Si Pandir dan Terpal Putih

Si Pandir menyibakkan terpal putih bergaris itu. Suara riuh di dalam terpal terdengar bergema di dalam kepalanya. Terus bergema seakan tidak akan pernah berhenti selamanya.

Pandir duduk termenung di dalam kandang singa yang kosong. Penghuninya sudah dipindahkan seminggu yang lalu, entah kemana. Sambil memutar-mutarkan topi bergaris putih kuning, Pandir bertopang dagu. Mulutnya berlawanan arah dengan lukisan bibir merah besarnya yang sumringah. Dia terlihat sangat menyedihkan. Bahkan duduk di dalam peraduan Sang Raja Hutan pun tidak menolongnya untuk terlihat sedikit lebih keren.

“Lakon yang menakjubkan…berat…namun menakjubkan” desahnya.

“Hei Pandir! Apa yang kau lakukan di sini? Pertunjukanmu tadi sangat hebat, sobat!” seorang lelaki jangkung dengan sedikit rambut berwana pink di kepalanya muncul dari balik terpal.

Si Pandir tidak beringsut sedikitpun untuk melihat siapa yang datang. Tidak penting lagi, pikirnya.

“Hei, ada apa sobat?” nada riangnya menjadi terdengar pelan.

“Apa menurutmu, pertunjukan tadi bagus?” tanya Si Pandir ogah-ogahan.

“Ya, kau berhasil membuat mereka semua tertawa. Kau … memang ahlinya! Kau yang terbaik di sini, kau tahu itu, semua orang tahu itu, err… bukan begitu, sobat?,” jawab Si Riang tidak yakin. “Oh, tidak, jangan bilang dia datang lagi?”

“Itu tidak akan memberi perubahan apa-apa. Kau pikir aku bodoh? Ya, aku memang bodoh! Aku berlaku konyol untuk membuat orang lain tertawa. Mereka tertawa karena aku bertingkah konyol. Mereka mentertawakan tingkahku, mimik wajahku, leluconku, semua tentang diriku! Aku berpikir dengan membuat mereka tertawa, aku akan bahagia. Tetapi semua itu hanyalah omong kosong! Aku hanyalah lelucon bagi mereka!”

“Kau lihat apa yang mereka katakan setelah keluar dari terpal itu? Mereka akan berkata seperti ini: ‘Badut itu sungguh konyol’, ‘Berapa dia dibayar untuk bertingkah seperti itu?’, ‘Hahahha benar-benar orang gila dia, terlihat bodoh sekali dia’, atau  ‘Aku tidak percaya ada orang seperti dia hahaha’,  atau ‘Kau lihat itu, itu dia, si konyol yang mengocok perut kita semalaman hahhaha’,”

“Kemanapun aku pergi, mereka hanya tahu aku sebagai badut konyol yang tidak punya kehidupan. Asal mereka tahu, mereka juga terlihat sangat konyol ketika tertawa. Terguling-guling, berlinang air mata, mulut terbuka lebar-lebar, hingga terbatuk-batuk. Seharusnya mereka membawa cermin ketika pertunjukan berlangsung!”

“Lalu sekarang apa masalahmu?,” tanya Si Riang.

“Masalahnya adalah aku suka berada di dalam terpal bersama mereka! Di sana, kita semua terlihat sama. Kita semua terlihat konyol. Tapi kehidupan yang nyata bukanlah di dalam terpal. Ketika pertunjukan habis dan semua orang keluar dari terpal itu, mereka semua kembali pada kehidupan normal mereka. Entah dukun mana yang telah berlaku, tetapi satu yang pasti: mereka semua tidak lagi tampak konyol seperti ketika di dalam terpal. Hanya satu yang aneh, mantra dukun itu tidak mempan padaku karena hanya aku satu-satunya orang yang masih terlihat konyol walaupun sudah di luar terpal,”

“Katakan padaku Riang, jika aku berbuat konyol saat ini, di tempat ini, apakah mereka akan tertawa dengan cara yang sama seperti di dalam terpal?” tanya Pandir memelas.

Keduanya terdiam hening sejenak.

“Tentu saja mereka akan tertawa seperti di dalam terpal. Dan mereka akan terlihat sama konyolnya denganmu kalau saja kau mau menghapus riasan tololmu itu!” jawab Si Riang cepat.

“Ayo berdiri, sebentar lagi fajar menyingsing dan hidupmu yang sebenarnya baru akan bergulir. Ayolaaah, jangan merajuk seperti itu, kita masih banyak pekerjaan hari ini” pinta Si Riang.

Si Riang tersenyum di balik riasan yang tidak lebih baik dari Si Pandir.

“Inilah hidup, Pandir! Tertawakanlah dia sebelum dia menertawakanmu. Itu akan membuatmu jauh lebih baik, percayalah!” ucap Si Riang seraya mengamit lengan Si Pandir dan membawanya keluar dari peraduan Sang Raja Hutan.

2 thoughts on “Si Pandir dan Terpal Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s