Insomnia

Posted On December 12, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Saya masih tertidur lelap sekali (mimpi indah pula) ketika saya mendengar ketukan di pintu. Ketukan pertama saya abaikan, karena saya pikir, ah cuma mimpi. Namun ketika ketuka kedua terdengar jelas, saya pun terbangun “ini pasti adik saya dari kamar sebelah” saya piker. Dengan malas saya bangkit dari tempat tidur, menyalakan lampu dan membuka pintu dengan mata masih setengah terbuka. Dan benarlah di depan pintu adik perempuan saya itu dengan daster kesayangannya berdiri dengan raut wajah cemas. Saya lantas bertanya “kenapa?”

“Temenin aku dong, aku nggak bisa tidur nih, pindah tidur di kamarku aja deh” jawabnya.

Haduuhh, pindah tidur kamarmu?! Saya ini lagi enak-enak tidur kok malah disuruh pindah!

“Udah deh, tidur sini aja kalo takut” ujar saya.

“Tapi aku mau maen internet” katanya.

“Ya udah, pake laptopku aja“ jawab saya. Malas sekali berdebat ketika jam menunjukkan pukul 01.52 AM.

source: www.greenhealthspot.com

Waduh, insomnianya kumat nih!

Menurut wikipedia Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.

Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.

Kembali pada adik saya…

Akhirnya dia dengan sigap membawa peralatan tidurnya: guling, bantal dan selimut, dan pindah ke kamar saya. Saya menyalakan laptop dan memasangkan internet. Kalau buat saya sih ada untungnya dia internetan di kamar saya, itu artinya donlotan dorama saya bisa lanjut hihihi (maklum sambungan internet cuma satu, jadi kalau mau pakai harus gantian tarik kabel sana sini).

Akhirnya internet sudah tersambung. Namun berhubung lampu kamar menyala, saya jadi tidak bisa tidur lagi. Ditambah nyeri di tenggorokan dan kepala yang pusing. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai satu untuk mengambil minum.

Saya membuat teh panas, dan roti tawar (laper bo!) sambil mencari-cari program tv apa yang masih ada pada dini hari seperti ini. Akhirnya saya menemukan program tv yang pas sekali dengan judul postingan ini “MTV Insomnia”. Acara yang tidak jelas tapi membuat saya dan adik saya tertawa terbahak-bahak. Saya kemudian berkata pada adik saya “orang-orang ini dibayar berapa yah buat ngisi acara live jam 3 pagi, ngelayanin telpon-telpon gak jelas pula” hahaha, dua orang VJ-nya memang beneran nggak jelas, dan ini acara live pula. Duh, makin nggak jelas deh! (^^)>

Akhirnya adik saya cerita tentang kenapa dia tidak bisa tidur. Rupanya dia mendengar “sesuatu” di luar. Kamar kami berdua ada di lantai dua, sedangkan kamarnya langsung menghadap ke luar alias genteng. Dia mendengar suara gedebuk berulang-ulang. Dia takut ada orang yang berusaha masuk ke rumah kami. Hmm…sejujurnya, ini bukan yang pertama kali dia merasa ketakutan seperti ini. Sebelum-sebelumnya juga pernah seperti ini.

Ketika di ruang bawah, saya juga sempat mendengar  “suara-suara aneh“ tapi saya tidak pedulikan. Memang sih kalau seperti ini hati jadi was-was dan tidak tenang. Agak sedikit menjengkelkan sih memang berhubung saya sedang tidak enak badan dari kemarin, saya berharap bisa tidur dengan tenang tapi malah terbangun.

Tetapi ada hikmahnya juga bangun jam 2, saya bisa menunaikan shalat malam dan kemudian lanjut sholat subuh (hore tidak kesiangan lagi). Sekitar pukul 4 adik saya baru terlelap (di kamar saya), dan gantian saya yang tidak bisa tidur. Huh!

Insomnia dan kematian

Sedikit info tentang insomnia, sebuah survei dari 1,1 juta penduduk di Amerika yang dilakukan oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya. Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis – tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian.

Hayoo jangan suka pada begadang~~ (^^;)

Just like Om Roma said “begadang jangan begadaaang~“ (lho kok jadi dangdut gini?! o_O;)

Have a nice weekend everyone!

Kenapa sih harus ada yang namanya 漢字 (kanji)??!

