Panggilan dan Sapaan

“Eh”, “mbak”, “mas”, “kak” ataupun nama kita, nama kecil nama tengah, kita semua pasti punya nama panggilan atau paling tidak punya kata sapaan. Kata sapaan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kedekatan hubungan. Seorang ibu biasanya memanggil anak perempuannya dengan “nduk” atau “le” untuk anak laki-lakinya. Seorang pacar biasanya memanggil pasangannya dengan “sayang”, “yang”, “ayang” (nggilani) atau yang sedang populer sekarang ini adalah “babe” (sumpah saya benci sekali dengan kata ini, norak!). Maaf saya mungkin terdengar sangat old school tapi menurut saya tetep aja norak  (bergidik).

Biasanya orang memiliki nama panggilan lebih dari satu. Saya sendiri biasanya disapa “wita” oleh orang-orang di lingkungan keluarga. Tapi sebenarnya tidak masalah saya ini mau dipanggil eka, wita, ta, wit, atau apapun. Tapi apa rasanya kalau kita dipanggil/disapa dengan panggilan yang berbeda atau tidak biasanya digunakan oleh orang yang kenal baik dengan kita vice versa?

Misalnya ada orang yang biasa memanggil saya dengan wita, tiba2 memanggil dengan eka atau sebaliknya. Walaupun dua-duanya itu betul nama saya tapi tetap saja saya merasa sedikit risih. Ada beberapa alasan (menurut saya) tentang mengapa mereka bisa demikian:

  1. Kepalanya baru nabrak tiang, tembok, atau apapunlah yang keras. Jadi agak keder+bingung+amnesia ringan.
  2. Tidak fokus sama lawan bicara. Yah, artinya dia nggak benar-benar mau ngobrol, mungkin dia lagi nunggu pacarnya, atau bosan nunggu bus, pesawat, jemputan yang nggak datang-dateng. Padahal lawan bicaranya sudah bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan orang ini.

Bingung? Ini saya contohkan.

Kasus 1, seorang teman biasa menyapa/memanggil saya dengan nama “wita” karena memang sejak awal berkenalan, saya memakai nama “wita”. Karena “wita” itu buat saya sifatnya personal (karena nama ini juga dipakai oleh orang-orang di lingkungan keluarga) jadi kening saya sedikit berkerut ketika orang ini tiba-tiba memanggil saya dengan sebutan “eka” karena hanya teman-teman kuliah, teman-teman di Berani, dan orang yang baru saya kenal saja yang memanggil saya dengan sebutan eka.

Jadi, seakan-akan dia lupa dan baru saja bertemu dengan saya. Padahal bisa dibilang kami lumayan dekat. lebih anehnya lagi, di satu kesempatan, dia memanggil saya dengan “wita”. Hmm…saya anggap orang ini mungkin lupa nama saya, tapi berusaha mengingat. Jalan aman adalah memanggil nama depannya saja “eka”.

Saya juga menganggap jadi terkesan ada jarak karena seperti bicara dengan orang yang amnesia. Hal ini kerap terjadi dalam sebuah instant messenger karena memang saya memasang nama lengkap saya di sana. Jadi mungkin orang-orang yang lupa atau malas mengingat siapa saya, ya lebih aman memanggil saya dengan nama depan yang umum.

Kasus 2, amnesia dadakan juga tidak hanya menimpa nama panggilan tetapi juga sapaan seperti mbak, neng, kak, mas, dll. Di awal pembicaraan, mereka memanggil saya kakak (karena memang sudah akrab) tetapi selang 20 menit kemudian tiba2 orang ini memanggil dengan sebutan “mbak”. Aneh, karena kok nggak konsisten ya? Sejenak saya berpikir “Oh, mungkin dia baru saja menabrak tembok jadi lupa dengan lawan bicaranya. Lagi-lagi saya merasakan ada jarak dan seperti orang yang baru dikenal saja. Kesimpulan saya, hmm…orang ini tidak benar-benar ingin bicara dengan saya. Tidak fokus dan terkesan ignorant. Terus terang saya malas menanggapi orang-orang seperti itu.

Lebih aneh lagi kalau orang yang biasa memanggil dengan “eka” lalu tiba-tiba memanggil dengan “wita” kesannya sok kenal sok deket hahaha (bercanda kok).

Kesimpulannya, disapa dengan kata sapaan yang bukan biasa dipakai oleh orang yang (padahal) selalu menggunakan kata sapaan itu adalah:

  1. Terkesan ingin menciptakan jarak. Contohnya, kalau sudah putus, tidak mungkin dong masih memanggil “sayang” atau panggilan mesra kepada mantan pasangan.
  2. Orang ini lupa tapi tidak enak untuk tanya karena malu dong udah kenal lama tapi nggak hapal namanya (oh sedihnya, sudah berteman sekian tahun tapi nggak hapal juga).
  3. Ada sedikit ketidakpedulian pada lawan bicara. Artinya, orang tersebut tidak benar-benar ingin bicara dengan si lawan bicara (kasihan banget)

Inti dari komunikasi itu kan agar pesan yang sudah kita maknai tersebut bisa tersampaikan pada lawan bicara kita. Jika lawan bicara memberi respon seperti yang kita harapkan berarti pesan kita sampai dengan baik. (wow, kok saya masih inget ya isi mata kuliah dasar-dasar komunikasi saya 10 tahun silam? Hehe”

Bagaimana mau berkomunikasi dengan baik, jika lawan bicara diperlakukan seperti tong sampah? Coba perhatikan kata-kata yang digunakan sebelum menyampaikan pesan. Perhatikan apakah lawan bicara anda senang dan nyaman dengan kata-kata yang anda pakai karena lawan bicara anda bukan mesin.

