Festival Kehidupan

Disarikan dari Berdamai dengan Kematian (Komaruddin Hidayat, 2009).

Hidup adalah sebuah estafet. Beberapa hal berulang dari satu generasi ke generasi. Kelahiran, perkawinan, dan kematian adalah tiga hal paling dasar yang mempengaruhi kehidupan manusia.

Kelahiran

Kelahiran diyakini sebagi bentuk kehidupan baru. Seorang bayi yang lemah tak berdaya dan suci, bagaikan sebuah kertas putih yang tak tergores tinta. Ia kemudian tumbuh dan belajar mengenai dunia sampai akhirnya ia mengulang kembali peristiwa hidup yang dilakukan oleh generasi sebelumnya, yaitu perkawinan.

Perkawinan

Perkawinan disebut-sebut sebagai cikal bakal lahirnya sebuah kehidupan. Dalam sebuah lembaga perkawinanlah kehidupan tercipta. Seorang bayi akan lahir dari rahim ibunya. Tumbuh besar, mengulang kembali sejarah generasi sebelumnya. Dan akan begitu seterusnya. Lantas kemana generasi sebelum para bayi ini ?

Setelah kelahiran, perkawinan, siklus kehidupan menurun pada satu titik. Titik dimana setiap manusia, suka tidak suka, siap tidak siap, harus menjalaninya. Kematian.

“Siapa yang rindu untuk bertemu Allah, maka Allah pun akan rindu untuk bertemu dengannya. Dan barang siapa yang tak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tak senang bertemu dengannya”

Kematian bagaikan momok bagi setiap manusia. Tidak hanya orang yang beriman dan percaya terhadap Tuhan, namun bagi seorang atheis pun, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Menakutkan?

Bagi sebagian orang, ya, kematian adalah hal menakutkan. Membayangkan diri ini terputus dari segala komunikasi dari orang-orang yang dekat, terputus dari dunia manusia. Namun, bagi seorang muslim, sudah sepatutnya tahu betul bahwa kematian bukan berarti mati. Dimana “Mati” menurut pengertian manusia adalah akhir dari segala kehidupan.

Kematian adalah yang paling dekat dan paling pasti dalam seluruh kehidupan manusia. Jika kita merasa orang tua, saudara, teman dekat, pacar adalah “yang terdekat” dengan kita, maka kematian lebih dekat dari semua itu. Kematian bahkan lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri.

Kematian

Kematian adalah akhir dari kehidupan di “dunia manusia”. Kita mengetahui dan percaya pada kehidupan setelah “kematian” terjadi. Dalam Al-Quran kematian jelas sekali diungkap bahwa kematian adalah kembali (ruju’) kepada sumber kehidupan, pemilik segala bentuk kehidupan ini.

Hakikat Kematian

Dalam bukunya, Pak Komaruddin menyebutkan bahwa hakikat kematian menurut Nabi Muhammad Saw. adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain. “Kalian diciptakan untuk keabadian, bukan untuk mengalami kemusnahan. Kematian sesungguhnya adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain.”

Jadi kematian bukanlah akhir kehidupan manusia tetapi kelanjutan dari sebuah kehidupan. Kehidupan setelah mati adalah yang paling sejati. Kalau boleh saya analogikan, seperti kisah Percy Jackson yang terjebak dalam Lotus’ Lair. Percy dan kawan2nya sedang menjalani misi mencari mutiara untuk membuka jalan menuju ke Dunia Bawah. Mereka sempat terjebak di Lotus Lair dimana mereka memakan bunga lotus sehingga lupa diri. Terjebak dengan kenikmatan yang ditawarkan tempat tersebut hingga lupa sejenak misi yang sedang diemban.