Posted On November 23, 2009

Filed under Daily
Tags: , , , ,

Comments Dropped 8 responses

Ok ini cuma catatan pendek sebelum tidur.
Sore ini baru saja kelar ujian di Mie Gakuen.
Awalnya saya santai-santai saja karena saya pikir saya akan ikut ujian susulan, karena hari Jumat kemarin saya tidak datang ke kelas. Namun apa yang terjadi sodara2? ternyata teman sekelas saya yang 3 orang lainnya itu juga tidak datang! o_O;

Saya baru saja meletakkan tas dan mengeluarkan lembar latihan (akhirnya ketemu) ketika sensei kemudian mengatakan “ok, kita harus cepat, supaya nanti waktu ujiannya cukup” heks! o_O; apa saya tidak salah dengar?? Bukannya saya takut ujian, saya tidak khawatir soal bunpo, yang saya khawatirkan adalah si 「漢字」 ini. Dan kalau memang saya harus ujian kanji malam ini, saya benar-benar nyerah karena satu pun tidak ada yang nyantol di otak saya kecuali kanji 「石北直之」kalo yang ini saya hapal mati! heheh.

Dengan mengerahkan segala daya ingat yang ada (setidaknya selama weekend kmrn saya belajar dan mengerjakan beberapa latihan) dan yak! ujian dimulai!.

Ada 3 lembar soal dan sekitar 8 atau 9 bagian. Dua bagian terakhir adalah kanji. Kanji bagian pertama berupa kalimat. Kami (para murid) harus menuliskan furigana di atas para kanji tersebut. Untuk bagian ini ada 20 soal. Lumayan menguras otak (menarik sekali sebenarnya).

Bagian kedua ada 20 soal juga. 20 hiragana yang harus diterjemahkan ke dalam kanji (beberapa tidak saya isi, otak saya sudah menyerah)

Sebenarnya bunpo tidak begitu sulit tetapi karena otak saya sudah keriting setelah mengerjakan kanji, dan diburu-buru waktu (jam sudah menunjukkan angka 9 ketika saya beralih dari kanji ke bunpo), otak ini tidak dapat berpikir dengan maksimal. Bayangkan masak saya bisa-bisanya lupa cara menulis 「な」. Bodohnya~~Akhirnya, selesai tidak selesai dikumpulkan karena waktu sudah habis.

Ada hal yang bisa saya ambil dalam ujian ini. Kanji memang sulit sekali, bahkan orang jepang pun tidak semuanya hapal mati kanji. Namun, kanji sangat menarik untuk dipelajari (untuk saya lho hehe). Dalam perjalanan pulang saya berpikir “kenapa ada yg namanya kanji sih??” tetapi saya malah tambah bersemangat untuk belajar. Saya masih penasaran. Saya pasti bisa dan saya harus bisa! Saya bertekad untuk tidak mengendurkan semanagat saya belajar. Masih banyak hal yang harus saya pelajari.

Kanji! Saya pasti bisa menaklukkanmu! HUH!


Waktu

Posted On November 11, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 2 responses

Jakarta, 10 November 2009    22.00 WIB

Saya baru saja terbangun satu jam yang lalu. Saya terlelap ketika sedang membaca buku“ Botchan“ karangan Natsume Soseki. Saya memang bukan tipe orang yang akan terjaga terus ketika membaca buku. Terus terang saya membaca buku agar saya terlelap lebih cepat atau memang ingin melupakan masalah-masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Buat saya tidak ada yang lebih menenangkan selain membaca buku di tempat tidur, setelah seharian bekerja.

Kembali pada kenapa saya terjaga. Pintu kamar malam ini memang saya biarkan terbuka karena saya pikir saya pasti terbangun lagi entah jam berapa untuk melakukan sholat Isya. Saya biarkan diri saya terlelap karena memang saya lelah sekali. Saya terlelap sekitar pukul 7.30. dan sekitar satu jam kemudian si mbak membangunkan saya dengan mengatakan kedua orang tua saya sudah pulang dan menanyakan apakah saya ingin makan bersama mereka. Jika ini terjadi biasanya saya akan menolak tawaran tersebut dan melanjutkan tidur saya. Namun malam ini tidak biasa. Entah kenapa saya, yang sebelumnya sudah makan malam bersama adik-adik saya, dengan mata masih mengantuk dan pikiran yang belum sadar penuh, langsung beranjak dari tempat tidur dan menemui kedua orang tua saya.

Duduk bersama mereka di meja makan, bercerita tentang hari masing-masing. Pikiran saya masih belum sadar penuh, kenapa saya melakukan hal itu. Hahaha mungkin jauh di alam bawah sadar saya, sebenarnya saya merindukan mereka.

Saya bisa dibilang jarang bertemu mereka. Terdengar aneh memang. Tinggal satu rumah tapi jarang bertemu. Kedua orang tua saya bekerja di perusahaan yang sama. Mereka berangkat pagi sekali dan pulang sekitar pukul 9. Malam ini mereka pulang lebih awal. Biasanya kalau mereka pulang, saya sudah tidur, dan ketika mereka berangkat saya belum bangun.

