Sebenarnya sudah cukup lama ingin menulis tentang cerita perjalanan saya sewaktu di Jepang, tapi baru ada waktu (halah sok sibuk banget sih). Jadi insyaallah, mulai hari ini saya mau rajin memposting sekedar berbagi cerita dengan semuanya. Karena membaca postingan terbaru dari neechan Imel, saya jadi teringat dengan pengalaman saya ketika berada di Jepang.

Membaca postingan ini saya teringat bahwa minggu kemarin sensei saya baru saja membahasnya di kelas. Beliau yang pernah pergi ke Jepang, sangat mengamini fakta bahwa Orang Jepang memiliki kualitas yang menurut saya TOP dalam hal hospitality, baik itu usaha kecil maupun besar.

Sensei saya mengatakan, mereka (Orang Jepang) tidak boleh menunjukkan ketidaksukaan terhadap customer. Jadi walaupun kesal setengah mati, mereka tidak boleh menunjukkan hal tersebut di depan pelanggan.

Saya juga menjadi saksi dari pelayanan dari orang Jepang ini. Contoh ketika saya turun di Stasiun Morioka, untuk berganti kereta menuju Akita, saya membeli satu botol kecil air mineral yang harganya tidak lebih dari 300 yen. Tangan kiri saya memang penuh dengan brosur, peta dan buku panduan tentang Akita yang diberikan oleh si Nanonano (heran ini orang di setiap stasiun kerjanya ngambilin brosur travel, hehhee memang sih untuk saya, arigatou nanonanochan), dan ketika saya ribet cari uang receh untuk membayar air minum itu, tiba-tiba si Nanonano colek colek menyuruh saya untuk melihat ke counter.

Ternyata si kasir dengan wajah penuh senyum menyodorkan kantung plastik berwarna putih yang lumayan besar (terlalu besar untuk botol minuman saya yang hanya seukuran Aqua 300ml). karena saya piker itu untuk botol minuman yang sudah saya beli, tentu saja saya menolak (maksudnya tidak usah pakai plastik) si kasir kemudian nyerocos pakai bahasa jepang yang kemudian ditranslate oleh Si Nanonano “itu buat brosur-brosur, dia kasih kamu plastik buat itu, biar nggak ribet”

Oh! Saya langsung meminta maaf dan berterimakasih. Kemudian saya berpikir hmm sampai segitunya memperhatikan pelanggan, padahal ini cuma swalayan kecil (semacam Indomart atau alfamart kalau di Indonesia).

Jika dibandingkan dengan kualitas pelayanan di Jakarta? Wah, jauh sekali! Kalau disini malah kita yang harus nanya “Bang, ada kresek yang gedean nggak?” baru deh dikasih. (hehehe pengalaman belanja di pusat tekstil di daerah Jakarta Pusat). Satu lagi jenis “pelayanan” yang tidak saya suka adalah “mbuntut” pelanggan. Hal ini sering saya ditemui di pusat-pusat perbelanjaan besar. Sebagai contoh sebuah toko sepatu “B” dimana begitu kita masuk, pelayan took langsung “mbuntut”I kemanapun kita bergerak. Mungkin mksudnya jika pelanggan butuh bantuan, mereka langsung siap sedia. Namun kalau bagi saya kok kesannya jadi seakan-akan kita ini maling yang diawasi kalau-kalau mau mencuri.

Pernah saya ingin masuk ke dalam sebuah toko baju yang lumayan terkenal karena tertarik dengan tulisan “diskon 70%” tapi dicegah adik saya. Ketika saya Tanya alasannya kenapa, dia hanya menjawab “malas!”. Saya paling sebal dengan jawaban itu. Namun, setelah berada lumayan jauh dari toko itu barulah dia menjelaskan kalau mbak-mbak pelayan toko itu selalu mengikuti pelanggan yang masuk ke toko tersebut. Ah saya baru mengerti. Kalau seperti itu, malah membuat pelanggan merasa tidak nyaman, apalagi kalau tidak berniat membeli seperti saya contohnya :P hehehe

sumber: thejakartapost.com

sumber: thejakartapost.com

Perang yang satu ini jauh dari imej darah, senjata, granat dsb. Malah, kalau seandainya pernah menyaksikan mungkin lebih baik bawa piring hehe. Ya, Perang Ketupat namanya. Perang ini adalah sebuah ritual tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung, propinsi Bali.

