Turis Guide Dadakan

Kemarin (14/4) niatnya pergi liputan ke studio dubbing tapi di tengah-tengah hari…eh malah jadi pemandu wisata dadakan. Apa pasal? Ehm… jadi begini ceritanya. Hari ini saya ada janji dengan sebuah studio sulih suara di daerah Pasar Baru, Jakarta. Cerita lebih lengkapnya akan saya bahas di postingan yang berbeda. Setelah wawancara panjang lebar, dan sembari membunuh waktu menunggu aktor suara yang lain, saya dan teman saya berniat untuk rehat dan cari makan di sekitar situ.

Ketika sedang menuju gerbang pasar baru, tidak jauh dari studio, ada dua orang asing muda. Satu laki-laki, satu perempuan. Awalnya saya cuek saja. Tapi tiba-tiba, si cowok bule ini menegor saya ketika kami lewat di depan mereka. Mereka menanyakan apakah saya tahu mereka sekarang ada di daerah apa. Mereka juga menanyakan pasar buah sambil menunjukkan buku panduan wisata mereka.

Rupanya mereka nyasar. Untung nyasarnya nggak jauh-jauh. Saya bilang kalau mereka harus berjalan masuk ke dalam pasar baru karena pasar buahnya ada di ujung jalan. Mereka masih terlihat bingung. Saya yang pernah juga nyasar di negeri orang, tidak tega untuk diam saja. Akhirnya saya menawarkan diri untuk mengantar mereka sampai ke tempat tujuan.

Mejeng di depan gerbang Pasar Baru

Sambil berjalan, kami mengobrol dan akhirnya tahu bahwa mereka berdua dari Switzerland. Yang laki-laki namanya Christian sedangkan yang perempuan namanya Hanna. Mereka berdua masih SMA dan ini adalah kali pertama mereka datang ke Indonesia.

Saya tanya alasan kenapa mereka ingin ke pasar buah karena kebanyakan turis lebih senang pergi ke museum. Lalu si Christian bilang kalau mereka kepengen lihat buah-buahan tropis yang warna warni yang belum pernah mereka lihat di Negara mereka. Hmm…benar juga sih, buah-buahan tropis itu banyak banget warnanya dan banyak macamnya.

Hmm…sebenarnya saya agak sedikit bingung ketika harus menemukan pasar buah ini. menurut saya di setiap pasar hampir selalu ada pasar buah. Tapi berhubungan hari sudah siang dan pasar tradisional sudah banyak yang tutup maka saya bergegas mencari lokasi si pasar buah ini dengan tanya sana sini setiap 10 meter😀.

Akhirnya ketemu!

Tidak banyak sih karena sudah banyak yang tutup. Tapi paling tidak mereka masih kebagian manggis, salak dan mangga. Lucunya mereka Cuma mau beli beberapa saja. Salak tiga biji, mangga satu biji, buah naga satu biji dan yang paling banyak mungkin manggis satu kilo dan jambu biji merah satu kilo (itu saja si Hanna udah kerepotan).

Cuaca hari ini cukup panas, dan seperti manusia dari negeri empat musim pada umumnya, Jakarta sudah pasti bagaikan oven bagi mereka (saya juga). Lapar dan panas, akhirnya niat saya untuk cari makanan kesampaian. Mereka berdua belum pernah makan masakan Indonesia. Sebelum sampai ke sebuah food court, saya sempat mengompori mereka untuk membeli pastel dan onde-onde hehe.

Akhirnya sampai di foodcourt. Saya pilih food court karena jenis pilihan makanan Indonesianya lebih banyak. Setelah melihat gambar berbagai macam makanan, akhirnya Christian memilih Soto Betawi dan Hanna terpaksa memilih Bihun Goreng karena pilihan pertamanya, Bakso Halus ternyata sudah habis. Sementara saya memilih Soto Tangkar dan teman saya ( yang diem aja nih dari tadi) memilih gado-gado.

Mari makan!

Sambil menunggu makanan, kami banyak mengobrol. Saya penasaran dengan bahasa yang mereka pakai karena terdengar seperti bahasa Jerman. Ternyata memang mereka berdua tinggal di Switzerland bagian Jerman (lho?). Ternyata Swiss itu terdiri dari tiga bahasa utama dan budaya. Jerman, Italia, dan Perancis. Kebetulan mereka berdua tinggal di Swiss bagian Jerman, lucu ya.

Akhirnya makanan kami muncul juga. Walaupun soto akan terasa lebih enak jika pakai sambel, tapi saya tidak merekomendasikan sambal untuk Soto Betawi pesanan Christian setelah sebelumnya Hanna cerita (ketika di pasar buah kami melewati penjual cabe) bahwa mereka mencoba cabai dan mules-mules heheh.

Mereka makan cukup lahap dan menurut mereka, pesanan mereka sangat enak. Soto Tangkar saya juga terasa enak (apa karena laper ya?) hehe. Sambil makan, saya bertanya mereka berencana pergi kemana saja sampai liburan selesai? Mereka berencana pergi ke puncak dan Bogor. Saya bertanya apakah mereka akan ke Bali atau Yogyakarta karena dua kota itu merupakan kota tujuan favorit para turis. Mereka bilang mereka pengen banget ke sana tapi karena mereka masih anak sekolahan jadi uangnya nggak cukup. Wah…kasian banget, tapi mereka berjanji suatu hari pasti akan balik lagi ke sini dan mau ke Bali😀.

Well, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saya harus kembali ke studio untuk lanjut wawancara dubber anak-anak dan juga harus kembali ke kantor, akhirnya kami berpisah di depan Gerbang Pasar baru. Christian dan Hanna semula ingin ke kawasan Glodok tapi dengan pertimbangan macet akhirnya mereka lanjut ke Istiqlal dan Cathedral.

Senang bertemu kalian!😀

Kejutan selalu ada dalam hidup ya? Kita tidak pernah menyangka akan bertemu siapa dalam keseharian kita. Hal ini yang disebut berjodoh. Seperti waktu itu saya alami di Jepang (bisa baca di sini).  Yah, orang datang dan pergi. Ada perpisahan pasti ada pertemuan karena itulah hidup. Satu hal yang pasti yang harus saya lakukan berdasarkan pengalaman beberapa kali jadi turis guide dadakan: baca lebih banyak buku tentang Jakarta!😀

6 thoughts on “Turis Guide Dadakan

  1. Pingback: Sulih Suara, Riwayatmu Kini « Doppelganger is here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s