Ayah saya pernah berkata “kamu itu seharusnya bangun pagi, biar bisa sempet ngobrol sama papa dan mama. Siapa tahu itu terakhir kali ketemu“

Hal itu dikatakan ayah saya ketika gempa besar terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu. Dan memang, pada saat kejadian, saya tidak bisa menghubungi mereka berdua. Namun syukurlah mereka tidak apa-apa. Dari situ saya kemudian merenungkan kata-kata ayah saya tersebut. Beliau tidak marah, hanya saja mengingatkan tidak ada yang pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita.

Sejak saat itu saya sering kali mengumpat pada diri saya sendiri ketika saya bangun dan mendapati kedua orang tua saya sudah berangkat.

“Bangun pagian dong wit! Kalo nggak bisa ketemu lg gimana“

Itu yang ada di pikiran saya ketika memandang garasi yang sudah kosong.

time-flies-clock-10-11-2006

Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa kita tarik kembali. Waktu itu bagaikan nafas yang tidak dapat ditarik kembali. Begitu yang pernah saya dengar. Bagi orang arab, waktu dianggap seperti pedang karena memiliki dua sisi. Di satu sisi kita dapat menggunakan untuk menebas namun di satu sisi ia dapat menebas kita jika tidak dipergunakan dengan baik.

Dan mungkin hal itu yang membuat saya tergerak untuk duduk di meja makan bertiga dengan kedua orang tua saya. Saya tidak tahu berapa banyak waktu yang saya punya untuk mereka. Ataupun waktu yang mereka punya untuk saya. Ketika ayah saya memberitahu bahwa ibu saya akan bertugas ke Medan hari kamis besok, ibu saya berkata „“sudah mau pensiun, tapi malah jadi lebih sering ditugasi ke luar kota“. Mendengar itu saya spontan menimpali „“mungkin karena mau pensiun ma, jadi ditugasi ke luar kota, kan enak jalan-jalan“. Kami bertiga hanya tertawa.

Namun saya tertegun. Pikiran saya melayang pada peristiwa salah satu teman ayah saya yang kehilangan istrinya karena kecelakaan pesawat. Saya memang tidak pernah suka naik pesawat. Bukannya saya menyumpahi ibu saya atau apa. Tapi terkadang pikiran konyol terlintas dalam pikiran saya.

Pikiran saya masih kosong. Saya tidak tahu kapan waktu saya tersisa. Apakah tiga tahun, dua tahun, satu tahun, satu bulan, satu minggu atau besok adalah waktu terakhir saya. Terkadang itulah yang memenuhi pikiran saya jika saya sedang berkendara dengan motor saya.

Entah kenapa, saya merasa waktu saya tidak banyak tersisa. Entah kenapa. Jangan tanya saya karena sayapun tidak tahu jawabannya.

Tentang Servis

Posted On October 13, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Sebenarnya sudah cukup lama ingin menulis tentang cerita perjalanan saya sewaktu di Jepang, tapi baru ada waktu (halah sok sibuk banget sih). Jadi insyaallah, mulai hari ini saya mau rajin memposting sekedar berbagi cerita dengan semuanya. Karena membaca postingan terbaru dari neechan Imel, saya jadi teringat dengan pengalaman saya ketika berada di Jepang.

Membaca postingan ini saya teringat bahwa minggu kemarin sensei saya baru saja membahasnya di kelas. Beliau yang pernah pergi ke Jepang, sangat mengamini fakta bahwa Orang Jepang memiliki kualitas yang menurut saya TOP dalam hal hospitality, baik itu usaha kecil maupun besar.

Sensei saya mengatakan, mereka (Orang Jepang) tidak boleh menunjukkan ketidaksukaan terhadap customer. Jadi walaupun kesal setengah mati, mereka tidak boleh menunjukkan hal tersebut di depan pelanggan.

Saya juga menjadi saksi dari pelayanan dari orang Jepang ini. Contoh ketika saya turun di Stasiun Morioka, untuk berganti kereta menuju Akita, saya membeli satu botol kecil air mineral yang harganya tidak lebih dari 300 yen. Tangan kiri saya memang penuh dengan brosur, peta dan buku panduan tentang Akita yang diberikan oleh si Nanonano (heran ini orang di setiap stasiun kerjanya ngambilin brosur travel, hehhee memang sih untuk saya, arigatou nanonanochan), dan ketika saya ribet cari uang receh untuk membayar air minum itu, tiba-tiba si Nanonano colek colek menyuruh saya untuk melihat ke counter.

