Jogja: Asia Tiada Akhir (Bagian 1)

Tulisan ini adalah hasil perjalanan saya menemani “manten anyar (pengantin baru)” awal Agustus kemarin. Seminggu sebelum puasa, tepatnya tanggal 5, adik saya mengajak pergi ke Yogya. Saya juga sih yang mengusulkan. Maksudnya, supaya mereka bulan madu (honeymoon kok rame2hehe) sekalian nyekar dan memperkenalkan anggota keluarga baru ke keluarga ibu saya yang ada di Yogya karena sebagian besar dari mereka tidak bisa datang ke acara hajatan adik saya.

Adik saya dan suaminya setuju berangkat dengan syarat saya juga harus ikut (ealaahh!). Sebenarnya saya tidak ingin ikut karena selain tiket kereta muahal, saya juga harus kerja hari Minggunya. Kalaupun ikut, itu artinya saya harus pulang hari Sabtunya (7/8) dengan kereta malam.

http://www.emocutez.comAkhirnya saya setuju ikut setelah diiming-imingi bahwa tiket kereta akan di “reimburse” alias diganti hehe. Adik saya beserta suami dan Si Kibo (adik laki-laki saya) berangkat hari Kamis pagi dengan Taksaka, sedangkan saya berangkat Kamis malamnya karena harus ngantor dulu paginya.

http://www.emocutez.com

Pulang kantor saya langsung beberes. Karena hanya akan tidur satu malam saja, maka tidak perlu baju banyak-banyak. Saya hanya membawa satu tas ransel saja (bahagianyaa~). Di tiket tertulis kereta saya berangkat jam 8 malam, tapi prakteknya kereta baru sampai di Stasiun gambir jam 8.45 (capee deehh~).http://www.emocutez.comPerjalanan saya kali ini sedikit berbeda. Saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak yang selalu membicarakan tentang bobroknya pemerintahan. Dan tujuh baris di depan saya, diisi oleh sekelompok turis Jepang.

Saya memberanikan diri bertanya mereka dari mana. Dua orang gadis di depan saya tampak terkejut ketika tahu saya bisa berbahasa Jepang. Kemudian pertanyaan saya itu dijawab dengan penjelasan bahwa mereka dari Tokyo, mereka mahasiwa dari Universitas Keio yang sedang field trip di Indonesia. Mereka baru pertama kali ke Indonesia dan tinggal bersama sensei-nya di Jakarta.

Di depan kursi dua gadis ini, ada seorang pemuda dengan rambut dicat kuning yang tersenyum-senyum melihat saya bercakap-cakap dengan kedua temannya. Tidak lama kereta berjalan, kedua gadis ini bertukar tempat dengan pemuda itu yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yuuki (aih lucunya si Yuuki ini). Saya kagum dengan si Yuuki ini, ketika akan memperkenalkan diri, dia bertanya lebih dulu pada saya dengan bahasa Indonesia “Nama anda siapa?” (sopan banget deeh~).

http://www.emocutez.com

Dari percakapan kami (saya dengan bahasa Jepang darurat saya), saya menangkap bahwa mereka adalah mahasiswa fakultas ekonomi. Ketika saya Tanya mereka ada berapa orang, dijawab si yuuki dengan bahasa Indonesia “Duapuluh tiga” (sambil memperagakan dengan jari tangannya). Waah banyak banget, pantes riweuhh (-_-;) hehe. Sayang, ketika sampai di Yogya saya tidak sempat berfoto dengan si Yuuki ini karena mereka ribet sama bawaan masing-masing.

http://www.emocutez.com

Bersambung ke bagian 2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s