Selebrasi Budaya Aborigin

Udah kelamaan absen nih dri blog gara-gara kerjaan kantor numpuk banyak banget (padahal ada banyak hal yang mau ditulis). Awal juli kemarin (dah lama banget ya?) saya dan pinkylightsaber mendapat undangan liputan dari kedubes Australia. Ternyata awal juli adalah hari yang sangat penting buat orang-orang Australia terutama para suku aborigin. Minggu pertama Juli disebut dengan NAIDOC Week atau National Aborigines and Islanders Day Observance Committee. Atau, boleh disebut sebagai pekan kebudayaan aborigin. Pemerintah Australia sendiri memberikan penghargaan kepada seniman dan musisi aborigin dan Selat Torres yang berprestasi dan memberikan kontribusi pada negara.

Sebenarnya ini juga merupakan salah satu bentuk permintaan maaf pemerintah Australia kepada suku asli benua ini yang sempat terpinggirkan dan bahkan  sempat dikategorikan sebagai spesies binatang di masa lalu. Sejarah tentang NAIDOC bisa dibaca di sini.

Di Indonesia, Kedubes Australia turut mengundang beberapa anak buat ikutan merayakan sekaligus memperkenalkan budaya aborigin. Tahun ini ada dua orang aborigin yang datang ke indonesia untuk meramaikan NAIDOC week di Indonesia (3-6 Juli). Yang satu seniman mural dan yang satu lagi musisi didgeridoo.

Satu hal yang membuat saya terkejut ketika bertemu mereka adalah tidak semua orang aborigin itu hitam seperti yang saya bayangkan selama ini. Hari Selasa (5/7) bertempat di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, saya kebagian ketemu dengan mas (tsah!) Reko Rennie-Gwaybilla dari Melbourne. Ia adalah seorang keturunan aborigin dari suku Kamilaroi (Gamilaraay). Profesinya bermacam-macam, mulai dari jadi wartawan di The Age hingga akhirnya memutuskan jadi seniman mural. Budaya aborigin yang kental berhasil ia bawa keliling dunia lewat lukisan muralnya yang bergaya aborigin, mulai dari warna sampai polanya.

Saya sempat bertanya tentang darah aboriginnya karena diliat dari manapun Reko ini tidak menunjukkan bahwa dia punya darah aborigin. Bisa dikatakan dia lebih mirip orang arab, spanyol (ah, pokoknya hottie! Sempat deg2an selama sesi wawancara) haha. Ternyata ada berbagai macam orang aborigin. Menurut Reko, ada sekitar 300 suku dengan bahasa dan kebudayaan masing-masing.

“Kamu pasti mengira orang aborigin itu hitam, tinggal di gua, dan melukis di dalam gua, kan?,” kata Reko yang cuma saya jawab dengan senyum dan anggukan, “Sebenarnya nggak semua orang aborigin seperti itu, ada sebagian besar yang hidup di kota besar dan hidup secara modern. Ini yang perlu diluruskan, itulah alasan mengapa saya ada di sini, untuk memberi gambaran bahwa orang aborigin itu ada yang cukup modern, seperti saya yang bergelut dalam seni modern (contemporary art,)” lanjutnya.

Okelah, saya percaya dengan itu. Tapi jawaban dia untuk pertanyaan saya tentang bagaimana dia memutuskan untuk membawa kembali seni dan budaya aborigin ke dunia internasional dan bagaimana dia menjaga identitas aborigin-nya hingga saat inilah yang membuat saya kagum.

“Semua berakar dari keluarga. Ayah saya seorang aborigin sedangkan ibu saya, ya dia punya darah aborigin walaupun sedikit. Ayah saya banyak mengajarkan saya tentang seni dan budaya aborigin. Saya hidup dengan itu dan ketika dewasa, saya tetap selalu terhubung erat dengan keluarga dan budaya tersebut, itulah yang menjaga ke-aboriginan saya,” jawabnya.

Pertanyaan itu menjadi pamungkas selama sesi wawancara pribadi saya bersama sang seniman. Saya tidak terlalu mengerti tentang seni modern. Menurut saya aneh, tetapi melihat lukisan mural yang dibuat oleh Reko, terselip sebuah perasaan kagum. Indah sekali. Semoga seniman Indonesia juga mampu berpikir seperti Reko, yang senantiasa menjaga identitas bangsa dengan membawa seni budaya ke panggung dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s