Ternyata si kasir dengan wajah penuh senyum menyodorkan kantung plastik berwarna putih yang lumayan besar (terlalu besar untuk botol minuman saya yang hanya seukuran Aqua 300ml). karena saya piker itu untuk botol minuman yang sudah saya beli, tentu saja saya menolak (maksudnya tidak usah pakai plastik) si kasir kemudian nyerocos pakai bahasa jepang yang kemudian ditranslate oleh Si Nanonano “itu buat brosur-brosur, dia kasih kamu plastik buat itu, biar nggak ribet”

Oh! Saya langsung meminta maaf dan berterimakasih. Kemudian saya berpikir hmm sampai segitunya memperhatikan pelanggan, padahal ini cuma swalayan kecil (semacam Indomart atau alfamart kalau di Indonesia).

Jika dibandingkan dengan kualitas pelayanan di Jakarta? Wah, jauh sekali! Kalau disini malah kita yang harus nanya “Bang, ada kresek yang gedean nggak?” baru deh dikasih. (hehehe pengalaman belanja di pusat tekstil di daerah Jakarta Pusat). Satu lagi jenis “pelayanan” yang tidak saya suka adalah “mbuntut” pelanggan. Hal ini sering saya ditemui di pusat-pusat perbelanjaan besar. Sebagai contoh sebuah toko sepatu “B” dimana begitu kita masuk, pelayan took langsung “mbuntut”I kemanapun kita bergerak. Mungkin mksudnya jika pelanggan butuh bantuan, mereka langsung siap sedia. Namun kalau bagi saya kok kesannya jadi seakan-akan kita ini maling yang diawasi kalau-kalau mau mencuri.

Pernah saya ingin masuk ke dalam sebuah toko baju yang lumayan terkenal karena tertarik dengan tulisan “diskon 70%” tapi dicegah adik saya. Ketika saya Tanya alasannya kenapa, dia hanya menjawab “malas!”. Saya paling sebal dengan jawaban itu. Namun, setelah berada lumayan jauh dari toko itu barulah dia menjelaskan kalau mbak-mbak pelayan toko itu selalu mengikuti pelanggan yang masuk ke toko tersebut. Ah saya baru mengerti. Kalau seperti itu, malah membuat pelanggan merasa tidak nyaman, apalagi kalau tidak berniat membeli seperti saya contohnya :P hehehe

Perang Ketupat

Posted On October 6, 2009

Filed under Tourism
Tags: , , , , , ,

Comments Dropped leave a response

sumber: thejakartapost.com

sumber: thejakartapost.com

Perang yang satu ini jauh dari imej darah, senjata, granat dsb. Malah, kalau seandainya pernah menyaksikan mungkin lebih baik bawa piring hehe. Ya, Perang Ketupat namanya. Perang ini adalah sebuah ritual tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung, propinsi Bali.

DSC-9215-500

Tradisi ini sering juga disebut Aci Rah Pengangon oleh masyarakat setempat. Ritual ini diawali dengan upacara sembahyang bersama oleh seluruh warga desa di pura setempat. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Ketupat ini.

Setelah upacara selesai, para peserta akan menyiapkan “amunisi” masing-masing yang berupa “tipat” dan “bantal” (semacam ketupat). Ribuan ketupat yang digunakan dalam acara ini merupakan hasil sumbangan dari warga Desa Adat Kapal, Badung. Setelah semuanya siap, jalanan yang ada di depan pura akan ditutup selama 30 menit untuk semua kendaraan bermotor.

DSC-9229-500

Para warga akan berkumpul di sepanjang jalan dan terbagi dalam dua kelompok yaitu utara dan selatan. Kemudian, “perang” pun dimulai. Aksi saling lempar ketupat ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Terkadang tak jarang ada ketupat “nyasar” kea rah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen ini. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tidak ada dendam.

Perang Ketupat merupakan bentuk rasa terima kasih warga kepada Sang Hyang Widhi atas panen juga sebagai doa agar terhindar dari kekeringan. Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Tipat atau Topat di daerah Lombok dan Makassar. Hanya saja waktu pelaksanaannya berbeda. Perang Tipat di Lombok dan Mataram jatuh pada bulan Desember ketika bulan purnama.

Perang Tipat juga telah menjadi salah satu atraksi wisata yang popular setiap tahunnya di Lombok. Namun yang paling penting adalah sebagai bentuk kesadaran atas toleransi antar umat yang telah dilakukan turun temurun oleh para leluhur kita.

Mungkin festival serupa bias ditemukan di Spanyol dengan festival tomat atau Belanda dengan festival jeruknya. (Wta/06192009)

Sumber: dari berbagai sumber, photo credit to Putu Eka

My International Friend

Teman Internasional, jika diterjemahkan secara harfiah mungkin itulah arti judul postingan kali ini. Teman internasional biasa diartikan teman yang berasal dari negara lain.

