Osaka: Surga Makanan

Note: Postingan berikut akan dibuat berseri. Menceritakan perjalanan saya ke Jepang tepat setahun yang lalu. Untuk membacanya, harap set tanggalan anda, mundur ke tahun 2009. Hehehe.

Akhirnya Osaka!!

Dan inilah akhirnya! Kami sampai di OSAKA!! Hore!! Sudah jam 11 siang dan kami harus mencari rumah temannya itu, Yamamoto Take. Dan nano nano chan bilang bahwa rumah Take san itu seperti Kappa san. Terpencil di kaki gunung, jauh dari keramaian.

Kolam pemancingan di sebelah rumahnya Take san

Setelah berputar dan beberapa kali menelpon, sekitar pukul 12 siang kami akhirnya sampai di rumah keluarga Yamamoto ini. Dan benar saja, rumahnya khas rumah penduduk di pegunungan. Terbuat dari kayu yang di kirinya adalah hutan dan aliran sungai. Rumah ini bersebelahan dengan kolam pemancingan ikan. Ada lumayan banyak orang yang datang untuk memancing hari itu.

Bersama keluarga Yamamoto

Kami disambut dengan Take san dan istrinya Sakiko. Mereka punya dua anak perempuan yang sangat manis, Ren chan dan Niko, dan seekor kucing bernama Bon. Heheh akhirnya saya bertemu dengan kucing Jepang.

Bon yang manis dan jutek😀

Saki san pernah ke Bali dan suka sekali traveling. Ada juga hiasan kepala barong di dapur. Take san bahkan punya beberapa kaset Jegog Bali. Namun suami-istri ini sangat menyukai Nepal. Ada banyak foto, postcard yang dikirim dari Nepal.

Take san langsung menawarkan akan mengantar kami keliling Osaka. Wah saya tentu saja semangat. Osaka sebenarnya tidak ada dalam agenda kami, tetapi saya memang ingin sekali ke kota ini. Ditanya mau kemana, tentu saja saya menjawab: DOTONBORI!😀

“Lho, wita, kamu tahu dari mana tentang Dotonbori?” tanya Take yang diterjemahkan oleh Nano nano chan. Saya menjelaskan bahwa sebelum berangkat saya sempat membaca majalah travel yang memuat tentang Osaka. Di situ mereka menyebutkan tentang Dotonburi yang terkenal dengan surga takoyaki dan okonomiyaki-nya.

Osaka paling terkenal dengan takoyakinya. Saya sangat tahu hal ini karena takoyaki adalah makanan favorit saya. Mengetahui hal itu, Take mengajak kami mampir ke sebuah kedai Takoyaki yang katanya paling enak se-Osaka.

Takoyaki aseli Osaka hehe

Bukan di Dotonbori, melainkan kedai kecil di sebelah Pachinko, tidak jauh dari rumahnya si Take. Pemiliknya sangat ramah dan suka bercanda. Oiya, selain dialek dan bahasa jepang mereka yang aneh, ini katanya adalah ciri khas orang Osaka: suka bercanda.

Si bapak penjual takoyaki yang suka bercanda

Setelah turun gunung, saya, nano nano chan, Take dan Ren chan sampai di tengah kota. Osaka memang berbeda dengan kota-kota lain. Kota ini lebih hidup. Penduduk kotanya pun lebih ekspresif dalam berbusana. Tidak seperti Tokyo yang saya juluki kota monokromatik karena sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah warna hitam, putih dan abu-abu saja.

Pachinko

Pusat kota Osaka

Gedung pertunjukan teater Kabuki Osaka Namba

Katanya sih salah satu restoran tua di Osaka

Hayo, siapa yang ngefans sama Masaharu Fukuyama? Angkat tangan! *angkat tangan sendiri* ^^;

Dotonbori

Akhirnya ketemu juga sama si Kani ini

Ketika kami sampai di Dotonbori, aroma khas takoyaki dan okonomiyaki tercium di setiap sudut area ini. Sangat ramai. Mungkin karena ini hari Sabtu, jadi banyak orang yang “mejeng” di luar rumah.

Dotonburi

Dari Dotonbori, kami pergi ke sisi lain dari area ini dan menemukan ikon Osaka yang lainnya yaitu Glicco man (gurikkoman). Udara sangat dingin dan waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat. Bangunan di sekitar Ebisu Bridge ini mulai memancarkan kecantikannya. Papan iklan mulai menyala kontras dan saya mulai kelaparan lagi. Hehe..

Ebisu Bridge

Cantik

Glicco Man!

Kami berjalan kembali ke arah Dotonbori. Tangan saya tidak lepas dari genggaman tangan Ren chan. Gadis kecil berusia 8 tahun ini terlihat senang dengan kehadiran saya. kami seperti dua orang sahabat. Satu hal yang membuat kami klop adalah sama-sama suka ARASHI! Hehe

Waktunya makan daan menu malam ini adalah Custom Okonomiyaki! Okonomiyaki adalah makanan khas Jepang, bentuknya seperti puyunghai dengan toping yang bermacam-macam. Beberapa orang menyebutnya Japanese Pizza. Kami memesan okonomiyaki sesuai selera, memasak sendiri dan tambahkan katsuoboshi dan bumbu semaunya. What a treat! Dan rasanya wuenaakk sekali!

Okonomiyaki

Setelah makan dan meninggalkan Dotonbori, kami mampir ke sebuah Izakaya (kedai minum) milik teman Take san, dan lihat apa yang saya temukan!

Aneh rasanya menemukan benda ini di sebuah Izakaya

Namanya saja kedai minuman keras, tentu saja mereka menyuguhkan minuman alkohol, tetapi saya dan Ren chan, cukup merayakan pertemuan kami dengan jus jeruk saja!;)

4 thoughts on “Osaka: Surga Makanan

  1. Pingback: Bakudanyaki: Memanggang Bom! « Doppelganger is here

  2. Pingback: Hey, Kuro! « Doppelganger is here

  3. Salam kenal, sampai kemari setelah googling makanan di Osaka. Untuk takoyaki yang katanya uenak itu lokasi tepatnya di daerah mana mba? commuter train station terdekatnya apa?
    Terimakasih.

    • Kalo pusat makanan, coba aja ke daerah dotonburi di Namba. Di situ ada banyak takoyaki. Kalau takoyaki yang saya sebut di atas, saya nggak tau pastinya karena ini bukan di tengah kota tapi agak minggir Osaka, saya lupa nama daerahnya. Karena waktu itu saya cuma satu hari di Osaka dan naik mobil keliling kota jadi saya kurang tahu untuk comuter line daerah Osaka.

      Terima kasih sudah mampir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s