DSC-9215-500

Tradisi ini sering juga disebut Aci Rah Pengangon oleh masyarakat setempat. Ritual ini diawali dengan upacara sembahyang bersama oleh seluruh warga desa di pura setempat. Pada upacara tersebut, pemangku adat akan memercikan air suci untuk memohon keselamatan para warga peserta Perang Ketupat ini.

Setelah upacara selesai, para peserta akan menyiapkan “amunisi” masing-masing yang berupa “tipat” dan “bantal” (semacam ketupat). Ribuan ketupat yang digunakan dalam acara ini merupakan hasil sumbangan dari warga Desa Adat Kapal, Badung. Setelah semuanya siap, jalanan yang ada di depan pura akan ditutup selama 30 menit untuk semua kendaraan bermotor.

DSC-9229-500

Para warga akan berkumpul di sepanjang jalan dan terbagi dalam dua kelompok yaitu utara dan selatan. Kemudian, “perang” pun dimulai. Aksi saling lempar ketupat ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Terkadang tak jarang ada ketupat “nyasar” kea rah penonton atau fotografer yang tengah mengabadikan momen ini. Walau begitu, tidak ada seorang pun yang marah dan ketika perang berakhir, semua orang berjabat tangan dengan penuh suka cita. Tidak ada dendam.

Perang Ketupat merupakan bentuk rasa terima kasih warga kepada Sang Hyang Widhi atas panen juga sebagai doa agar terhindar dari kekeringan. Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Tipat atau Topat di daerah Lombok dan Makassar. Hanya saja waktu pelaksanaannya berbeda. Perang Tipat di Lombok dan Mataram jatuh pada bulan Desember ketika bulan purnama.

Perang Tipat juga telah menjadi salah satu atraksi wisata yang popular setiap tahunnya di Lombok. Namun yang paling penting adalah sebagai bentuk kesadaran atas toleransi antar umat yang telah dilakukan turun temurun oleh para leluhur kita.

Mungkin festival serupa bias ditemukan di Spanyol dengan festival tomat atau Belanda dengan festival jeruknya. (Wta/06192009)

Sumber: dari berbagai sumber, photo credit to Putu Eka

Teman Internasional, jika diterjemahkan secara harfiah mungkin itulah arti judul postingan kali ini. Teman internasional biasa diartikan teman yang berasal dari negara lain.

Mungkin sebagian dari kita memiliki teman seperti ini, entah mungkin satu sekolah (buat yang sekolah di International School), atau mungkin rekan kerja,  atau melalui dunia maya.

Punya kawan dari luar negeri mungkin akan membuat sebagian kita merasa keren. Alasannya? mungkin karena kita dianggap punya kemampuan lebih dalam berkomunikasi, karena mereka orang asing yang memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, dan juga latar belakang budaya yang berbeda.

Buat saya, memiliki kawan asing, yah lebih mengarah pada kata “menyenangkan”, tapi pada dasarnya saya suka berteman dari siapapun (bukan hanya orang asing saja lho). Hanya saja, berteman dengan orang asing memberi kesempatan bagi kita untuk mengetahui hal-hal baru diluar masyarakat kita, seperti budaya, bahasa, cara pandang dan masih banyak lagi.

Mungkin hal itulah yang dirasakan oleh para siswa sekolah dasar ini. Saya bertemu mereka ketika sedang berkunjung ke Kuil Asakusa di Tokyo, pada bulan Maret yang lalu. Awalnya saya memang melihat ada begitu banyak siswa siswi sekolah dasar yang berseliweran di sana sini.  Saya pikir mereka sedang berdharma wisata.

Tetapi kemudian saya melihat beberapa dari mereka membawa papan dengan sebuah kertas yang bergambar peta dunia. Beberapa kali saya beradu pandang dengan anak-anak ini. Ketika melihat saya, mereka kemudian berbisik-bisik pada temannya. Saya hanya tersenyum.

Kemudian empat orang dari mereka (seingat saya lho) dan seorang wanita muda yang ternyata guru mereka mendatangi saya. SI ibu guru ini menjelaskan pada nanonano chan (yang kemudian dijelaskannya pada saya) bahwa siswa siswi sedang dalam kegiatan mengumpulkan teman-temang orang asing yang ada di kuil tersebut.