Mungkin sebagian dari kita memiliki teman seperti ini, entah mungkin satu sekolah (buat yang sekolah di International School), atau mungkin rekan kerja,  atau melalui dunia maya.

Punya kawan dari luar negeri mungkin akan membuat sebagian kita merasa keren. Alasannya? mungkin karena kita dianggap punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi, karena mereka orang asing yang memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, dan juga latar belakang budaya yang berbeda.

Buat saya, memiliki kawan asing, yah lebih mengarah pada kata “menyenangkan”, tapi pada dasarnya saya suka berteman dari siapapun (bukan hanya orang asing saja lho). Hanya saja, berteman dengan orang asing memberi kesempatan bagi kita untuk mengetahui hal-hal baru diluar masyarakat kita, seperti budaya, bahasa, cara pandang dan masih banyak lagi.

Mungkin hal itulah yang dirasakan oleh para siswa sekolah dasar ini. Saya bertemu mereka ketika sedang berkunjung ke Kuil Asakusa di Tokyo, pada bulan Maret yang lalu. Awalnya saya memang melihat ada begitu banyak siswa siswi sekolah dasar yang berseliweran di sana sini.  Saya pikir mereka sedang berdharma wisata.

Tetapi kemudian saya melihat beberapa dari mereka membawa papan dengan sebuah kertas yang bergambar peta dunia. Beberapa kali saya beradu pandang dengan anak-anak ini. Ketika melihat saya, mereka kemudian berbisik-bisik pada temannya. Saya hanya tersenyum.

Kemudian empat orang dari mereka (seingat saya lho) dan seorang wanita muda yang ternyata guru mereka mendatangi saya. SI ibu guru ini menjelaskan pada nanonano chan (yang kemudian dijelaskannya pada saya) bahwa siswa siswi sedang dalam kegiatan mengumpulkan teman-temang orang asing yang ada di kuil tersebut.

Foto bersama siswa siswi SD di Asakusa

Foto bersama siswa siswi SD di Asakusa

Anak-anak ini diharuskan berkenalan dengan orang asing dengan bahasa inggris dan menanyakan dari mana negara mana. Orang asing yang ditanya akan dipersilahkan menempelkan sebuah bulatan berwarna merah di peta dunia yang teragantung di dada salah seorang siswa. bulatan merah itu akan menunjukan letak negara asal dari si orang asing ini.

Setelah diberi penjelasan bahwa saya bersedia bercakap-cakap dengan mereka, para siswa ini kemudian berjejer di depan saya dan satu per satu mulai memperkenalkan diri.

“Hello, my name is ….. (heheh saya lupa namanya) What is your name?”

lalu saya jawab dengan nama saya.

Kemudian, salah seorang siswa wanita menyikut temannya supaya menanyakan dari mana asal saya sembari memberikan stiker bulatan kecil berwarna merah tersebut. (lucu banget lhooo anak-anak ini)

Saya kemudian menjawab sambil menempelkan bulatan merah tersebut di peta pulau Jawa.

“I’m from Jakarta, Indonesia”, jawab saya yang kemudian diikuti dengan “Whoaaaa, Indonesia!” oleh para siswa tersebut.

Mereka kemudian mengakhirir sesi tanya jawab yang singkat tersebut dengan mengucapkan “thank you very much for being my international friend. It is nice talking with you”

Saya kemudian diberi souvenir berupa origami yang berbentuk shuriken yang terbuat dari kertas. Nanonanochan pun kebagian shuriken tapi ukurannya lebih kecil dari punya saya. Tapi akhirnya toh, saya menyimpan dua shuriken ini di dalam dompet sampai sekarang.

souvenir Shuriken (yang kecil buat si nanonano, yg besar untuk saya)

souvenir Shuriken (yang kecil buat si nanonano, yg besar untuk saya)

Gara-gara Osekkai!

Hmm gara-gara ngebahas tentang “Sewa” dengan neechan Imelda tadi pagi, saya jadi tergelitik menanyakan apa sih padanan kata untuk “Iseng” dalam bahasa Jepang. Karena terus terang kedua kata ini sempat menimbulkan kesalah pahaman ketika saya di Jepang.

Ternyata bahasa Jepang untuk “Iseng” (menurut neechan imelda) adalah “Itazura”. Okeh, saya setuju. “Itazura” juga berarti “Nakal” (bener nggak sih?^^). Hmm… kalau “Nakal” kesannya gimanaaa gitu ya? hehhe

Sedangkan insiden yang berhubungan dengan kedua kata ini terjadi ketika saya sedang berada di Jepang bulan Maret yang lalu.

