Dikutuk Seumur Hidup

“Hey, Pandir! Sedang apa kau di sini?” tanya Riang seraya menepuk pundak si Pandir yang sedang bermuram durja di tepi sungai.

“Memikirkan impian” jawab pandir singkat. Riang tertawa terkekeh mendengar jawaban Pandir.

“Pandir, pandir, memangnya kau ini punya impian apa, hah?” tanya Riang dengan setengah mengejek.

“Aku tidak mau mengatakan impianku. Kata orang kalau kau punya impian, jangan beri tahu orang lain karena mereka akan mencurinya,” jawab Pandir dingin.

“Siapa yang mau mencuri impianmu? Aku? Alaaaah paling kau hanya bermimpi mendapatkan uang tambahan dari membersihkan kandang gajah hahahah lagipula bagaimana sebuah mimpi bisa dicuri?” tanya Riang sambil melempar batu ke sungai.

“Jika kau bermimpi ingin menjadi orang kaya, orang akan berkata ‘ah, kau tidak mungkin bisa, menjadi kaya itu susah, orang sepertimu tidak mungkin bisa’ itu namanya sudah mencuri impian,” jawab Pandir.

“Hahahaha Pandir, Pandir itu bukan mencuri tapi menurunkan mental, padahal kalau kau ingin mengejar impian, kau harus berbagi dengan orang terdekatmu jadi mereka mendukungmu,” jawab riang.

Dalam hati, Pandir berkata, “Membagi mimpi dengan orang lain? dan ketika mimpi itu hancur, bukan saja hatimu yang hancur tapi juga hati orang yang kau bagi tadi? aku sudah merasakannya berkali-kali”.

“Heh, malah diam saja. Coba ceritakan apa mimpimu itu? Aku janji tidak akan mencurinya,” jawab Riang seperti memberi janji pada seorang bocah. Pandir tidak suka dengan perlakuan itu, tapi jika tidak dijawab Riang tidak akan pergi. Pandir menarik nafas panjang sebelum bercerita.

“Aku bermimpi untuk belajar menjadi seorang aktor komedi di kota, kupikir tinggal selangkah lagi aku bisa bergabung dengan mereka. Tapi ternyata, uangku tidak cukup, semua uang yang kukumpulkan selama bertahun-tahun tidak bisa memenuhi syarat untuk masuk sekolah itu.”

“Kupikir mereka akan membantuku. Tapi, aku berharap terlalu muluk. Aku gagal. Aku mengecewakan keluargaku, teman-temanku padahal mereka sudah mendukung dan mendoakanku. Itu yang membuat hatiku pedih. Lagi-lagi aku gagal membuat mereka bangga.”

“Kau tidak gagal sobat. Mimpimu hanya tertunda.” hibur Riang. Namun kata-katanya tidak bisa menebus rasa sakit dan pedih pada hati Si Pandir.

Pandir hanya menatap Riang dengan dingin. Riang tidak mungkin mengerti perasaannya. Ia punya segalanya. Rumah, uang, kebahagiaan. “Inilah mengapa aku lebih suka sendiri. Jika aku mendapat masalah, aku tidak perlu melibatkan orang lain. Mereka tidak perlu tahu, tidak perlu merasa kasihan padaku. Karena, pada akhirnya merekapun tidak pernah melibatkanku pada masalah mereka atau kehidupan mereka. Bagi mereka, aku ini tidak terlihat. Ya itulah kemampuan terbaik yang kupunya: menjadi tidak terlihat. Dan sebaiknya tetap menjadi seperti itu.

Pandir tertawa masam. “Aku ini seperti badut. Mengira semua hal baik akan datang dengan mudah. Padahal untuk meraih Surgapun, perlu usaha yang sangat keras. Kau tahu apa yang paling pedih? Tidak bisa menepati janji. Aku sungguh bodoh berharap terlalu banyak. Lagi-lagi aku sadar pada akhirnya kita akan menjadi sendiri. Aku benar-benar pecundang besar.”

“Aku bodoh membiarkan binatang itu lepas kendali. Sudah seharusnya ia kukunci rapat-rapat. Aku dikutuk. Dikutuk seumur hidupku karena melepaskannya. Berkeliaran tanpa arah. Jangan tanya apa karena tidak ada orang yang akan mengerti diriku. Jangan berusaha untuk mengerti tentangku karena aku tidak akan berharap mereka akan mengerti tentang aku.”

2 thoughts on “Dikutuk Seumur Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s