Mendaki Gunung Demi Zenkouji

2 April 2009

nagano-wita

Cukup!!

Ya, itulah kata-kata yang terngiang di dalam kepala dan dada saya ketika yang dicari tidak juga terlihat. Hmm…cari apa sih? Kuil Zenkouji adalah tujuan saya ketika memutuskan untuk pergi ke Nagano Banyak cerita saya dengar tentang kuil ini. Oiya, sebelumnya untuk informasi, di Jepang ada dua jenis kuil yaitu Otera (お寺) dan Jinja (神社). Dua-duanya sama-sama kuil, tetapi Otera adalah kuil Buddha dan Jinja adalah kuil untuk agama Shinto. Zenkouji (善光寺) masuk ke dalam kategori Otera.

Saya tiba di Nagano pukul 12.51 siang (waktu Jepang). Begitu keluar, langsung saya bentangkan peta kota ini dan saya pelajari. Zenkouji hanya berjarak 10 menit dari stasiun, begitu tertulis. Saya hanya berbekal kamera dan peta. Kamera ini saya fungsikan sebagai “remah roti”. Lho, maksudnya?

Begini, berhubung saya pergi sendiri dan kemampuan membaca kanji saya terbatas, maka saya mengambil foto beberapa landmark dan plang penunjuk arah, tujuannya jika nanti tersesat, tinggal mengikuti foto ini secara berurutan, atau jika tidak bertanya dalam bahasa Jepang, tinggal tunjukkan saja foto tersebut pada orang lewat.

Jadi, seperti dalam cerita Hans & Gretel yang menaburkan remah roti sebagai penunjuk arah pulang ketika mereka dibawa masuk ke dalam hutan oleh ibu tiri mereka yang jahat. hehe😀

Saya berjalan melawan udara dingin (padahal matahari sangat terik). Belok sana, belok sini, mata saya terfokus pada penunjuk jalan yang mengatakan bahwa kuil yang saya cari terletak 300 meter lagi. Tetapi, saya tidak melihat keramaian sama sekali. Kawasan ini seperti kota-kota yang pernah saya singgahi sebelumnya, sangat sepi manusia. Saya sudah lelah berjalan, jam hampir menunjukkan pukul 2 siang dan saya belum juga menemukan Zenkouji!

Bukan apa-apa, tetapi saya berkejaran dengan waktu. Ini yang saya rasakan ketika bepergian di Jepang, semua harus diperhitungkan karena kereta di Jepang selalu tepat waktu. Dan hari ini saya harus naik kereta pukul 15.49 dari Nagano  ke Omiya dan mengejar Hayate pukul 17.22 dari Omiya dengan perhitungan saya akan tiba di Hachinohe pukul 20.05.

Stress berat karena tahu bahwa saya tidak punya banyak waktu  akan sangat sempit sekali. Ingin rasanya saya putar badan ke arah stasiun dan pulang saja. Tetapi, hati nurani kembali menyemangati agar tidak menyerah. Ayoo, sudah sampai sini masak mau balik lagi?

Akhirnya saya niatkan untuk terus mendaki jalan menuju Zenkouji (benar-benar kuil di atas gunung). Dengan ngos-ngosan dan kaki mau copot, akhirnya saya melihat komplek kuil ini. Tetapi ada yang aneh, kenapa sepi sekali? Tidak terlihat keramaian ataupun toko-toko souvenir dan transportasi. Padahal kuil ini kan terkenal sekali, pikir saya.

Setelah memberanikan diri masuk ke dalam komplek, akhirnya saya melihat taman Zen yang sunyi dan damai. Seketika penat saya hilang saat tahu bahwa perjuangan saya tidak sia-sia. Saya berjalan untuk masuk lebih dalam ke dalam komplek (yang ternyata justru bagian depannya) dan bertemu manusia dan banyak manusia lagi. Ternyata saya masuk dari bagian belakang kuil. Peta dan penunjuk jalan yang saya ikuti ternyata membawa saya memutar ke belakang kuil. Oalaaaahh…inilah kedodolan saya yang kesekian kali di Jepang hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s