Foto bersama siswa siswi SD di Asakusa

Foto bersama siswa siswi SD di Asakusa

Anak-anak ini diharuskan berkenalan dengan orang asing dengan bahasa inggris dan menanyakan dari mana negara mana. Orang asing yang ditanya akan dipersilahkan menempelkan sebuah bulatan berwarna merah di peta dunia yang teragantung di dada salah seorang siswa. bulatan merah itu akan menunjukan letak negara asal dari si orang asing ini.

Setelah diberi penjelasan bahwa saya bersedia bercakap-cakap dengan mereka, para siswa ini kemudian berjejer di depan saya dan satu per satu mulai memperkenalkan diri.

“Hello, my name is ….. (heheh saya lupa namanya) What is your name?”

lalu saya jawab dengan nama saya.

Kemudian, salah seorang siswa wanita menyikut temannya supaya menanyakan dari mana asal saya sembari memberikan stiker bulatan kecil berwarna merah tersebut. (lucu banget lhooo anak-anak ini)

Saya kemudian menjawab sambil menempelkan bulatan merah tersebut di peta pulau Jawa.

“I’m from Jakarta, Indonesia”, jawab saya yang kemudian diikuti dengan “Whoaaaa, Indonesia!” oleh para siswa tersebut.

Mereka kemudian mengakhirir sesi tanya jawab yang singkat tersebut dengan mengucapkan “thank you very much for being my international friend. It is nice talking with you”

Saya kemudian diberi souvenir berupa origami yang berbentuk shuriken yang terbuat dari kertas. Nanonanochan pun kebagian shuriken tapi ukurannya lebih kecil dari punya saya. Tapi akhirnya toh, saya menyimpan dua shuriken ini di dalam dompet sampai sekarang.

souvenir Shuriken (yang kecil buat si nanonano, yg besar untuk saya)

souvenir Shuriken (yang kecil buat si nanonano, yg besar untuk saya)

Hmm gara-gara ngebahas tentang “Sewa” dengan neechan Imelda tadi pagi, saya jadi tergelitik menanyakan apa sih padanan kata untuk “Iseng” dalam bahasa Jepang. Karena terus terang kedua kata ini sempat menimbulkan kesalah pahaman ketika saya di Jepang.

Ternyata bahasa Jepang untuk “Iseng” (menurut neechan imelda) adalah “Itazura”. Okeh, saya setuju. “Itazura” juga berarti “Nakal” (bener nggak sih?^^). Hmm… kalau “Nakal” kesannya gimanaaa gitu ya? hehhe

Sedangkan insiden yang berhubungan dengan kedua kata ini terjadi ketika saya sedang berada di Jepang bulan Maret yang lalu.

Ceritanya saya diajak berkunjung ke rumah salah satu temannya si “Mas N”. Setelah makan malam yang cukup mengenyangkan, kami berempat mulai mengobrol. Mas N, bercerita tentang keusilannya di Hasshoku Senta (Hachinohe Food Centre).

Di tengah-tengah obrolan, saya sibuk mencari padanan kata “Usil” di kamus saku saya di bagian Indonesia-Jepang (selama di Jepang, saya kemana-kemana selalu bawa kamus pocket, cukup membantu hehe), kemudian nyeletuk “Osekkai” (dengan tampang tidak bersalah) yang di dalam kamus berarti “Usil”.  Mas N yg tadinya ketawa-ketawa langsung diam.

Dia tanya,”Me? Osekkai?”

Saya dengan tersenyum sambil mengangguk “Un!” (sambil nunjuk kata yang dimaksud dengan mantab).

Dia balik tanya lagi, “lho, kamu kenapa marah sih?aku nggak ngerti” (dlm bhs Inggris)

Ha? saya langsung melongo. Lho…kok jadi gini? saya nggak marah n tambah nggak ngerti. Temannya yang di depan saya juga ikutan melongo (temannya ini tidak mengerti bahasa Inggris).

Ketika balik mencari dan menemukan kata “Osekkai” di bagian Jepang-Indonesia yang artinya “usil atau suka mencampuri urusan orang lain” saya langsung panik. Waduh! bukan itu maksud saya.

Dia kelihatan rada bete karena saya mengatakan hal itu di depan temannya (waa panik panik…)

Akhirnya saya menunjuk kata “Itazura” untuk menjelaskan bahwa ini maksud saya. Dia bilang dia mengerti maksud saya. Dia bilang untung dia ngerti bahasa Inggris jadi bisa mengerti penjelasan saya.

