Soba: Alternatif Makanan Sehat

Bosan nggak dengan postingan saya tentang makanan Jepang? Semoga tidak ya🙂 karena dalam postingan kali ini saya ingin berbagi (lagi) tentang pengalaman makan di sebuah restoran makanan Jepang yang baru saya datangi kemarin.

Kebetulan kemarin, Selasa (2/2), saya mendapat undangan untuk datang ke acara Relaunching Koiki Japanese Restaurant di Plaza Indonesia, Jakarta. Awalnya saya bertanya-tanya mengapa menggunakan kata “relaunching” karena saya pikir restoran ini baru buka.

Ternyata, restoran ini baru merayakan ulang tahun yang pertama pada Desember tahun lalu (maklum saya lebih senang ngendon di rumah daripada ke mall jd gk update tentang resto2 terbaru :D). Makanya menggunakan kata tersebut dengan tujuan untuk memperkenalkan kembali restoran ini atau istilah kerennya adalah reminder untuk orang-orang bahwa ini lho, Koiki restoran yang menyediakan makanan yang sehat.

Selamat ulang tahun Koiki! Semoga makin sukses di tahun Kelinci 2011🙂

Soba, Makanan Sehat Kaya Serat

Yah, makanan sehat karena Koiki memanfaatkan momen ini dengan memperkenalkan keunggulan menu mereka yaitu Soba. Makanan ini dikatakan sehat karena terbuat dari tepung Buckwheat, yaitu sejenis gandum yang kaya akan serat, protein, dan vitamin. Menurut informasi yang saya peroleh, gandum jenis buckwheat ini hanya bisa didapat dari negara empat musim.

 

buckwheat

Soba bisa disajikan panas atau dingin. Salah satu favorit saya jika makan ke restoran Jepang manapun adalah soba (mi) dingin. Agak aneh memang mendengar kata mi dingin, karena memang bukan hanya nama tetapi soba dingin itu benar-benar dingin.

Saya jatuh cinta dengan makanan ini ketika pertama kali mencobanya di Tokyo Tower ketika berkunjung ke Jepang dua tahun silam. Awalnya, saya bingung dengan soba dingin karena hanya ada setumpuk soba yang dingin (sekali) yang ditaburi potongan nori (rumput laut) dan semangkuk shoyu. Ternyata cara memakannya adalah dengan cara mencelupkan soba ke dalam shoyu yang sudah diberi irisan daun bawang dan sedikit wasabi.

Soba

Rasanya maknyess, dingin banget. Tapi tekstur mi yang empuk dan shoyu yang dibubuhi wasabi (awas jangan banyak-banyak) menyatu dengan pas. Saya tidak sempat memotretnya waktu itu, tetapi kemarin saya berhasil mendapatkan fotonya di Koiki.

 

Tenzaru Cha Soba

Mungkin sudah ada yang pernah makan makanan jenis ini di tempat lain. Tapi yang jadi keunggulan Koiki adalah mereka membuatnya sendiri dan tidak menggunakan MSG atau bahan pengawet lainnya. Ini dibuktikan dengan kamera saya yang diberi kesempatan untuk melihat dapur mereka.

Mengintip dapur

Selain Soba, tahun ini Koiki membuat inovasi baru dengan memperkenalkan program “Make your Own Sushi”. Deva Rachman, sang pemilik restoran ini menjelaskan bahwa pengunjung dapat membuat sushi sesuai dengan selera mereka.

Caranya adalah dengan mengambil kertas yang berisi nama-nama bahan-bahan sushi dan sausnya. Pengunjung dapat menandai kotak kecil di samping nama bahan-bahan tersebut sesuai selera. Jangan lupa untuk memberi nama sushi buatan anda dan juga nama anda agar pelayan tidak salah mengantar ke meja sebelah anda. Kertas pesanan sushi tersebut tersedia di masing-masing meja.

Bikin sushi sendiri dengan mencentang pilihan yang ada di kertas ini

Kemarin saya mencoba memadukan salmon dan avocado dengan mayonnaise biasa. Hasilnya membuktikan bahwa saya tidak ahli dalam membuat sushi hehe. Adik saya berhasil membuat paduan yang enak yaitu unagi dan tobiko (dia memberi nama sushinya Unako). Jadi saya lebih banyak mencomot hasil kreasinya ini.