Ceritanya saya diajak berkunjung ke rumah salah satu temannya si “Mas N”. Setelah makan malam yang cukup mengenyangkan, kami berempat mulai mengobrol. Mas N, bercerita tentang keusilannya di Hasshoku Senta (Hachinohe Food Centre).

Di tengah-tengah obrolan, saya sibuk mencari padanan kata “Usil” di kamus saku saya di bagian Indonesia-Jepang (selama di Jepang, saya kemana-kemana selalu bawa kamus pocket, cukup membantu hehe), kemudian nyeletuk “Osekkai” (dengan tampang tidak bersalah) yang di dalam kamus berarti “Usil”.  Mas N yg tadinya ketawa-ketawa langsung diam.

Dia tanya,”Me? Osekkai?”

Saya dengan tersenyum sambil mengangguk “Un!” (sambil nunjuk kata yang dimaksud dengan mantab).

Dia balik tanya lagi, “lho, kamu kenapa marah sih?aku nggak ngerti” (dlm bhs Inggris)

Ha? saya langsung melongo. Lho…kok jadi gini? saya nggak marah n tambah nggak ngerti. Temannya yang di depan saya juga ikutan melongo (temannya ini tidak mengerti bahasa Inggris).

Ketika balik mencari dan menemukan kata “Osekkai” di bagian Jepang-Indonesia yang artinya “usil atau suka mencampuri urusan orang lain” saya langsung panik. Waduh! bukan itu maksud saya.

Dia kelihatan rada bete karena saya mengatakan hal itu di depan temannya (waa panik panik…)

Akhirnya saya menunjuk kata “Itazura” untuk menjelaskan bahwa ini maksud saya. Dia bilang dia mengerti maksud saya. Dia bilang untung dia ngerti bahasa Inggris jadi bisa mengerti penjelasan saya.

“Tapi kalo kamu bilang “Osekkai” ke orang Jepang lainnya yang nggak ngerti bahasa Inggris, mereka bisa sakit hati lho”

Yaiks! o_O;

Akhirnya kesalahpahaman ini dia jelaskan pada temannya (bisa dibilang membela diri sih) bahwa bukan maksud saya kasih komen seperti itu.

Sotoy? iya. Malu? nggak usah ditanya lagi deh (pengen rasanya gali lubang & masuk ke dalamnya, terus nggak keluar keluar lagi).

Dari neechan Imelda juga saya mendapat penjelasan bahwa “Osekkai” juga berarti cerewet (kata sifat) yang biasanya dialamatkan pada wanita. Kalau mau bilang cerewet lebih baik pakai “Urusai”.

Ampuooonnn, pantes dia buete buanget!

Habis saya gemes liat kelakuannya yang memang super iseng. Gimana nggak ? Masa ada bapak-bapak yang pakai wig (rambut palsu) dikomentari, “eh, ada Alien tuh!”

Hayo, kalau bukan iseng, apa coba namanya?

Oalah Osekkai… Osekkai…^^;

-witcha-

NB. sampai sekarang kalau membahas kejadian ini dia cuma komen “baka jisho” = kamus bego, karena gara-gara kamus ini kami berdua hampir bertengkar haha ^^;

Inilah si baka jisho

Inilah si baka jisho

Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

“Merah itu artinya berani
Putih itu artinya suci”

Kata-kata itu selalu teringat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Segala macam atribut berbau merah putih memang selalu kita sematkan hampir setiap hari, mulai dari topi, seragam, dasi, sampai waktu jaman saya SD dulu setiap hari jumat dan senam pagi bersama, kami harus memakai semacam rumbai2 yang terbuat dari tali rafia di kedua tangan (mirip pom2nya cheerleader) yang warnanya merah putih. Maksudnya apa? saya juga nggak gitu ngerti waktu itu, yang pasti kalau tidak bawa, wajah langsung pucat pasi. Langsung kena hukum (heran deh, apa2 dihukum jaman itu).

Kalau boleh bertanya, kapan sih terakhir merasa nasionalis? kalau saya akan menjawab, mungkin waktu SMA dulu. Karena setiap hari Senin masih (harus!) ikut upacara bendera dsb. Mulai masuk kuliah, sedikit-demi sedikit rasa nasionalis itu mulai terkikis. Paling2 merasa nasionalis banget klo liat tim bulu tangkis Indonesia bertanding dan menang heheh kalau kalah? heehee matiin tv aja ;p

