Lobak oh lobak

Jika ditanya makanan Jepang apa yang paling saya ingat, maka jawaban saya adalah Lobak atau Daikon. Rebusan (oden) lobak adalah masakan Jepang pertama yang masuk ke dalam perut saya waktu baru menginjakkan kaki di bumi samurai satu tahun lalu. Rasanya? (maap) hambarrr. Dan rasa ini yang membuat saya selalu terkenang akan lobak (nggak mau makan lagi).

http://www.emocutez.com

Oden Daikon biasanya ditemani dengan tahu goreng, konyaku, telur rebus dan fish cake

Dan hari Minggu kemarin saya kembali bertemu dengan si lobak ini. Berawal dari sama-sama ngidam makan sushi, maka saya dan Whita Kutuki eh Kutsuki memutuskan untuk menebus ke-ngidaman (apa sih ini bahasanya?) untuk makan sushi. Saya mengusulkan Sushi Naga, tempat makan sushi favorit saya di daerah Meruya.

Namun, karena Sushi Naga terlalu jauh buat Whita yang rumahnya di Cijantung sana, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pondok Indah Mall. Sampai di tempat yang dituju, kami mendapatkan waiting list nan panjang dan tak terhingga (kalo kata si Whita).

Akhirnya putar sana, putar sini, kami membulatkan tekad untuk makan di Torigami Sushi. Karena belum ada yang pernah makan di sini, awalnya kami ragu. Tapi ketika melihat ada diskon jika memakai credit card, akhirnya kami mantab (saking mantapnya sampai pake “b”) melangkahkan kaki masuk ke restoran ini.

Torigami Sushi

Restoran ini tergolong baru menggantikan restoran sushi sebelumnya, Poke Sushi. Letaknya di lantai 3 PIM 2, dekat dengan food courtnya. Interiornya lumayan bagus. Ada hiasan origami berbentuk bangau yang tergantung di setiap lampunya. Dan restoran ini tersambung dengan Happy Song, tempat karaoke yang MAHAL bangett (menurut saya) di sebelahnya. Daftar menunya lumayan banyak. Ada beberapa jenis masakan yang belum saya temui di tempat lain.

Chutoro

Zaru Soba, pesanan si Whita

Whita memesan Chutoro dan Zaru Soba. Chutoro (kata Whita) adalah daging perut ikan tuna dengan sedikit lemak (adooh lemak lagi). Zaru Soba adalah soba dingin yang cara makannya dicelupkan ke dalam shoyu. Favorit saya juga sih, tapi malam itu saya kepingin makan nasi. Akhirnya pilihan jatuh pada Oyakodon.

Melihat menu ini, saya langsung teringat tentang postingan tentang Oyakodon di TE yaitu makanan orang tua (oya) dan anak (ko). Sedangkan “don” diambil dari kata “donburi” yang artinya semangkuk nasi (rice bowl). Semua makanan yang menggunakan nasi dalam mangkuk disebut donburi.

Di Torigami Sushi, oyakodon bentuknya sangat sederhana. Hanya berupa nasi panas yang disajikan dengan rebusan ayam, bawang bombay, irisan jamur, saus dan disiram dengan telur kocok. Rasanya enak banget dan sangat mengenyangkan.

Penampakannya si Oyakodon

Yang membuat saya bahagia adalah menu oyakodon di restoran ini dilengkapi dengan sup miso dan selada. Satu set lengkap (seperti di Jepang). Side order saya adalah Oshinko Roll. Ini yang membuat saya kecele. Ketika melihat nama dan gambarnya, ingatan saya tertukar dengan Hotate (scallop). Memang hotate itu suangattt enak sekali *ngiler* dan mahal.

http://www.emocutez.com

Sudah berharap-harap cemas, ketika si oshinko ini datang, eh saya kok langsung mengenali makanan yang paling saya hindari selain natto.

Oshinko Roll yang bikin kecele

“Ini lobak ya?” tanya saya pada si mamik yang sibuk menyeruput soba yang langsung dijawab “iya”. Menceloslah hati saya. Sushi lobak? Rasanya hambar. Memang dasar apes.

http://www.emocutez.com

Hmm…kalau ada yang bisa mengolah lobak menjadi sesuatu yang bisa saya makan, mungkin saya akan berpikir ulang untuk memasukkan lobak dari daftar sayuran yang saya benci hehehe. Ada yang mau masakin saya? *nglunjak* haha
http://www.emocutez.com

6 thoughts on “Lobak oh lobak

  1. Hai mbak…aku juga jarang masak lobak, hampir ga pernah malah…tapi setau aku ada makanan yang enak dan terkenal di Bandung..ya itu namanya Soto Bandung…aku pernah menikmatinya dan lumayan enak juga, seger…sotonya bening….dengan potongan daging empuk, irisan lobak, dan ada gorengan kacang kedele.

    Ini satu2nya lobak yang bisa aku makan, ntah mungkin ada masakan lain, yg lebih nikmat dari Soto Bandung, untuk menikmati lobak.

    Hm, kata teman, ada di Asinan Bogor juga…nah itu ga kerasa kalau ada lobaknya. Hayo bikin lomba kreasi dengan Sayuran Lobak….

    Salam,
    Adjeng

  2. oh ya…aku juga suka donburi…bagaimana cara buatnya ya? apa semua bahan dicampur jadi satu, termasuk telur, terus dikukus atau dioven?

    ga lengkap mb infonya, jadi berapa juta habisnya makan disitu, hehe?

    sedap kali keliatannya….ckckck….ngeces n ngiler…sushi ooh sushi….

    • Wah, kalau cara buatnya, aku juga nggak tahu, mbak. Soalnya belom pernah coba buat. Kalo soal harganya, nah itu dia, bonnya dibawa sama teman saya hehe. Totalnya makan berdua nggak sampai 200rb kok hehehe makasih mbak ajeng atas komen & kunjungannya.

  3. Pingback: Tergila Sushi… « Doppelganger is here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s