Menghitam di Kota Tua

Kalau orang – orang Jakarta sudah berebut masuk ke Kota Kembang sejak Kamis, Saya sudah bertekad untuk menghabiskan waktu libur yang cukup panjang ini (4 hari) di Jakarta, dengan catatan tidak di mall. Rencana awal sebenarnya mau menjelajah beberapa museum di Jakarta, tapi berhubung kesiangan, saya dan dua teman saya akhirnya menghabiskan hari libur ke-dua dengan hunting foto di sekitar Museum Fatahillah.

Matahari Jakarta sedang terik-teriknya beberapa minggu belakangan ini, namun kondisi panas menyengat seperti itu, tidak menyurutkan tekad saya pergi ke kawasan Kota Tua, Jumat (3/6) kemarin.

Perjalanan saya tempuh dengan sepeda motor. Awalnya saya berencana untuk naik busway bus Trans Jakarta. Tapi, sepertinya cari mati saja karena kawasan Glodok pasti muacet. Dan saya benar! Hahaha untung saja naik motor. Yah, korban tangan & kaki menggosong dikit, lhaa. Yang penting sampai dengan cepat dan aman.

Kami setuju untuk bertemu di Café Batavia. Ini kali pertama saya masuk ke dalam café yang tersohor itu. Sebelum berangkat, saya meng-googling dulu tentang café ini. Supaya tahu, tutup jam berapa cafe ini. Rata – rata, orang memuji desain interior café yang unik. Tidak sedikit yang memajang foto di dalam café yang setelah saya masuki, memang cantik dan unik, terutama toilet wanitanya (kalau yang laki-laki mana saya tahu, lha wong nggak masuk ke situ hehe).

Tidak betah melihat matahari yang bersinar terang di luar café, saya pun cepat – cepat beranjak (di samping tidak punya uang buat pesan makanan dan minuman yang teramat mahal itu). Wew, what a sunny day (baca: puanasee rekk)! Senjata pun disiapkan dan beberapa gambar pun ditangkap.

Saya bukan tukang foto profesional. Dibilang fotografer pun bukan. Kameranya pun cuma kamera tua, pinjaman pula (punya adik saya). Saya cuma hobi menangkap momen dan gambar. Nggak modal? Yah, terserah mau dibilang apa, bagi saya yang penting hasilnya, toh bukan perlombaan. Dulu waktu kecil juga kita sering kan pinjem crayon punya teman atau saudara buat sekedar gambar – gambar?

Kawasan Kota Tua memang surga bagi mereka yang suka dengan fotografi. Di luar café, banyak sekali anak – anak muda yang berseliweran dengan kamera di tangan. Baik kamera saku maupun professional. Kalau melihat kamera yang mereka pegang, wah kamera yang ada di tangan saya jauh sekali bandingannya. Tapi saya teringat dengan perkataan Pak Arbain Rambey waktu memberikan pelatihan singkat di kantor, “Kamera hanyalah alat. Sementara yang menentukan foto yang bagus itu adalah ini (sambil menunjuk kepala), kamera hanya bisa mengatur cahaya dll, tetapi manusia-nyalah yang bertanggung jawab atas momen, karena kamera tidak bisa otomatis memotret sebuah momen.”

Ah, saya suka banget deh dengan kata – kata Pak Arbain itu. Tidak perlu minder jika kameranya biasa – biasa saja, yang penting manusia-nya yang harus luar biasa. Uhuuy!

Saya tidak minder dengan kamera canggih dan mahal yang dibawa oleh anak – anak muda itu. karena toh mereka malas berpanas – panas ria. Saya ingin memotret meriam yang ada di sisi kiri dan kanan museum. Meskipun meriam di sisi kanan itu lebih teduh tapi sayangnya kotor (terlalu banyak orang untuk sebuah foto). Akhirnya saya membiarkan kulit saya semakin “tan” dengan mengambil gambar meriam di sebelah  kiri. Tidak banyak manusia di sisi sini karena panasnya ampun-ampunan (bisa buat goreng kerupuk tanpa minyak kayaknya). Katanya semakin hitam semakin eksotis (mbahmu!). Yang ada, lethek kayak akam (anak kampung) ini mah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s