Jogja: Asia Tiada Akhir (bagian 2)

Begitu arti harfiah (versi saya) slogan kota gudeg ini yang diterjemahkan dari slogan aslinya: Jogja, The Never Ending Asia.

Kereta yang terlambat itu akhirnya sampai juga di kota ini.  Tapi, saya bersyukur karena ketika sampai di Stasiun Tugu, matahari sudah naik. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Jumat (8/8). Jika biasanya saya langsung mbecak dari stasiun ke rumah bude saya, kali ini saya memutuskan menikmati malioboro di pagi hari dengan berjalan kaki.

Hah, jalan kaki?

http://www.emocutez.com

Ya, hotel tempat adik-adik saya menginap ada di sekitar Dagen, di belakang Malioboro. Inilah alasan mengapa saya memilih berjalan kaki. Saya mengenal kota ini dengan sangat baik, jadi tidak perlu khawatir tersesat. Lagipula, sudah lama saya tidak pulang.

Malioboro masih lengang dan perut saya mulai kerucukan. Di sepanjang kanan dan kiri jalan, para tukang becak tak henti-hentinya dengan sopan menawarkan untuk mengatar saya mencari penginapan dan buah tangan. Saya kasihan sebenarnya dengan mereka, tetapi saya bukan turis, kok hehe.

Oiya, ada satu info tentang nama kota ini. Penyebutan nama Yogyakarta saat ini sudah berubah menjadi Jogja. Hal ini juga baru saya ketahui ketika mengikuti diskusi forum bahasa media massa di LKBN Antara beberapa waktu lalu. Ternyata nama Jogja dipilih untuk menggantikan nama Yogyakarta untuk alasan pemasaran yang tentunya berkaitan dengan promosi pariwisata kota tersebut. Turis Asing pun akan menjadi lebih mudah dalam menyebut dan mengingatnya. Tapi untuk nama Yogyakarta tetap digunakan dalam bahasa tulisan.

Ok, kembali ke masalah perut.

Perut saya semakin merongrong minta diisi dan saya memutuskan untuk mampir ke Malioboro mall untuk makan di restoran cepat saji 24 jam milik si badut (hehe). Kenapa bukan gudeg? Rencana awalnya memang sarapan gudeg di dalam stasiun. Tapi ternyata, bangunan tempat saya makan gudeg bersama ayah saya dua tahun lalu itu, sudah raib. Tidak tahu pindah kemana, padahal enak banget gudegnya😦.http://www.emocutez.com

Pak becaknya saja masih terkantuk kantuk🙂

Setelah mengisi perut dengan makanan sampah (bodo ah, laper banget soalnya), saya lanjut ke arah penginapan. Banyak penginapan baru di daerah ini. Adik-adik saya menginap di Hotel Blue Safir, antik hotelnya (kalau kata dika, “njawani” banget). Ratenya sekitar 300rb hingga 500rb per malam. Tapi saya kurang suka dan mengusulkan agar pindah ke hotel lain, karena dengan harga segitu, bisa dapat yang lebih bagus walaupun sedikit jauh dari Malioboro.

Setelah bertemu para adik dan menemani mereka sarapan, kami langsung meluncur menuju makam keluarga untuk nyekar ke makam ibu saya di desa Jejeran, Pleret, Bantul. Beruntungnya kami, sepupu kami bersedia mengantar dan menemani selama kami di Yogya. Terima kasih banyak untuk Antony Rahman.

Bertemu sepupu

Sesampai di komplek makam, kami malah bertemu dengan tante dan dua sepupu lainnya. Wah, kebetulan sekali bertemu di sini, padahal rencananya baru dari sini kami akan mengunjungi mereka. Pakde saya pun kebetulan sedang ada di tambak lele yang letaknya tidak jauh dari komplek makam. Akhirnya, kami sama-sama berkumpul dan pakde memimpin doa untuk para kerabat yang sudah mendahului kami. Saya akhirnya bertemu dengan mama lagi setelah sekian lama. Maaf ya ma, wita jarang nengokin mama.

Dari makam kami berkumpul di pendopo di tambak lele milik pakde dan sepupu saya ini. Kolam lele ini awalnya adalah rumah, tapi ikut hancur karena gempa Yogya dulu. Senang rasanya bisa berkumpul dengan saudara-saudara yang sudah lama tidak bertemu.

Bukit Bintang

Dari makam kami berkeliling ke rumah pakde dan bude, memperkenalkan penganten baru. Malam harinya, kami dibawa ke daerah Wonosari untuk makan malam (ehm, ngemil malam). Mas Anton membawa kami ke sebuah restoran yang disebut dengan Bukit Bintang. Tempat ini sangat tinggi dan untuk mencapainya harus melalui jalan berliku mirip jalan menuju puncak pas.

Sampai di sana, saya jadi mengerti mengapa tempat ini diberi nama bukit bintang. Langit terlihat dekat dan dari tempat ini, seluruh kota jogja bisa terlihat dengan jelas. Indah sekali. Beruntung malam itu sangat cerah, bintang bersinar terang, tidak kalah dengan lampu pesawat (lokasinya memang dekat dengan bandara Adi Sucipto) yang lalu lalang menghias langit malam itu.

bersambung ke bagian 3 (banyak yak!) hehe…

http://www.emocutez.com

5 thoughts on “Jogja: Asia Tiada Akhir (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s