Kencan di Ramen Sanpachi

Saya hanya tercenung memandang betapa panjangnya antrian kendaraan di depan saya. Sinar matahari cukup menyengat sore itu. Namun, dua hal yang memang akrab dengan kota ini, tidak menyurutkan niat saya untuk menembus kepungan asap demi tiba di tempat tujuan saya sore ini: Pondok Indah Mall.

Ada apa gerangan di sana? (jangan ditanya isinya karena menurut saya semua mall isinya sama saja!). Alasan saya kai ini adalah untuk bertemu orang yang cukup spesial buat saya. Sayangnya bukan pacar, tetapi dia adalah Whita Kutsuki yang juga akrab saya panggil dengan sebutan Mamik, sahabat maya saya.

Si mamik

Whita ini saya kenal melalui situs jejaring facebook. Perkenalannya cukup unik karena penghubung kami adalah Neechan Imelda. Whita sering berkunjung ke TE dan pernah kopdar dengan Neechan Imelda di Jepang. Whita yang tinggal di Tokyo ini ternyata satu almamater dengan saya tapi beda angkatan dan jurusan. Dia ambil humas, saya ambil jurnalistik tapi masih satu fakultas: komunikasi. Kami cuma berbeda tahun angkatan saja (saya tiga tahun di atas dia) tetapi umur kami sama lho! (nggak mau kelihatan tua hehe).

Bermula dari facebook dan sering ngobrol lewat yahoo messenger, kami menjadi akrab. Bisa dibilang saya yang terikat dengan tempat dan waktu, lebih sering ditemani dengan si mamik ini lewat yahoo messenger. Singkat kata, tiada hari tanpa canda dan tawa dari si mamik.

Tahun ini, tepatnya minggu lalu si mamik ini pulkam ke Indonesia, meninggalkan suami tercintanya sendirian di Tokyo (teganyaaa hehehe). Dan, kami sudah berencana untuk kopdar.

Setelah sukses menembus kepungan asap, akhirnya saya sampai di lantai dua PIM 2. Mata saya mencari sosok yang sebelumnya hanya bisa saya pandangi di album fotonya di facebook. Dan, tidak perlu lama untuk menemukannya, seorang wanita mungil segera melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah saya.

Saya segera berlari ke arahnya dan memeluknya (menubrukkan badan tepatnya). Aih, saya sampai takut mematahkan tulangnya. Duh, mamik, kamu kok kecil sekali sedangkan aku gede begini! hahaha

Saya juga melihat dua kantong plastik besar yang ternyata lumayan buerattt ketika saya mencoba menjinjingnya. Hadeuh, badan sekecil itu, bawa-bawa kantong plastik berat, dari siang, puasa-puasa (nggak tega mbayanginnya).

Isi plastiknya macam-macam termasuk si Neko Bus dari film My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro). Saya memang suka sekali dengan film dari studio ghibli, terutama Totoro, dan bus kucing ini memang karakter favorit saya. Makasih ya mamik!

http://www.emocutez.com

ねこバス (neko bus) dari film My neighbor Totoro (Tonari no Totoro)

Setelah ngemil di food court PIM, kami langsung menuju Ramen Sanpachi di daerah Melawai, Jakarta Selatan. Bayangan semangkuk ramen hangat sudah membayang ketika kami memasuki restoran yang terletak di lantai dua gedung swalayan Kamome ini. Namun ketika membuka buku menu, wew, saya tertarik pada Hiyashicuka Ramen dengan saus goma (wijen), alias ramen dingin dan berlabel biru yang artinya halal.

Ramen Sanpachi

Halal? yes! Ada tiga kategori hidangan di kedai ini. Kategori Non halal diberi lingkaran merah, yang artinya mengandung babi. Kategori pilihan dibeli lingkaran kuning, artinya menu tersebut bisa diganti halal (asal bilang sama pelayannya). Dan, kategori Halal yang diberi lingkaran biru.

Saya lupa si mamik pesan apa (maap! >_<). Yang jelas saya yang memang ndeso karena baru pertama ke sini, sibuk memperhatikan bagian dalam kedai ini yang didominasi dengan warna merah.

Beberapa expat Jepang terlihat di sudut ruangan. Televisi pun menayangkan acara televisi Jepang. Benar-benar ingin membangun suasana layaknya di negara asal mereka. Saya jadi berpikir apakah di luar negeri, restoran-restoran Indonesia juga memutar acara tv Indonesia atau mungkin memutar lagu campur sari? Hmm…

Hidangan saya datang tidak berseling lama dengan hidangan si mamik (maap mik, aku lupa kamu pesan apa hihihi). Bodohnya, saya agak kaget ketika mendapati piring datar dengan taburan sayuran di atas mie. Bayangan semangkuk ramen yang menghiasi otak saya dari pagi, buyar sudah. Hahha bodohnya saya, pesan ramen dingin kok ngarep pake mangkok. Ya sudah dinikmati saja (kalap mode on).

http://www.emocutez.com

Hiyashicuka Ramen

Alhamdulillah, makan malamnya sangat nikmat (yaiyalaah, namanya juga gratis!). Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu muka dengan si mamik.Terima kasih dan syukur yang tak terkira atas nikmat yang telah Kau berikan padaku, Ya Allah.

http://www.emocutez.comSetelah pertemuan ini, saya hanya mampu mengucapkan “Mamik, arigatou ne” namun sepertinya telkomselnya lagi ngambek, jadi smsnya baru sampai ke yang dituju besok paginya. Haduuhhh! ~>_<~

マミック、ありがとうね~

8 thoughts on “Kencan di Ramen Sanpachi

  1. au au au wituuul..mbaca iki mataku mbrebes! huhuhu *berelebihan.
    maap yak mamik ndak bs ksh opo2..
    ayooo kita ayan2 lg..huhuhu tp ojo nggowo backpack,,rak muat..hahaha

    • Hehehe iya nih, kmrn2 lagi buntu. Ramennya enak kok, rasanya otentik banget hehehe makasih ya dah mampir, clara!

  2. Pingback: Bulannya Kopdar « Doppelganger is here

  3. iya aku inget banget mempertemukan kamu dengan Mamik hihihi

    hmmm ramen sanpachi ya…perlu dicoba deh
    kalo aku pasti ngga suka hiyashi chuka
    menurutku ramen itu HARUS berkuah hihihi

    EM

    • Setuju! ramen itu haruslah berkuah dan bermangkok hehe aku juga kaget pas pesenannya dateng “lho kok gk bermangkok & berkuah ya” batinku. baru inget, oiya emg td pesennya itu hahaha bodohnya~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s