Jika ingin dihargai, diperhatikan maka hargailah, perhatikanlah terlebih dahulu lawan bicara kita.

Terdengar sepele memang, tetapi buat saya penting karena kata sapaan itu tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, kan? Karena porsi kedekatan kita dengan tiap-tiap orang sudah pasti berbeda.

Terlebih lagi tingkat kenyamanan juga dipertaruhkan (tsah!) di sini. Kalau belum cerita sudah nggak nyaman cuma gara-gara kata sapaan, bagaimana lawan bicara mau mendengarkan anda kalau anda saja tidak peduli dengan si lawan bicara.

Ada yang merasakan hal yang sama nggak, kayak saya?

*postingan iseng yang nggak penting*

8 thoughts on “Panggilan dan Sapaan

  1. heheheh aku selalu panggil wit atau wita ya?
    dan kamu panggil neechan (hanya kamu dan Uda Vizon yang panggil begitu)

    Cuma kadang-kadang kalau mau godain orang aku suka panggil dengan bu atau mbak atau jeng.

    Lagi sebel waktu nulis ini ya jeng😀

    EM
    and you know, nama panggil yang paling aku suka adalah mel, imel, atau melda. Becoz its may real name… bukan emi yg notabene nama di dunia maya😀
    But mau tidak mau karena aku pakai nama emi ya harus terima dong. Dan itu yang membedakan orang ini aku kenal di nyata atau di maya😉

    (lagi senang dipanggil imel oleh orang yang biasa panggil aku zus/mbak hahaha)

    EM

    • heheh sediki sebel sih, jd iseng aja kutulis. waktu itu pernah jg ngebahas ini sama temen, ternyata asik juga buat dibahas haha (nggak penting juga).

      iya betul neechan. neechan konsisten manggil itu dari pertama kali kenalan sampai sekarang. walaupun kita jarang ngobrol tp itu aja sudah menunjukkan bahwa neechan nggak lupa sama aku dan dengan apa aku dipanggil. jd nggak merasa asing hehe.

      coba klo neechan tiba2 manggil aku, “hey,eka apa kabar?”. aku akan mikirr “heee, neechan dh lupa sama aku” (nangis sesenggukan di pojokan).

      Makanya aku suka dengan konsep salutation-nya org jepang hehe. Biasanya dengan orang yg baru kenal nggak akan dengan enteng manggil dengan nama depan. pasti nama keluarganya. Karena nama depan, nama kecil, kan biasanya menunjukkan seberapa dekat org itu dgn yg dipanggil. Walaupun skrg kyknya bnyk juga yg senang atau ok2 aja dipanggil pakai nama depan hehe.

      Bisa dibilang “eka” itu nama formalku. Kalo di lingkungan kerja, aku lbh suka mengenalkan diri pakai nama “eka”. Sedangkan wita, witcha, weetha, itu semua sifatnya casual atau informal, “ngakrabi” gitu bahasa inggrisnya hehehe

      Hihi mungkin aku yg aneh ya? Merhatiin orang sampai ke detil kayak gini. cuma kadang suka merasa nggak nyaman aja. Tapi aku jadi tahu mana orang yang know me so well, mana yang nggak (alahh si wita ini banyak cincong deh) haha

  2. Saya panggil Wita kan? Hehe.. kadang2 Witcha deh… keseringan liat di facebook nama itu sih😀

    Kalo Mba EM saya panggil Mba EM, abis keseringan baca mba EM komen pake nama EM

    Tapi saya juga pernah tuh, agak risih dengan orang yang panggil saya dengan panggilan Lady, walaupun akhirnya tersanjung karena dia berusaha jadi keluarga dekat saya (saya di rumah dipanggil Lady) Setelah saya terbiasa dia panggil Lady, suatu saat dia panggil saya Clara, saya schok banget, hiksssssssss… apa dia sedang merasa jauh dari saya? Tapi sekarang udah terbiasa deh, kan manusia tempatnya salah dan lupa, halah..

    Saya panggil suami dengan Bep, bukan ‘babe’ (beib) karena mau olok2 dia aja awalnya, hahaha, malah keterusan sampe nikah…

  3. waduh kayaknya pengalaman langsung yak tul..hehehe.

    gw jg empet banget kalo dgr kata “babe( emang nya babeh babeh! hahahha,hubby…halah halah kayaknya geli ya..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s