Doo doo doo….Didgeridoo

Awalnya gara-gara baca postingan terbarunya si neneng V tentang tetangganya yang niup terompet belalai gajah, saya jadi inget mau cerita tentang si doo doo ini.

Masih dalam rangka NAIDOC Week, awal Juli lalu, Kali ini saya mau cerita tentang Didgeridoo (baca: dijeridu). Saya nggak nyangka bakal ketemu sama alat musik setelah sekian lamanya.

Buat saya, ini kali kedua saya bertemu si didgeridoo. Sebelumnya saya tahu tentang alat ini dari nano-nano chan karena ya dia pemain didgeridoo dan bisa membuat alat ini sendiri. Alat ini dikenalnya ketika berkunjung ke Australia beberapa waktu lalu. Sampai sekarang pun saya rasa dia masih berkutat dengan alat ini. Koleksinya banyak bahkan dia sampai membuka toko khusus benda-benda aborigin.

Ya, didgeridoo ini merupakan alat musik tiup tradisional khas aborigin yang banyak dimainkan oleh orang-orang di daerah utara Australia. Bisa dibilang ini terompet khas aborigin. Bentuknya panjang, lurus, dan bunyinya seperti berdengung. Rendah sekali, beda dengan terompet yang terkadang memekakkan telinga. Digeridoo ini justru menggetarkan hati (tsah!).

Bertemu si Kaki Bangga

Lucas Proudfoot, ini dia nama si pemain didgeridoo yang jauh-jauh datang dari Gold Coast, Australia ke Jakarta dalam rangka NAIDOC Week di Indonesia. Awalnya ketika melihat fotonya di halaman profil seniman, kayaknya serem gitu. Tapi kemudian si pinkylightsaber memberikan sebuah link tentang penampilan Lucas dengan anak-anak sekolah dasar. Ternyata Lucas ini memang banyak berkecimpung dengan dunia anak-anak. Ia sering datang ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan kebudayaan asli aborigin. Dan, caranya meng-handle penonton anak-anak bisa dibilang luar biasa. Karena, tahu sendiri kan mengatur anak-anak itu bukan pekerjaan mudah. Tapi cara Lucas berinteraksi dengan anak-anak dan melihat bagaimana anak-anak bisa dengan mudah mengikuti perkataannya, wah patut diacungi jempol.

Hari Rabu (6/7), gantian saya yang ‘ngikut’ pinkylightsaber buat liputan, kali ini di kedutaan australia di kawasan Kuningan. Saya paling anti sama kedutaan karena kesannya angker. Lapisan keamanannya itu pasti berlapis-lapis dan petugas keamanannya pasti serem-serem, pikir saya. Apalagi Kedutaan Australia ini kan pernah jadi korban bom tahun 2004, saya udah pasrah deh kalau harus berhadapan sama sekuriti galak.

Tapi, semua pikiran saya salah. Setelah mengatakan siapa saya dan maksud kedatangan saya serta mau bertemu siapa, sekuriti cukup ramah mempersilahkan masuk. Saya diantar sampai ke depan resepsionis untuk menukar ID, untung Mas Rendy dari AusAid langsung menjemput jadi saya lega nggak sendirian di depan resepsionis itu.

Kami masuk ke dalam auditorium yang letaknya nggak jauh dari resepsionis dan di dalam sudah ada puluhan anak menunggu. Oiya, mereka ini anak-anak dari berbagai panti asuhan yang sengaja diundang oleh pihak kedutaan. Lucas menjelaskan tentang didgeridoo dengan bahasa inggris yang diterjemahkan oleh Mas Rendy.

Kayu Berayap

Didgeridoo ini terbuat dari kayu yang sudah berlubang dimakan rayap. Kayu ini kemudian dibersihkan di sungai supaya rayapnya hilang. Setelah itu dijemur hingga kering. Setelah kering, kayu tersebut diamplas dan dihias dengan lukisan khas aborigin. Selain dari kayu, didgeridoo juga bisa dibuat dari pipa plastik. Didgeridoo jenis ini disebut drone.

Prettt…

Itu bunyi yang akan keluar kalau meniup didgeridoo terlalu keras hehe. Cara memainkan didgeridoo adalah dengan menempelkan bibir pada bagian atas didgeridoo kemudian menggetarkan bibir kita. kalau Lucas bilang ini namanya “blowing raspberry” yaitu menggetarkan bibir sehingga udara yang keluar berbunyi seperti (maaf) kentut. Didgeridoo bisa bersuara dengan tehnik yang unik, Tapi percaya deh, bunyi yang keluar dari didgeridoo bukanlah bunyi kentut tapi bunyi mendengung yang sungguh membuat hati ini bergetar (cuih! Hehe).

Tapi, tidak hanya menggetarkan saja, lho. Ada tehnik pernapasan tersendiri untuk memainkan didgeridoo, tehnik ini disebut circular breathing. Lucas bisa menyuarakan kanguru, emu dan yang paling sulit adalah bunyi burung kookabura dari alat musik ini. Menurutnya, suara burung kookabura adalah level tersulit dalam bunyi-bunyian didgeridoo.

Kanguru dan Emu

Walaupun berdiri di depan anak-anak Indonesia, Lucas sama sekali tidak canggung. Dan, seperti yang terlihat dalam video rekaman di atas, kemampuannya berinteraksi dengan anak-anak memang benar-benar boleh diberi acungan jempol dan membuktikan bahwa pada dasarnya semua anak memang sama di belahan dunia manapun: mereka suka keceriaan🙂.

Lucas juga mengajarkan beberapa anak untuk memainkan didgeridoo. Sayang, kami nggak sempat tanya alasan kenapa tidak boleh diajarkan pada anak perempuan. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yaitu kanguru dan Emu, dua hewan khas dan menjadi simbol Australia. Masing-masing kelompok diberi contoh untuk menirukan suara kedua hewan tersebut. Lucas menjelaskan bahwa didgeridoo bisa dipadukan dengan jenis musik apapun. Mulai dari pop, dance, hingga suara kangguru dan emu. Ia memainkan sebuah lagu dengan gitar yang diselingi dengan didgeridoo dipadu dengan suara kanguru dan emu dari anak-anak.

Lagu yang diselipi dengan lirik berbahasa asli aborigin tersebut sangat ceria dan apa sih yang paling membahagiakan selain melihat anak-anak tertawa bahagia?🙂

2 thoughts on “Doo doo doo….Didgeridoo

    • wiihh nggak cuma didgeridoo, msh bnyk lagi alat musik ‘ajaib’ dari Australia, mas hehehe yah dunia ini memang tidak selebar daun kelor dari hampanya ruang angkasa dan dalamnya palung laut. betapa luasnya jagat raya ini, subhanallah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s