“Tapi kalo kamu bilang “Osekkai” ke orang Jepang lainnya yang nggak ngerti bahasa Inggris, mereka bisa sakit hati lho”

Yaiks! o_O;

Akhirnya kesalahpahaman ini dia jelaskan pada temannya (bisa dibilang membela diri sih) bahwa bukan maksud saya kasih komen seperti itu.

Sotoy? iya. Malu? nggak usah ditanya lagi deh (pengen rasanya gali lubang & masuk ke dalamnya, terus nggak keluar keluar lagi).

Dari neechan Imelda juga saya mendapat penjelasan bahwa “Osekkai” juga berarti cerewet (kata sifat) yang biasanya dialamatkan pada wanita. Kalau mau bilang cerewet lebih baik pakai “Urusai”.

Ampuooonnn, pantes dia buete buanget!

Habis saya gemes liat kelakuannya yang memang super iseng. Gimana nggak ? Masa ada bapak-bapak yang pakai wig (rambut palsu) dikomentari, “eh, ada Alien tuh!”

Hayo, kalau bukan iseng, apa coba namanya?

Oalah Osekkai… Osekkai…^^;

-witcha-

NB. sampai sekarang kalau membahas kejadian ini dia cuma komen “baka jisho” = kamus bego, karena gara-gara kamus ini kami berdua hampir bertengkar haha ^^;

Inilah si baka jisho

Inilah si baka jisho

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

“Merah itu artinya berani
Putih itu artinya suci”

Kata-kata itu selalu teringat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Segala macam atribut berbau merah putih memang selalu kita sematkan hampir setiap hari, mulai dari topi, seragam, dasi, sampai waktu jaman saya SD dulu setiap hari jumat dan senam pagi bersama, kami harus memakai semacam rumbai2 yang terbuat dari tali rafia di kedua tangan (mirip pom2nya cheerleader) yang warnanya merah putih. Maksudnya apa? saya juga nggak gitu ngerti waktu itu, yang pasti kalau tidak bawa, wajah langsung pucat pasi. Langsung kena hukum (heran deh, apa2 dihukum jaman itu).

Kalau boleh bertanya, kapan sih terakhir merasa nasionalis? kalau saya akan menjawab, mungkin waktu SMA dulu. Karena setiap hari Senin masih (harus!) ikut upacara bendera dsb. Mulai masuk kuliah, sedikit-demi sedikit rasa nasionalis itu mulai terkikis. Paling2 merasa nasionalis banget klo liat tim bulu tangkis Indonesia bertanding dan menang heheh kalau kalah? heehee matiin tv aja ;p

Tapi tahun ini entah kenapa jiwa nasionalis itu perlahan-lahan tumbuh kembali. Ada dua hal yang membuat saya berkaca. Yang pertama, perjalanan ke Jepang. Mungkin benar, di saat kita jauh dari Ibu Pertiwi, semakin kita sadar siapa kita, dan bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah orang asing yang bukan sebangsa. Saya baru merasakan itu ketika saya harus berulang kali menunjukan letak Jakarta dan Indonesia di globe mini, atau menjawab pertanyaan2 seputar Indonesia dan budayanya. Menjawab pertanyaan2 dari teman2 Jepang tersebut sebenarnya cukup mudah namun saya cukup berhati-hati menjawabnya, jangan sampai menimbulkan kesan negatif (jadi mirip ujian kewarganegaraan heheh). Berada disana juga seperti membawa beban moral buat saya karena saya harus membawa imej positif tentang Indonesia (saya rasa ini juga kewajiban bagi setiap WNI dimanapun mereka berada) dan ini dengan sendirinya menumbuhkan rasa cinta tanah air (beneran lhoo hehe)

Yang kedua, kedatangan sepupu2 dari jauh. Yang membuat saya kagum pada mereka adalah mereka menyadari betul kalau mereka masih memiliki darah Indonesia. Bela2in pergi ke mangga dua, panas-panas, desak2an cuma mau cari apa? Kaos Timnas Sepakbola Indonesia! yang dengan bangganya mereka tunjukkan pada saya (sungguh terharu waktu mereka menunjuk Garuda Pancasila di dada kiri kaos tersebut).

Jadi walaupun besar dan tumbuh di negara lain tidak membuat mereka lupa akan kulitnya. Saya merasa kalah karena jiwa nasionalis mereka jauh lebih tinggi dibanding saya yang lahir dan besar di negara ini. Saya baru menyadari betapa saya harus belajar banyak dari mereka, belajar bangga menjadi seorang manusia Indonesia.