Unako hasil rancangan Indil indil
Sushi “buatan” saya
Buatan teman saya sesuai dengan namanya: “Lucky Star Sushi”

Hari ini rupanya hari spesial untuk rekan-rekan media yang diundang. Kami diperbolehkan memesan apa saja yang kami suka. Awalnya saya tidak tahu jika memang boleh memesan menu lain. Yah, karena gratis tidak boleh disia-siakan dong. Saya memesan Tenzaru Cha Soba yaitu soba dingin kesukaan saya yang mi-nya berwarna hijau karena dicampur dengan teh hijau. Adik saya memesan (baca: saya pesankan) Hot Niku Soba, sementara dua orang rekan media saya memesan Tempura Soba.

Hot Niku Soba
Soba dingin pesanan saya

Untuk rasa, saya rasa Koiki cukup unggul. Sobanya terasa segar karena memang dibuat harian. Ukurannya pun bisa dibilang sangat mengenyangkan. Oiya, untuk para wanita, jangan takut gemuk (ini kata pemiliknya, lho) karena soba ini kaya akan serat. Sementara, untuk sushi kita bisa memesan sesuai kebutuhan kita, misalnya porsi nasinya dikurangi, dan lain lain.

Untuk sushinya, rasanya enak. Meski mengusung tema fusion tapi tampilannya sederhana namun enak. Ukuran pun bisa dikatakan agak lebih besar dibandingkan dengan tempat lain. Untuk harganya, menurut saya berada dalam standar untuk ukuran restoran Jepang, yaitu kisaran Rp20.000 – Rp300.000.

Restoran ini bisa dikatakan sangat lengkap karena menunya sangat banyak. Acara makan siang kemarin, saya tutup dengan dessert macha (green tea) ice cream. Hidangan pencuci mulut ini sedikit berbeda dengan hidangan serupa yang pernah saya rasakan di tempat lain. Di sini, es krim green tea-nya tidak sendiri karena dia ditemani dengan pasta kacang merah (anko), cornflakes, dan potongan mochi yang kenyal.

Hidangan penutup, macha ice cream

Interior Fusion Minimalis

Acara makan saya siang itu semakin terasa menyenangkan karena didukung dengan desain interior yang mampu membuat para tamu betah berlama-lama.

Banyak kupu-kupu, banyak tamu🙂

Suara air gemericik dari kolam yang dihiasi ikan koi porselen, rak-rak minimalis yang dihuni kendi-kendi porselen hingga kupu-kupu porselen berwarna putih yang tergantung di langit-langit, semua mencirikan tema yang diangkat oleh restoran ini yaitu fusion. Ide fusion memang diangkat oleh sang desainer, FX Widanyanto, yang menggabungkan unsur minimalis Jepang dengan tradisional Indonesia.

Sushi buatan sendiri yang unik, soba porsi besar yang menyegarkan,  hidangan pencuci mulut yang manis dan makan siang ditemani oleh puluhan kupu-kupu merupakan alasan yang cukup kuat untuk membuat saya berjanji akan datang lagi ke Koiki. Terima kasih saya ucapkan pada mbak Deva Rachman selaku pemilik Koiki, semoga Koiki makin sukses di tahun-tahun ke depannya🙂.

Arigatou Koiki!

Koiki Japanese Restaurant & Tea House

Plaza Indonesia, LB #4, 42, 42A

Jl. M.H. Thamrin Kav. 28-30

Jakarta 10350

—————-
Listening to: Jazz On Cinema II – 15 – Last tango in Paris – Last tango in Paris – Marlena Shaw
via FoxyTunes

(maklum saya lebih senang ngendon di rumah daripada ke mall).

4 thoughts on “Soba: Alternatif Makanan Sehat

    • hihi iya mbak, klo makan rame2 bisa dishare (billnya)😀 makasih ya mbak ajeng selalu mampir ke sini, kata2 mbak ajeng selalu memotivasi aku untuk terus nulis🙂

  1. Bener-bener asyik bisa sampai liat ke dapur segala… wiiy, saya paling suka makan unagi donburi, heheehe…. kemana2 milihnya pasti ituuu melulu. Sekali-sekali perlu juga mengunjungi Koiki dan memesan Soba🙂

    Thanks atas ulasannya, dan salam kenal ya…

    • heheh mas/mbak tau banget makanan enak ya? unagi donburi emang tidak ada dua2nya tp klo terus2an mkn itu bisa sakit kanker alias kantong kering hehehe soalnya paling mahal hehe salam kenal juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s