Jogja: Asia Tiada Akhir (bagian 3)

Sabtu pagi kami melanjutkan acara melancong ke Borobudur. Kami semua, termasuk si pengantar yang sudah puluhan tahun tinggal di Yogyapun ternyata belum pernah melancong ke Candi Budha terbesar di dunia itu.

Sebelum berangkat, saya mengajak mereka untuk makan soto legendaris (lebay.com) favorit saya. Sebenarnya ini rekomendasi dari ayah saya. Beliau yang merekomendasikan pada saya ketika saya akan tinggal di kota ini 13 tahun yang lalu. Bahkan kalau dulu beliau datang menjenguk saya, malah ketemu soto ini dulu baru nengok saya di rumah bude hehe.

Soto Bu Cip yang terletak di jalan Patangpuluhan ini adalah soto daging bening. Mungkin ada banyak soto-soto lain seperti Soto Pak Marto yang letaknya tidak jauh. Jika dibandingkan dengan jenis soto daging lainnya, letak perbedaannya ada pada kuah dagingnya. Sangat khas Yogya dan tidak berubah dari dulu. Tempatnya pun tidak berubah, tetap sebuah kedai kecil dengan cat kuning di bawah pohon waru.

Harganya? Wah, jangan ngomongin soal harga makanan deh kalau di Yogya. Bawa uang 5 ribu sudah kenyang banget. Kami berlima masing-masing soto daging campu plus goring-gorengan dan teh, bayarnya tidak lebih dari 50ribu rupiah. Semangkok soto hanya Rp6.500 (kalau tidak salah).

Perut kenyang dan kami pun berangkat ke Borobudur. Perjalanan lumayan jauh: 1 jam dengan mobil. Kami sampai di sana sekitar pukul 12 siang (gosong-gosongan dah). Ketika masuk, sempat tercengang juga, betapa megahnya candi ini (dan tingginyaa~).

Saya sampai di stupa yang paling atas. Saya terheran-heran mengapa ada beberapa patung Buddha tanpa kepala. Dan menguping penjelasan tour guide yang ada di dekat kami, ternyata memang ketika ditemukan pertama kali, candi ini rusak berat. Kemudian pemerintah Belanda memugar bangunan candi hingga seperti sekarang.

Beruntung ketika sampai di stupa paling atas, cuaca tidak terlalu menyengat sehingga kami dapat duduk santai. Si Kibo melatih kemampuan fotografinya dengan jepret sana sini. Banyak turis hari itu. termasuk yang satu ini. Saya ambil fotonya karena waktu dia melintas di depan saya, saya langsung mbatin “Waaa, Robert Pattinson!” hihihi

http://www.emocutez.com

3 thoughts on “Jogja: Asia Tiada Akhir (bagian 3)

    • salam silaturahmi. terima kasih sudah berkunjung ke rumah maya saya ini, pak. Selamat Idul Fitri juga. Semoga berkah dan rahmatnya tercurah untuk bapak sekeluarga. amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s