Hmm…tugas yang cukup menantang. Tapi saya yakin saya bisa. Saya tidak harus menjadi duta besar atau duta budaya atau duta2 yang lain agar budaya Indonesia dikenal dunia. Cukup dengan menjadi orang Indonesia, dengan sendirinya kita sudah menjadi duta bagi bangsa ini.

Kita masih punya banyak pekerjaan untuk bangsa ini. Tidak perlu hal yang besar, bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan berusaha menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Amin.

“kalau mati, dengan berani;
kalau hidup dengan berani.
Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa menjajah kita.”

- Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Dirgahayu Indonesia!

-witcha-

Buat yang belajar jurnalistik pasti tahu banget sm kalimat ini. Dulu waktu masih belajar di universitas, agak sedikit berpikir “kejam juga yah, dimana orang menderita, di situlah wartawan menuai berita”. Misalnya berita tentang banjir, kalau dari sisi kemanusiaan agak-agak nggak etis juga sih. Orang kesusahan tapi itu adalah sumber nafkah para pencari berita.

Tapi hari ini, kata-kata “Bad news is a good news” terngiang-ngiang di kepala.

Kenapa?

Yah, tadi siang baru menyadari bahwa kalimat tersebut betul adanya. Begini ceritanya:

Tadi pagi sempat melihat news ticker di salah satu stasiun televisi yang mengatakan bahwa hari ini akan ada 6 aksi protes yang mengepung Jakarta. Saya merasa tertarik untuk melakukan sebuah peliputan sendiri.

Akhirnya mencari tahu dimana saja titik aksi demonstrasi tersebut akan berlangsung. Titik titik aksi protes meliputi: Kantor Departemen Kelautan dan Periklanan (Jakarta Pusat), Gedung Nestle (Jalan Gatot Subroto), Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kedutaa besar Cina, Kantor Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan Pemprov DKI, Bunderan HI.

Bunderan HI

Bunderan HI

Saya memutuskan untuk datang ke bunderan Hi karena dirasa aksi di sana lebih menarik. Sekitar pukul 11.07 sampai di parkiran Sarinah kemudian berjalan menuju Bunderan HI. Jalan memang tampak lengang sekali. Hati sempat berdebar-debar, kira-kira seperti apa ya aksi demo kali ini. Bayangan mengenai kerusuhan sempat terbersit di pikiran.

Tapi apa yang terjadi? begitu sampai di Bunderan HI, disana tidak tampak satu pun kerumunan massa (ataupun bekas kerumunan massa). Saya terus bergerak melewati Bunderan HI. benar-benar bersih dari kerumunan massa, tidak ada satupun tanda bahwa tadi atau bahkan akan terjadi sebuah aksi protes. Kecewa deh!

Akhirnya berjalan menuju Sarinah lagi, sambil foto sana sini. Melewati Gedung Kedubes Jepang, ada banyak kerumunan orang disana (tapi tampaknya bukan berdemo sih). Jam sudah menujuk angka 12 lewat, waktunya makan siang. Sebelum masuk parkiran, menyempatkan makan siomay yang sudah saya incar dari pertama kali sampai. (sebenarnya mau ngeliput demo ato makan siomay sih? hehe)

Siomay Sarinah

Siomay Sarinah

Siomay ini seporsinya Rp6.000, cukup menggiurkan. Dan rasanya juga cukup enak (atau mungkin karena lapar yah?^^;;) Setelah cukup kenyang, saya memutuskan untuk tidak menyerah. Saya akan ke arah Kuningan, mungkin saya masih bisa dapat berita yang lain. Setelah mengisi bensin, motor kembali melaju ke arah Mega Kuningan.

Panas sekali hari ini dan lagi-lagi saya tidak mendapati apapun di depan Kedubes Cina. Tidak mau menyerah, saya mencoba menyusuri Jalan Gatot Subroto. Lagi-lagi nihil. Saya memutuskan untuk beristirahat sambil sholat dzuhur di daerah Menteng. Awalnya mau ke Istiqlal tapi terlalu jauh, akhirnya pilihan jatuh ke Mesjid Al-Hikmah, Menteng. Kenapa mesjid ini? karena sejuk karena pakai AC dan nyaman.

