangkan, toko ini mirip dengan toko BaBe di kawasan RE Martadinata di Bandung.

Ada berbagai macam barang mulai dari hiasan, peralatan makan, minum, piringan hitam dan gramafon sampai lemari antik dan tentu saja haori dan kimono.  Harganya sangat murah. Saya pernah membeli sebuah patung keramik anjing Akita berwarna putih seharga 250 yen. Masih bagus, hanya sedikit berdebu.

Di sini, haori dihargai sejumlah 1000 yen. ada berbagai macam haori. Untuk laki-laki, biasanya warnanya lebih gelap dan motifnya lebih pada garis atau lingkaran. Untuk wanita biasanya warna lebih muda dan cerah.

haori wanita

haori pria

Jika haori adalah luaran atau hanya seperti baju lapis, maka chanchanko adalah seperti jaket. Pakaian ini dipakai pada musim dingin dan hanya dikenakan di dalam rumah. Bentuknya sama seperti haori hanya saja lebih tebal karena  seluruh bagian diisi dengan kapas, seperti futon. Jadi hangat sekali. Ada satu chanchanko di toko ini, bagus memang tetapi besar sekali. Saya sempat berpikir, mungkin pemilik terdahulunya adalah seorang pemain sumo.

chanchanko ini kegedean banget

chanchanko pada umumnya

Saya sangat menyukai barang antik, makanya ketika memasuki toko ini, saya seperti dalam sebuah mesin waktu. Saya betah berlama-lama di dalam toko itu. Jika mengamati sebuah benda disana, kadang saya berpikir seperti apa ya keadaan ketika benda ini masih baru?

Mega Gyuudon

Setelah dari toko antik dan Asuka, kami pergi ke tempat temannya yang memiliki toko peralatan surf dan snow board. Teman kami ini bernama Ken. Sangat hobi dengansnow board, surf dan skateboard. Toko Ken berada di tempat yang tidak biasa, yaitu sebuah warehouse tiga lantai. Di lantai satu dia memiliki sebuah area untuk bermain skateboard! Lantai dua kosong dan tokonya ada di lantai 3. Ken pernah ke Bali, dan sama seperti Kappa, kurang lebih tahu sedikit tentang Indonesia.

tokonya si Ken

Setelah tutup toko, Ken kemudian mengajak kami ke sebuah restoran Gyuudon. Gyuudon adalah salah satu masakan Jepang favorit saya. Setiap kali ditanya mau makan apa, saya pasti akan menjawab “gyuudon!”

Kata Gyuudon terdiri dari “gyuu” (牛=sapi), “don” kependekan dari “donburi” (丼=mangkuk) bisa diartikan sebagai beef bowl. Dalamnya sangat sederhana, hanya berupa nasi yang diatasnya ditutupi (penuh) dengan daging sapi yang ditumis dengan potongan bawang bombay.

Restoran gyuudon ini adalah yang paling saya suka. Namanya Sukiya. Murah dan enak. Sudah hampir pukul 1 malam ketika kami keluar untuk makan. Sebenarnya masih kenyang, tapi karena menghormati ajakan Ken, maka kami memilih menu yang tidak biasa yaitu mega gyuudon seharga 800 yen dengan miso sup. Tentu saja tidak dimakan sendiri tapi berdua.  Kami sangat penasaran dengan porsi paling besar di restoran ini dan ternyata cukup mengejutkan! Lihat saja perbandingannya dengan ukuran regulernya. Kalau setiap hari makan dengan porsi seperti ini, benar-benar bisa jadi pesumo, deh!

2 thoughts on “Antik & Gyuudon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s