Tapi tahun ini entah kenapa jiwa nasionalis itu perlahan-lahan tumbuh kembali. Ada dua hal yang membuat saya berkaca. Yang pertama, perjalanan ke Jepang. Mungkin benar, di saat kita jauh dari Ibu Pertiwi, semakin kita sadar siapa kita, dan bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah orang asing yang bukan sebangsa. Saya baru merasakan itu ketika saya harus berulang kali menunjukan letak Jakarta dan Indonesia di globe mini, atau menjawab pertanyaan2 seputar Indonesia dan budayanya. Menjawab pertanyaan2 dari teman2 Jepang tersebut sebenarnya cukup mudah namun saya cukup berhati-hati menjawabnya, jangan sampai menimbulkan kesan negatif (jadi mirip ujian kewarganegaraan heheh). Berada disana juga seperti membawa beban moral buat saya karena saya harus membawa imej positif tentang Indonesia (saya rasa ini juga kewajiban bagi setiap WNI dimanapun mereka berada) dan ini dengan sendirinya menumbuhkan rasa cinta tanah air (beneran lhoo hehe)

Yang kedua, kedatangan sepupu2 dari jauh. Yang membuat saya kagum pada mereka adalah mereka menyadari betul kalau mereka masih memiliki darah Indonesia. Bela2in pergi ke mangga dua, panas-panas, desak2an cuma mau cari apa? Kaos Timnas Sepakbola Indonesia! yang dengan bangganya mereka tunjukkan pada saya (sungguh terharu waktu mereka menunjuk Garuda Pancasila di dada kiri kaos tersebut).

Jadi walaupun besar dan tumbuh di negara lain tidak membuat mereka lupa akan kulitnya. Saya merasa kalah karena jiwa nasionalis mereka jauh lebih tinggi dibanding saya yang lahir dan besar di negara ini. Saya baru menyadari betapa saya harus belajar banyak dari mereka, belajar bangga menjadi seorang manusia Indonesia.

Hmm…tugas yang cukup menantang. Tapi saya yakin saya bisa. Saya tidak harus menjadi duta besar atau duta budaya atau duta2 yang lain agar budaya Indonesia dikenal dunia. Cukup dengan menjadi orang Indonesia, dengan sendirinya kita sudah menjadi duta bagi bangsa ini.

Kita masih punya banyak pekerjaan untuk bangsa ini. Tidak perlu hal yang besar, bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan berusaha menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Amin.

“kalau mati, dengan berani;
kalau hidup dengan berani.
Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa menjajah kita.”

- Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Dirgahayu Indonesia!

-witcha-

Bad News is A Good News

Posted On July 14, 2009

Filed under Daily
Tags: , , , ,

Comments Dropped 4 responses

Buat yang belajar jurnalistik pasti tahu banget sm kalimat ini. Dulu waktu masih belajar di universitas, agak sedikit berpikir “kejam juga yah, dimana orang menderita, di situlah wartawan menuai berita”. Misalnya berita tentang banjir, kalau dari sisi kemanusiaan agak-agak nggak etis juga sih. Orang kesusahan tapi itu adalah sumber nafkah para pencari berita.

Tapi hari ini, kata-kata “Bad news is a good news” terngiang-ngiang di kepala.

Kenapa?

Yah, tadi siang baru menyadari bahwa kalimat tersebut betul adanya. Begini ceritanya:

Tadi pagi sempat melihat news ticker di salah satu stasiun televisi yang mengatakan bahwa hari ini akan ada 6 aksi protes yang mengepung Jakarta. Saya merasa tertarik untuk melakukan sebuah peliputan sendiri.

Akhirnya mencari tahu dimana saja titik aksi demonstrasi tersebut akan berlangsung. Titik titik aksi protes meliputi: Kantor Departemen Kelautan dan Periklanan (Jakarta Pusat), Gedung Nestle (Jalan Gatot Subroto), Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kedutaa besar Cina, Kantor Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan Pemprov DKI, Bunderan HI.

Bunderan HI

Bunderan HI

Saya memutuskan untuk datang ke bunderan Hi karena dirasa aksi di sana lebih menarik. Sekitar pukul 11.07 sampai di parkiran Sarinah kemudian berjalan menuju Bunderan HI. Jalan memang tampak lengang sekali. Hati sempat berdebar-debar, kira-kira seperti apa ya aksi demo kali ini. Bayangan mengenai kerusuhan sempat terbersit di pikiran.

Tapi apa yang terjadi? begitu sampai di Bunderan HI, disana tidak tampak satu pun kerumunan massa (ataupun bekas kerumunan massa). Saya terus bergerak melewati Bunderan HI. benar-benar bersih dari kerumunan massa, tidak ada satupun tanda bahwa tadi atau bahkan akan terjadi sebuah aksi protes. Kecewa deh!

