Menunggu Kereta

“Kita semua menunggu kereta masing-masing, bukan?”

Hawa dingin berhembus ketika si pandir keluar dari tenda putih malam itu. Pukul tujuh malam. Pekerjaannya sudah selesai, saatnya untuk pulang. Tetapi, akan pulang kemanakah aku? tanyanya dalam hati. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku sendiri, pikirnya. Dengan tidak bersemangat, ia meraih sepeda tuanya dan mengayuh perlahan menuju stasiun.

Stasiun berjarak 10 menit dengan sepeda dari perkemahan sirkusnya. Itulah sebabnya banyak orang dari penjuru daerah yang datang ke sirkus tempat dia bekerja. Dekat dengan stasiun dan sangat mudah dicapai.

Stasiun masih ramai dengan orang. Tidak seperti stasiun di kota metropolitan, tetapi cukup ramai untuk ukuran daerah kecil seperti ini. Si pandir pergi ke loket nomor tiga dengan seorang wanita gemuk dengan wajah bosan duduk di baliknya. “Tiket kemana?” tanyanya acuh. “Meyhesll” jawab pandir.

Wanita itu kemudian mencetak tiket dan dengan acuh memberikan tiket beserta uang kembaliannya. Pandir membaca ulang nama tujuannya yang tercetak, “Meyhesll”. Itu adalah jurusan terjauh dari kota ini.

Ia berjalan menuju gerbang masuk. Petugas berwajah pucat memeriksa karcisnya dengan cepat dan kembali duduk di bangku kecil di samping gerbang. Pandir berjalan pelan. Ada tiga lorong di depannya. Semua bertuliskan jurusan masing-masing. Meyhesll ada di sebelah kanan.

Ia sampai di peron utama. Tidak satupun kereta terlihat. Di peron seberang ada dua orang lansia yang duduk bersedekap erat. Angin dingin sesekali berhembus. Di peronnya, hanya ada dia dan seseorang berjaket hitam panjang dengan topi baseball berwarna senada. Wajahnya tidak terlihat.

Si pandir duduk dan menghela nafas. “Mengapa aku datang kemari?” katanya pada diri sendiri. Stasiun adalah tempat yang sangat disukainya ketika ia bingung. Sejak kecil ia sangat menyukai kereta. Baginya kereta adalah sebuah benda yang penuh dengan keajaiban. Cahaya lampunya di tengah kegelapan seakan memecah kebekuan dan kesunyian bagi orang yang menunggunya.

Membawa harapan bagi mereka yang menunggunya. Harapan bahwa mereka akan segera pulang dan sampai ke rumah. “Kau ada masalah, nak?” tiba-tiba orang berjaket hitam itu duduk di sebelahnya.

Sekarang wajahnya terlihat jelas. Kumis putih melintang di atas mulutnya. rambut putihnya mencuat dari bawah topi hitam polos tanpa bordiran kata-kata seperti layaknya topi baseball pada umumnya. Di wajahnya nampak garis-garis kecil di sekitar mata dan di sudut bibirnya. orang ini berumur sekitar 60 tahunan.

“Bukan hal yang besar, setiap orang tentu punya masalah bukankah begitu, pak tua?” jawab pandir.

“Ya itu benar. Masalah dalam hidup adalah ujian untuk menentukan kualitas kita sebagai manusia,” jawab pak tua.

“Pak tua, takutkah kau pada kematian?” tanya pandir. Pengeras suara menyerukan pengumuman bahwa sebuah kereta akan datang dalam waktu tiga menit.

“Umurku sudah 68 tahun, bisa dibilang aku ini hanya menunggu waktu. Kematian itu sesuatu hal yang pasti. Aku tahu itu, tetapi tetap saja aku merasa takut jika memikirkan kematian” jawab pak tua.

“Terkadang aku berpikir kematian itu seperti kereta. Ia datang menjemput masing-masing dari kita untuk pergi ke suatu tempat yang lebih baik daripada tempat kita sekarang,” tambahnya seraya menerawang ke peron seberang.

“Terkadang aku sangat iri melihat orang yang pergi lebih dulu, dia berangkat lebih dulu ke tempat yang lebih baik dari tempatku,” jawab pak tua. “Namun aku menyadari bahwa bekalku belum cukup”. Ia lalu terdiam sejenak.

“Jika hanya melihat dan memikirkan dunia ini, maka satu abad pun tidak akan pernah cukup. Kita terkadang lupa pada hakikat kita sebagai manusia. Lupa tentang asal usul kita. Tahukah kau, nak ? Dunia ini sifatnya tidak kekal. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Lihatlah orang-orang ini, mereka datang dari berbagai daerah dengan berbagai latar kehidupan. Mereka di sini, menunggu kereta untuk membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Bukankah dunia ini seperti stasiun yang hanya sebagai tempat persinggahan semata?” katanya sambil tersenyum.

Pengeras suara kembali mengumumkan kereta yang sudah datang beserta jurusan dan jumlah gerbongnya. Hembusan angin kencang menerpa wajah si pandir ketika lokomotif beserta delapan gerbongnya melintas di depannya sebelum akhirnya berhenti.

Pak tua bangkit dari duduknya. “Ini keretaku. Sudah waktunya aku pulang. Sampai bertemu lagi anak muda, semoga sukses dengan hidupmu,” kata pak tua tersenyum seraya melangkahkan kaki dengan pasti masuk ke gerbong yang berhenti di depannya.

Pengeras suara  menyerukan pemberitahuan bahwa kereta bersiap untuk berangkat kembali. Lokomotif membunyikan peluitnya disertai dengusan asap. Perlahan tapi pasti, rangkaian kereta itu menjauh dari stasiun kemudian hilang ditelan malam.

Pandir memandangi ujung stasiun yang kosong seraya bergumam, “Lantas, kapan keretaku akan tiba?”

***

—————- Now playing: Take That – The Flood via FoxyTunes

2 thoughts on “Menunggu Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s