Setelah sholat, saya sudah tidak kuat lagi. Sudah pukul 2 dan di luar sana sangat panas. Akhirnya memutuskan pulang saja. Capek!

Hari ini Jakarta aman sentosa, yang tentu saja membuat saya (sedikit kecewa). Seandainya ada sedikit kericuhan pastinya seru heheheh. Ternyata memang benar Bad News is A Good News ^^

-wita-

carrot-oilTulisan ini sebenarnya sudah bertahun tahun yang lalu, gara-garanya habis kelar nonton program Deutschewelle (eh bener gk ya nulisnya?) di Metro TV. hehehe

Waktu itu, program acara ini mengulas tentang wortel. Sebuah fakta unik terkuak ketika musim panen wortel tiba di sebuah kota di Jerman sana (lupa nama kotanya hehe). Faktanya adalah ternyata wortel itu bisa stress juga.

Stress yang dimaksud disini adalah berupa rasa pahit yang kadang kita rasakan ketika memakan wortel. Sebuah penelitian di Jerman melakukan riset tentang kenapa beberapa wortel hasil panen para petani wortel di Jerman menghasilkan rasa yang pahit bukan manis. Penelitian itu mengambil 3 buah wortel sebagai sample peneltian.

Satu wortel yang jatuh dengan keras dari mesin panen dengan jarak yang sangat tinggi ke dalam keranjang panen yang tidak dialasi kain atau selimut. Satu wortel yang jatuh dari mesin panen dengan jarak yang sangat rendah ke dalam keranjang yang telah dialasi selimut atau kain.Dan yang terakhir adalah wortel yang diletakkan dekat dengan apel selama 6 hari.

Ketiga wortel itu kemudian dibawa ke laboratorium untuk kemudian dihaluskan dan diambil masing – masing sarinya. Hasil riset dari ketiga sari wortel tersebut mendapati bahwa wortel yang diletakkan dekat dengan apel menunjukkan kadar isocumirin yang sangat tinggi.

Isocumirinlah yang menyebabkan sebuah wortel bisa terasa sangat pahit. Tingginya kadar isocumirin ini ternyata disebabkan oleh gas yang dikeluarkan oleh si apel. Gas bernama ethylene ini dihasilkan oleh apel dan pisang dalam proses pematangannya. Dan hal ini akan mempercepat proses pematangan buah lainnya.

Gas ini kemudian diserap oleh wortel yang berada berdekatan dengan apel tersebut. Selama 6 hari berdekatan dengan Si apel ternyata Si wortel tidak dapat menangkal gas itu. Dengan ketidakberdayaannya itulah mau tidak mau Si wortel menyerap mentah-mentah gas ethylene tersebut yang menyebabkan wortel menjadi pahit.

Rasa pahit pada wortel juga disebabkan karena wortel yang ketika panen jatuh dari mesin dengan jarak yang tinggi ke dalam keranjang yang tidak dialasi kain atau selimut atau jika wortel dicabut terlalu keras. Jadi satu-satunya cara memanen yang baik adalah memperlakukan wortel dengan lembut dan penuh cinta.

Ternyata wortel juga butuh kasih sayang ya? ;p

Sumber lain: disini

Daruma di kuil Druma-ji,Takasaki, Prefektur Gunma

Daruma di kuil Daruma-ji,Takasaki, Prefektur Gunma

Daruma (だるま atau 達磨) adalah boneka sekaligus mainan asal Jepang dengan bentuk hampir bulat, dengan bagian dalam yang kosong serta tidak memiliki kaki dan tangan. Model dari benda ini adalah Bodhidharma, pendiri dari Zen.

Boneka ini merupakan pembawa keberuntungan dan lambang harapan yang belum tercapai. Daruma dijual dengan kedua belah mata yang belum digambar. Orang yang ingin harapan atau cita-citanya terkabul menggambar salah satu sisi dari kedua matanya dengan kuas dan tinta. Bila harapan orang tersebut sudah tercapai, Daruma akan menerima mata yang satunya lagi.

Di Jepang, produsen boneka Daruma terbesar ada di kota Takasaki, Prefektur Gunma.