Tidakkah kita melihat dunia ini seperti itu? Berbagai godaan ada di dunia ini. Godaan demi godaan yang membuat kita mabuk kepayang dengan dunia tanpa melihat ada sesuatu yang lebih besar di belakang itu. Kita menjadi lupa akan hakikat diri kita sebagai manusia. Bahkan ada yang terombang ambing dengan pertanyaan: Mengapa dan untuk apa aku ada?

Status Kepemilikan

“Sudah ada yang punya?”

Jika ada orang yang bertanya seperti itu pada saya,  jelas saya akan jawab “sudah dan akan selalu ada”. Setiap bentuk kehidupan di dunia ini hanya satu yang memiliki.  Pacar, suami, istri, orang tua, anak, saudara, teman, harta benda, mereka semua bukan “milik” kita. Klise? Betul, karena memang ada benarnya.

Milik artinya kita memiliki wewenang atas sesuatu. Kita dapat memerintahnya, mengontrolnya seperti yang kita mau. Namun, pada kenyataannya kita tidak dapat mengontrol semua yang kita akui sebagai “milik” kita. Contoh yang paling dasar jika pacar meninggalkan kita, ketika suami/istri kembali kepada Sang Khalik, dapatkan kita mengontrol dan mencegahnya?

Putus dengan pacar, hanya Allah SWT yang mampu membalik-balik hati seseorang karena sejatinya Allah-lah pemilik hati itu. Orang terdekat kembali pada Sang Khalik, hal ini terjadi karena sejatinya Allah-lah pemilik segala kehidupan.

Jadi, jika ada satu manusia yang dengan lantang berkata “Dia milikku tidak boleh ada yang memilikinya selain aku”. Maka saya dengan berani mengatakan orang itu adalah orang yang sangat SOMBONG bukan main. Apa pasal? Karena ia berani mengakui milik Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan.

“Berbahagialah mereka yang selalu sadar bahwa semua ini pinjaman, anugerah, dan amanah untuk disyukuri dan difungsikan untuk memperbanyak amal kebaikan.”

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengetahuan yang ada setelah membaca buku “Berdamai dengan Kematian” dari Komaruddin Hidayat. Buku yang membuat saya sadar bahwa dunia ini hanyalah Sarang Lotus semata. Jangan bersedih dan putus asa jika harta kita menghilang karena sesungguhnya ia bukan milik kita.

Jangan bersedih dan berhenti mengarungi hidup jika orang terdekat kita harus kembali pada-Nya. Sesungguhnya ia hanya berhenti sesaat di dunia ini, “kereta”-nya telah datang untuk membawanya pulang ke rumah yang sebenarnya. Jangan pernah mengutuk Sang Pencipta karenanya. Sesungguhnya Sang Penciptalah yang lebih menyayanginya daripada diri kita. Apakah diri kita mampu menandingi kasih sayang yang diberikan Sang Pencipta Kehidupan? Tidak akan pernah.

Kematian bukan akhir kehidupan. Ia adalah moda transportasi ciptaan-Nya yang paling sempurna untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, ketika kematian mendekat, sambutlah ia dengan senyuman dan sapaan:

 “Assalamu’alaikum ya Izrail, tunaikan tugasmu dengan baik, ketika giliranku tiba, maka ambil dan jemputlah nyawaku dengan damai, dengan penuh persahabatan dan kasih sayang. Bawalah aku memasuki orbit kehidupan baru yang semoga lebih indah dan lebih damai di kampung akhirat yang penuh berkah ilahi.”

Kelahiran, Pernikahan, dan Kematian adalah Festival Kehidupan. Sebuah selebrasi yang diagungkan oleh manusia dimanapun dan kapanpun.

Semoga menjadi manfaat.

-EPS-

Sumber: Komaruddin Hidayat, Berdamai dengan Kematian, Penerbit Hikmah, 2009.

6 thoughts on “Festival Kehidupan

  1. dulu judul bukunya “psikologi kematian”, gw udh baca, tp tetep aja takut ama kematian, abis inget dosa hehe…

  2. Pingback: Berpindah « Doppelganger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s