Lari, lari!

Perjalanan Roma – Munich memakan waktu kurang dari dua jam. Saya sudah ketar ketir tentang persinggahan di Jerman ini. Apa pasal? Jarak antara penerbangan berikutnya ke Abu Dhabi hanya 1 jam 10 menit. Begitu pesawat mendarat, saya langsung berlari mencari Terminal C yaitu keberangkatan Internasional.

Lari, lari, lari! (ya, kali ini tidak lagi mendorong troli karena bagasi sudah di-transfer sampai Jakarta).

Lari-lari dengan panik seperti ini, mengingatkan saya pada Keluarga McAllister di film Home Alone 2: Lost in New York. Hmm…semoga nasib saya nggak seperti si Kevin, ya? Soalnya kan pernah juga nyasar dan buat Lost in Morioka. Nah, kalo judul postingan selanjutnya Lost in Munich, kan gk lucu. Hehehe

Ok, saya sampai di Terminal C (dengan napas tersenggal-senggal, pastinya). Loket cek in terlihat sepi (lha, iya, wong pesawatnya udah boarding!). Sembari menunggu mbak petugas melakukan cek in, di sebelah loket terlihat pemandangan yang saya takutkan dari awal ketika melihat jadwal persinggahan yang amat teramat sangat singkat ini di Munich: antrian imigrasi (glek!).

Masih 50 menit dari jadwal tinggal landas pesawat menuju Abu Dhabi, demikian yang tertera di layar monitor di atas saya. Tapi hati saya tetap kecut melihat antrian pemeriksaan paspor. Apalagi di belakang booth imigrasi itu adalah security check. Makin kecut ketika melihat kumpulan orang di depan saya adalah keluarga yang rata-rata membawa anak kecil. Makin lama, hiiiiyyy. Mereka pasti mendahulukan saya, ya kan? Ya kan? Pesawat saya 30 menit lagi berangkat, atau mereka (maskapai penerbangan) pasti menunggu penumpangnya, ya kan? Ya kan?, batin saya cemas nggak karuan. Hati saya bergidik ketika membayangkan harus ketinggalan pesawat hanya gara-gara antrian panjang.

Ketika giliran saya tiba, petugas imigrasi langsung sumringah melihat paspor saya. “Aha! Indonesia!” serunya. “Yes” jawab saya sambil tersenyum namun dalam hati berkata, “Oh, tau Indonesia? Suka Indonesia? ok, bisa saya dipercepat?”.

Untung petugasnya nggak banyak cing cong. Untung dia orang Jerman. Saya nggak bisa bayangkan kalau dia orang Italia. Ya, orang Italia itu suka ngobrol tanpa henti.

Saya langsung menuju security check. Ini yang ribet. Saya harus mengeluarkan barang-barang elektronik dan segala sesuatu berbentuk cairan dan krim. Saya malas mengeluarkan laptop sebenarnya tapi daripada nanti harus mengulang, ya sudah saya keluarkan semua termasuk semua beauty kit yang sudah disimpan di travel pack.

Security check, aman. Untung gate penerbangan saya ada tepat di belakang security cek. Melihat pintu keberangkatan belum ditutup, rasa lega dan santai mulai menyelimuti saya. Setelah membereskan isi ransel, saya bergegas menuju gate. Tiket disobek dan perjalanan selanjutnya dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s