Asal-usul boneka Daruma adalah boneka tradisional Jepang yang disebut Okiagari koboshi. Boneka Okiagari-koboshi memiliki bagian dasar yang bundar dan berat sehingga boneka ini kembali bisa berdiri tegak dengan bantuan beratnya sendiri setelah dimiringkan ke salah satu sisinya. Muka boneka Okiagari-koboshi digambar seperti wajah Bodhidharma karena Daruma yang selalu bisa berdiri tegak sesuai dengan cerita ketegaran Bodhidharma yang bermeditasi selama 9 tahun menghadap tembok di vihara Shaolin.

Daruma dibuat dengan teknik yang di Jepang disebut Hariko. Teknik yang sama juga digunakan untuk membuat Maneki Neko atau berbagai macam bentuk patung yang lain. Patung yang dijadikan pola ditempel dengan lapisan kertas hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Setelah lem kering, kertas yang melapisi patung dibelah dan patung yang menjadi pola dikeluarkan. Belahan bagian depan dan bagian belakang disatukan kembali dengan tempelan lapisan kertas. Boneka Daruma biasanya dicat dengan warna merah menyala sesuai dengan warna pakaian Bodhidharma. Selain itu, warna merah dianggap memiliki kekuatan menolak bala.

Daruma Otoshi

Daruma Otoshi

Daruma Otoshi

Potongan kepala Daruma berada di bagian atas dari beberapa potongan kayu yang disusun bertingkat. Pemain secara bergiliran mengeluarkan susunan potongan kayu dengan memakai palu dari kayu, tapi bagian kepala Daruma tidak boleh jatuh.

Daruma-san ga koronda (Daruma jatuh)

Permainan yang dimainkan sekelompok pemain dengan seorang pemain yang berjaga. Pemain yang berada di lapangan hanya boleh bergerak ketika pemain yang berjaga mengucapkan “Daruma-san ga koronda” sambil menutup muka menghadap tembok atau pohon agar tidak bisa melihat para pemain lain yang sedang bergerak mendekatinya (mungkin kalau masih ingat salah satu game di “Benteng Takeshi”, dimana para peserta memakai kostum Daruma yang super besar dan terkadang harus jatuh terguling jika tidak seimbang).

Anak-anak bermain Daruma-san ga koronda

Anak-anak bermain Daruma-san ga koronda

Kunci dari permainan ini adalah perubahan irama serta cepat atau lambatnya dalam mengucapkan kalimat ajaib Daruma-san ga koronda

Sumber: Wapedia

Daruma pemberian Emiko Neechan

Daruma pemberian Emiko Neechan

Malam ini saya menerima sebuah Daruma, yang konon melambangkan keberuntungan itu. Daruma saya ini sangat spesial, tidak hanya karena dibawa langsung dari Jepang, namun juga karena diberikan oleh orang yang sangat spesial bagi saya, yaitu Neechan Emiko Miyashita.

Rencananya hanya mengantar tiket ke rumah beliau. Selama di perjalanan, saya selalu terbayang seperti apa ya neechan saya ini. Saya juga terbayang Riku dan Kai yang selama ini hanya bisa saya pandangi lewat layar komputer saja.

Sesampainya di rumah besar berpagar biru, saya menelepon untuk memberi tahu neechan bahwa saya sudah sampai. Terus terang saya agak jiper kalau harus berhadapan dengan rumah besar dengan halaman yang luas hihihi…^^;

Pintu pagar akhirnya di buka, dari kejauhan saya dapat melihat neechan saya itu berdiri tersenyum dengan senyuman khas berlesung pipitnya. Whuaa neechan saya ternyata lebih cuantik aslinya!! :D

Saya langsung memeluk neechan saya itu, orang yg selama ini hanya bisa saya temui di dunia maya, akhirnya ada di hadapan saya. Setelah memarkir motor, saya dipersilahkan masuk. Ketika sedang melepaskan sepatu, muncullah cowok Jepang paling guanteng yang pernah saya lihat *kalah deh KimuTaku* hahhaha dengan potongan rambut ala Jackie Chan. Riku chan nyerocos tanpa henti dengan bahasa Jepang yang sangat lancar, pinter deh *ya iyaaaalah namanya juga orang Jepang, ya Riku?* hahaha

Setelah mondar mandir, neechan kemudian memberikan sebuah benda yang dibungkus dengan kertas berwarna abu2 gelap. “Buka aja wit, aku juga lupa isinya apa” kata neechan. Saya buka dengan hati-hati dan ternyata isinya adalah Daruma! “Supaya semua urusan kamu lancar dan apa yang kamu inginkan terwujud” lanjut neechan. Waaaa saya senang sekali, Daruma melambangkan keberuntungan dan neechan memberikannya untuk saya!!! Arigatou neechan!!! ureshikatta yo!

