Kowok dan Scabbies Palsu

Setelah tiga hari dan terbangun dini hari tadi pagi gara-gara bunyi gemerincing yang menandakan Kowok lagi garuk2 dan kegatelan bukan main, saya akhirnya membawa Kowok ke dokter hewan. Oiya, kenalkan Kowok ini adalah anak kucing kesayangan saya.

Si Kowok pada posisi favoritnya: selonjor

Sudah beberapa hari ini saya mendengar bunyi gemerincing dari lonceng di kalungnya semakin keras. Saya juga memeriksa di bagian belakang telinga bagian kirinya ada semacam luka. Saya terus terang khawatir kalau Kowok terserang scabbies. Apalagi setelah saya baca, rasa gatal akibat scabbies akan semakin parah ketika kucing habis dimandikan. Dan, sejak saya mandikan Sabtu pagi, tadi pagi dini hari, saya dengar bunyi gemerincingnya semakin keras dan sering, saya bisa merasakan betapa gatal yang dirasakan Kowok. Saya 100 per sen yakin bahwa Kowok terserang scabbies.

Saya coba bersihkan luka tersebut dengan alkohol. Saya masih ragu untuk membawa Kowok ke dokter hewan. Saya baca-baca tentang penyebab dan cara mengobati scabbies. Banyak artikel maupun forum pecinta hewan terutama kucing yang menyarankan untuk suntik ivermectin. Beberapa artikel yang ditulis oleh dokter hewanpun menyebutkan demikian. Namun karena ivermectin ini sifatnya toxin, dan bekerja di dalam hati dan ginjal, saya jadi ragu dan takut. Benar-benar dilemma. Di satu sisi nggak tega lihat dia kegatalan, sedangkan di sisi lain saya takut kalau dia diberi suntikan malah kenapa2.

Akhirnya setelah sholat dan baca doa, saya memantapkan hati untuk membawanya ke dokter hewan. Dengan menggunakan taksi (untung nggak macet), kami sampai di klinik hewan PDHB (Praktek Dokter Hewan Bersama) Drh. Cucu K. Sajuthi. Letaknya di Ruko Green Garden Jakarta Barat (tepat di belakang McDonald’s Green Garden. Klinik ini memang favorit saya sejak dulu. Waktu tahun 2008, saya juga mengobati kucing saya alm. Michu yang terkena jamur di pencernaannya. Alhamdulillah, dengan kesabaran dan obat yang diberikan dokter, Michu sembuh.

Kartu pasiennya Kowok
Drh. Cucu K. Sajuthi
Jadwal Praktek

Kowok juga sebelumnnya pernah dirawat di sini tahun 2009 waktu kaki depannya patah. Nah, sore ini Kowok ketemu lagi sama bu dokter dan mas2 perawat yang sabar dan baik hati. Waktu pertama kali dimasukkan ke dalam travel cage, dia udah kayak di sirkus, bolak balik guling2. Mungkin karena resah dan nggak biasa dikurung. Di dalam taksi pun dia agak sedikit resah, tapi setelah jalan agak lama dan saya tenangkan dengan cara dibelai, akhirnya dia lumayan tenang.

Ketika sampai di klinik, untung saja tidak mengantri. Padahal saya sudah takut ketika baca artikel tentang klinik ini bahwa yang mau periksa sangat banyak. Memang sih, dulu waktu periksain michu juga ngantrinya cukup banyak.

Setelah dicek datanya, Kowok diminta buat timbang berat badan. Waktu dikeluarin dari travel cage, dia sempet ketakutan & lari ke bawah meja resepsionis, untung mas-masnya cekatan dan langsung saya gendong buat menenangkan dia. Ok, timbang! Wedew, beratnya sekitar 5,4 kg!

Setelah ditimbang, akhirnya Kowok dipanggil buat ketemu bu dokter icha yang berjilbab pink. Setelah ditaruh di meja periksa, Kowok langsung dibungkus pakai handuk biru tebal sama mas perawat. Langsung ‘dikekep’ dan dielus2 buat ditenangin. Saya cerita semua ke bu dokter tentang kemungkinan Kowok terkena scabbies. Setelah dilihat ternyata bu dokter bilang kalo ini bukan scabbies tapi luka lecet karena digaruk. Hati saya lega setelah mendengarnya. Lukanya bisa diobati dengan betadine saja, begitu kata bu dokter.

