Solo Traveler


Sekitar pukul 12, saya sampai di Stasiun Termini, Roma. Ribuan orang menyemut di dalam stasiun tersibuk di Italia ini. Traveler dari berbagai penjuru dunia dengan backpack mereka lalu lalang. Sebagian duduk membaca buku di depan toko-toko yang berjejer di dalam stasiun. Loket pembelian tiket pun penuh dengan antrian panjang. Ya, musim panas adalah musim liburan dan musim tersibuk di Eropa.

Karena saya masih berniat untuk berkeliling kota ini, maka niat ketika turun kereta untuk mencari penitipan koper langsung dijalankan. Cukup gampang menemukan tempat ini, tinggal ikuti saja papan petunjuk yang cukup besar. Lokasi penitipan barang ada di ground floor. Dikenakan biaya 10 euro per bagasi dengan berat max. 20 kilo untuk lima jam penggunaan.

Urusan menitipkan barang selesai, saatnya berpetualang di kota ini seorang diri, ajak saya pada diri sendiri. Saya berjalan menuruni tangga menuju peron metro (kereta bawah tanah). Masih bingung antara akan menyambangi Spanish Footsteps atau Trevi Fountain (lagi). Ketika awal tiba di Roma tahun lalu, saya dan ketiga teman berpeluh setengah mati untuk menemukan air mancur yang dalam bahasa Italia-nya disebut Fontana di Trevi ini. Akhirnya saya tergelitik untuk menemukannya lagi. Kali ini sendirian.

Sesungguhnya melakukan perjalanan sendirian itu mengasyikkan, bagi saya lho. Seperti baru saja saya baca tweet dari seorang travel writer senior yang mengatakan:

 “Traveling sendirian akan member lebih banyak ruang dan waktu untuk melihat, berpikir, merenung, dan akhirnya memunculkan kesadaran baru” – Teguh Sudarisman

Membayangkan berpetualang sendiri, ehm! Tidak sendiri ding, tapi hanya saya dan Allah SWT.

Dari awal ketika tahu akan pulang tanpa teman, kemudian akan menghabiskan satu hari di Roma kemudian perjalanan lintas negara, benua, dan melakukan persinggahan – persinggahan singkat, saya tidak sabar menanti hari ini tiba.

OK, kembali ke urusan Trevi Fountain. Menemukan Trevi Fountain kali ini semudah membalikkan telapak tangan. Sungguh, saya nggak bohong. Kalau dulu harus nyasar dan bertanya sana sini. Kali ini, begitu keluar stasiun metro lurus belok kiri dan kanan lurus, langsung terlihat jejeran toko souvenir, restoran dan cafe yang berujung pada kerumunan manusia, yang saya percaya 99 persen di antaranya adalah turis, di depan air mancur yang terkenal dengan tumpukan koin di dasarnya.

Ya, rata-rata mereka yang datang kemari pasti melempar koin ke dalam kolam dan memanjatkan harapan mereka. Kabarnya koin yang dilempar harus euro (entah harus mutlak atau tidak) tapi tahun lalu saya melempar koin rupiah, ya koin 500 rupiah yang ada di dompet saya. Konon jika melempar koin ke dalam kolam maka kita akan kembali ke Roma lagi. Mungkin karena saya melempar 500 rupiah tahun lalu, jadinya saya tidak hanya kembali ke Roma tapi juga ke Indonesia hehe.

Matahari mulai surut di Roma dan saya juga harus pergi menuju airport. Ya, malam ini saya akan bermalam di Fiumicino karena pesawat saya baru berangkat jam 9 pagi esok hari. Kebetulan seorang teman dari Indonesia juga pulang hari itu jadilah kami janji bertemu di airport. Agak sedikit deg-degan ketika melihat battery bar di ponsel berwarna merah. Waduh, gimana cara ngasih tau kalau sudah sampai ya? Batin saya.

Sekitar jam enam sore, saya sampai di Fiumicino dengan bus. Ponsel hanya dipakai satu kali untuk bertanya lokasi untuk bertemu, sesudahnya mati total. Untuk yang kesekian kalinya, hari itu saya bolak balik mendorong si koper kuning. Terminal 3 yang luas bin ramai itu, menjadikan perkara menemukan satu mahasiswa Indonesia berwajah oriental, teman saya si Han ini, jadi pekerjaan yang tidak mudah.

Setelah dorong sana sini, keluar masuk  mengecek setiap pintu di area keberangkatan terminal 3, saya bertemu juga dengan si Han. Lumayan ada teman ngobrol sampai waktunya dia berangkat malam ini dan saya menginap semalam. Kami cukup beruntung menemukan tempat duduk yang kosong lengkap dengan colokan listrik. Waktunya men-charge baterai ponsel saya. Ini penting!

Setelah beruntung menyambar dengan cepat troli pengangkut barang yang menganggur (lumayan bisa menghemat karena harus memasukkan koin 2 euro untuk bisa menggunakan troli ini), kami mulai menyamik makanan masing-masing. Han makan bekal yang dibuatnya sendiri tadi pagi dan saya menggerogoti wafel dan menenggak susu coklat botolan.

Tidak terasa sudah waktunya Han untuk boarding. Berpisah di depan pintu imigrasi, saya mendorong troli saya ke  arah terminal 1. Ya, ternyata penerbangan saya berangkat dari terminal 1 bukan 3. Di terminal 1 lebih sepi, tidak banyak orang lalu lalang. Saya mencari bangku kosong untuk tidur. Ketemu!

Setelah menata tas dan memposisikan agar troli tidak jauh dan gampang diraih, saya mulai mengistirahatkan badan ini. Besok pagi, perjalanan yang sebenarnya baru akan dimulai.

6 thoughts on “Solo Traveler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s