Sayang, saya belum bisa bertemu si pipi tomat Kai, karena rupanya neechan mau mengajak saya pergi keluar ke Dharmawangsa Square. Neechan yang sudah rapi tidak bisa mengajak saya menemui Kai, karena kalau Kai melihat neechan lagi pasti langsung rewel. Riku saja sudah ribut minta ikut, neechan saya bilang “ini urusan orang dewasa, lagipula sudah malam, besok saja ya?” akhirnya Riku menurut namun tidak lupa minta dibelikan kertas untuk menggambar.

Sepulangnya dari Dharmawangsa Square, sebenarnya saya ingin sekali melihat Kai, namun, ternyata Kai sedang rewel, dari pintu belakang terdengar suara tangis dan sesenggukannya *aduuh gk tega dengernya* melihat neechan yang sedikit terlihat bingung, saya mohon diri, dan neechan juga berjanji bahwa saya masih bisa ketemu Kai lain hari.

Setelah pamit dan mengucapkan terimakasih, saya memacu motor saya dengan membawa omiyage (oleh-oleh) Daruma saya. Saat ini saya sudah memberi satu mata untuk Daruma. Semoga mata yang kedua cepat terisi dalam waktu dekat. Amin…

Hi ni! fu ni!
Fundan Daruma ga
Akai zukin kaburi sunmaita!

Once! twice!
Ever the red-hooded Daruma
Heedlessly sits up again!

達磨...達磨...達磨...please make my wish come true...

達磨...達磨...達磨...please make my wish come true...

Hontou ni Arigatou Emiko neechan… m(_ _)m

-wita-

All of these feelings…they’re all coming back to me (once again)
I just couldn’t bear the pain…I’ve tried so hard to hold it
No…I just can’t…but I need to

Need? is it true that “you need to”? she said.

I wanna scream out loud ” STOP IT!”

I hate to admit that I need you this much
I hate to say that I care so much about you
I hate to know that this feeling grows even stronger from day to day
I hate to think about you this much
I hate to realize that I’m addicted to you
And I hate to say that I love you this much

Stupid words I know…
You would laugh…I know

But I can’t do anything for this “Heart Matter”… it’s real

I’m weak for once more…

-wita-

Seorang teman men-tagged saya di salah satu notenya di facebook sore ini. Note ini berbunyi seperti ini:

“You came into my life as an unwelcome face :p
Not ever knowing our friendship, I would one day embrace
As I wonder through my thoughts and memories of you
It brings many big smiles and laugher so true

I love the special bond that we beautifully share
I love the way you show that you really care
Our friendship means the absolute world to me
I only hope this is something I can make you see

Thank you for opening your mind and your soul
I will do all I can to help heal your hearts little holes
Remember, your secrets are forever safe with me
I will keep them under the tightest lock and key

Always remember…. If you’re ever in need
I will try to be the best friend I can possibly be

Thank you for trusting me right from the start
You truly have got a wonderful heart
I am now so happy I felt that embrace
For now I see the beauty of my best friend’s face”

Kaget? ya sudah pasti…karena saya tidak pernah menyangka akan seperti ini. Tidak menyangka saya akan mendapati kembali kata-kata “teman” pada hidup saya.

Tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang datang pada saya dan menyebut saya “teman” dan saya pun baru menyadari ternyata tembok yang saya buat selama ini sudah hancur total.

Tembok yang saya sendiri pikir tidak bisa saya tembus, ternyata perlahan-lahan mulai menipis dan saya baru merasakan bahwa saya tidak hidup sendiri…

Manusia es…mungkin itulah saya di masa lalu…trauma itu membuka mata ini…tidak semua orang baik, bahkan “teman” pun bisa berbalik menyerang…
Depresi? yah…sangat…sampai terkadang monster ini hampir muncul lagi…

Namun, note dari teman saya itu kembali menyadarkan saya arti saling mengasihi sesama manusia…
Bahwa manusia membutuhkan satu sama lain…
Kenyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial…

Dan saya bisa memaafkan semua yang terjadi di masa lalu semata-mata karena mereka adalah manusia…

-wita-

Witcha Suica

I'm a dream chaser

To me nothing is impossible...

Top Rated

Archives

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 718 hits

Twitter saya

RSS Neechan Imel