Akhirnya berjalan menuju Sarinah lagi, sambil foto sana sini. Melewati Gedung Kedubes Jepang, ada banyak kerumunan orang disana (tapi tampaknya bukan berdemo sih). Jam sudah menujuk angka 12 lewat, waktunya makan siang. Sebelum masuk parkiran, menyempatkan makan siomay yang sudah saya incar dari pertama kali sampai. (sebenarnya mau ngeliput demo ato makan siomay sih? hehe)

Siomay Sarinah

Siomay Sarinah

Siomay ini seporsinya Rp6.000, cukup menggiurkan. Dan rasanya juga cukup enak (atau mungkin karena lapar yah?^^;;) Setelah cukup kenyang, saya memutuskan untuk tidak menyerah. Saya akan ke arah Kuningan, mungkin saya masih bisa dapat berita yang lain. Setelah mengisi bensin, motor kembali melaju ke arah Mega Kuningan.

Panas sekali hari ini dan lagi-lagi saya tidak mendapati apapun di depan Kedubes Cina. Tidak mau menyerah, saya mencoba menyusuri Jalan Gatot Subroto. Lagi-lagi nihil. Saya memutuskan untuk beristirahat sambil sholat dzuhur di daerah Menteng. Awalnya mau ke Istiqlal tapi terlalu jauh, akhirnya pilihan jatuh ke Mesjid Al-Hikmah, Menteng. Kenapa mesjid ini? karena sejuk karena pakai AC dan nyaman.

Setelah sholat, saya sudah tidak kuat lagi. Sudah pukul 2 dan di luar sana sangat panas. Akhirnya memutuskan pulang saja. Capek!

Hari ini Jakarta aman sentosa, yang tentu saja membuat saya (sedikit kecewa). Seandainya ada sedikit kericuhan pastinya seru heheheh. Ternyata memang benar Bad News is A Good News ^^

-wita-

Tahukah kamu kalau wortel bisa stress

Posted On June 30, 2009

Filed under Info
Tags: , , ,

Comments Dropped one response

carrot-oilTulisan ini sebenarnya sudah bertahun tahun yang lalu, gara-garanya habis kelar nonton program Deutschewelle (eh bener gk ya nulisnya?) di Metro TV. hehehe

Waktu itu, program acara ini mengulas tentang wortel. Sebuah fakta unik terkuak ketika musim panen wortel tiba di sebuah kota di Jerman sana (lupa nama kotanya hehe). Faktanya adalah ternyata wortel itu bisa stress juga.

Stress yang dimaksud disini adalah berupa rasa pahit yang kadang kita rasakan ketika memakan wortel. Sebuah penelitian di Jerman melakukan riset tentang kenapa beberapa wortel hasil panen para petani wortel di Jerman menghasilkan rasa yang pahit bukan manis. Penelitian itu mengambil 3 buah wortel sebagai sample peneltian.

Satu wortel yang jatuh dengan keras dari mesin panen dengan jarak yang sangat tinggi ke dalam keranjang panen yang tidak dialasi kain atau selimut. Satu wortel yang jatuh dari mesin panen dengan jarak yang sangat rendah ke dalam keranjang yang telah dialasi selimut atau kain.Dan yang terakhir adalah wortel yang diletakkan dekat dengan apel selama 6 hari.

Ketiga wortel itu kemudian dibawa ke laboratorium untuk kemudian dihaluskan dan diambil masing – masing sarinya. Hasil riset dari ketiga sari wortel tersebut mendapati bahwa wortel yang diletakkan dekat dengan apel menunjukkan kadar isocumirin yang sangat tinggi.

Isocumirinlah yang menyebabkan sebuah wortel bisa terasa sangat pahit. Tingginya kadar isocumirin ini ternyata disebabkan oleh gas yang dikeluarkan oleh si apel. Gas bernama ethylene ini dihasilkan oleh apel dan pisang dalam proses pematangannya. Dan hal ini akan mempercepat proses pematangan buah lainnya.

Gas ini kemudian diserap oleh wortel yang berada berdekatan dengan apel tersebut. Selama 6 hari berdekatan dengan Si apel ternyata Si wortel tidak dapat menangkal gas itu. Dengan ketidakberdayaannya itulah mau tidak mau Si wortel menyerap mentah-mentah gas ethylene tersebut yang menyebabkan wortel menjadi pahit.

Rasa pahit pada wortel juga disebabkan karena wortel yang ketika panen jatuh dari mesin dengan jarak yang tinggi ke dalam keranjang yang tidak dialasi kain atau selimut atau jika wortel dicabut terlalu keras. Jadi satu-satunya cara memanen yang baik adalah memperlakukan wortel dengan lembut dan penuh cinta.

Ternyata wortel juga butuh kasih sayang ya? ;p

Sumber lain: disini

Next Page »