Ternyata penyebab gatal adalah telinga yang kotor. Akhirnya dengan menggunakan pinset yang dilapis kapas alkohol, telingan bagian dalamnya Kowok dibersihkan. Wiih, kotor banget dan setelah diamati pakai mikroskop, ada kutu telinga (ear mites) di dalam telinganya. Bu dokter menyarankan supaya telinga kucing harus sering dibersihkan. Sebenarnya mungkin kesalahan saya juga karena terlalu takut bersihin telinganya, takut kena gendang telinganya. Tapi, bu dokter bilang nggak apa2 dan jangan takut. Akhirnya saya ikut memperhatikan bu dokter membersihkan telinga Kowok. Jadi sambil belajar juga.

Mumpung di dokter hewan dan ternyata bukan scabbies, saya tanya apakah Kowok bisa divaksin sekalian karena dia belum pernah divaksin sama sekali. Bu dokter menyanggupi. Sebelum disuntik vaksin, suhu badan Kowok diukur dulu. Lumayan tinggi 39,4 derajat celcius. Tapi kata bu dokter, suhu segitu masih normal untuk ukuran kucing. Hati lega lagi. Dan, tiba waktunya Kowok di-ncuss. Kata bu dokter “Suntik dulu biar sehat ya Kau (hiks…namanya Kowok,bu dokter)”.  Kowok disuntik dengan Feline Rhinotracheitis-Calici-Panleukopenia Vaccine  merek FELOCELL dari Pfizer.

Vaksin

Kowok lumayan tenang selama di ruang periksa. Nggak meronta-ronta. Mungkin karena mas perawatnya juga udah pengalaman menangani hewan. Habis disuntik, Kowok dibawa keluar buat dimasukin lagi ke travel cage. Sedangkan saya, mengurus biaya yang harus dikeluarkan. Untuk vaksin saya dikenakan biaya Rp200.000 (oh, jantungku hampir copod, untung duitnya cukup buat bayar n buat pulang).

Kemudian, dokter memberikan resep obat tetes telinga untuk membasmi earmites. Namanya Apex Ear Drops. Cara pakainya cukup diteteskan pada masing2 telinga satu tetes, dua kali sehari. Tambahan dari mas perawatnya, setelah ditetesi, daun telinga bagian bawah sebaiknya dipijit supaya tetesan obat masuk dan menyampur dan mengenai ear mites. Harga satu botol Apex Ear Drops ini Rp95.000 (15 ml).

Apex Ear Drops

Total saya keluar biaya sekitar Rp 295rb. Ditambah total argo taksi dari rumah ke Green Garden dan balik lagi ke rumah sekitar Rp50.000 (taksi saya suruh menunggu). Tadi, saya sempat tanya tentang sterilisasi. Di klinik ini, biayanya sekitar Rp750rb (sudah termasuk benang). Ketika mendengar hal itu, mas perawatnya langsung bercanda “Wah, bisa makin gendut lagi nih ya, Kau (hiks..kowok mas, namanya).

Oiya, satu lagi yang bikin saya lega, dari kotorannya (setelah diperiksa pake mikroskop) kata bu dokter, Kowok bersih dan bebas cacing. Hore!🙂

Pulang dari dokter langsung deh pose andalan😀

Semoga cepet sembuh dan pergi earmites-nya ya, wok!🙂

Klinik Hewan

Drh. Cucu Kartini & Partners Veterinary Clinic

Praktek Dokter Hewan Bersama Drh. Cucu Kartini, dkk

Jalan Panjang, Ruko Green Garden Blok 1-9 No. 35

Jakarta Barat

Ph. (021) 58302918, 58302919

Fax/ph. (021) 5812274.

Khusus untuk klinik yg di darah Sunter ada layanan 24 jam-nya.

4 thoughts on “Kowok dan Scabbies Palsu

  1. wah..mirip meong ku…sekarang dia lg kena earmites..kasihan, garuk2 terus..terima kasih ya info nya…obat tetes nya dijual bebas gak ya? karena aq mau cobain ke meong ku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s