Surprise, Surprise!

Bulan Januari ini banyak sekali yang berulang tahun. Mulai dari tetangga jauh saya, Ridha (13 Januari), lalu teman turki saya, Akif, yang juga bertepatan dengan adik ketemu gede saya, Yoan dan neechan Imelda. Bertiga lahir di tanggal yang sama yaitu 14 Januari.

Sebenarnya saya diajak oleh teman saya Meyra untuk datang ke ulang tahun Ridha, tetapi berhubung saya lagi banyak sekali tugas yang harus dikerjakan, terpaksa saya menolak untuk datang. Apalagi di hari yang sama, tengah malam, saya sudah kadung janji sama teman-teman Turki di sini untuk kasih surprise buat Akif.

Setelah tertidur selama satu jam, saya terbangun kaget dan cepat-cepat cuci muka, karena sudah hampir jam setengah 12 malam. Kepala saya pening dan di luar udara sangat dingin menggigit. Makin pening deh kepala saya.

Tapi, karena sudah janji ya harus ditepati.

Udara dingin tidak menghalangi kami untuk bertengger di balkon Akif setelah memberinya kejutan. Dia cukup kaget lho, katanya dia belum pernah dikasih surprise kayak gini hihi. Selang satu jam, kepala makin pening, tandanya harus kembali ke bawah selimut.

Sampai di rumah, room mate saya si Pinky Light Saber (PLS) berkata, “gimana surprise-nya? sukses nggak?”

“Lumayan sukses, tapi kayaknya kita kecepetan karena belom jam 12 deh,” jawab saya. Lalu, dia bilang kalo surprise party jam 12 mlm itu bukannya udah umum ya? Semua orang kan udah tahu, jadinya nggak surprise lagi kan?

Si PLS ini juga berulang tahun tanggal 15 januari. karena dia berkata begitu, makanya saya putar akal supaya dia benar-benar kaget di hari ulang tahunnya. Akhirnya saya dan beberapa teman mendesain sebuah surprise di pagi hari. berhubung saya yang tahu kebiasaannya sehari-hari, akhirnya saya memutuskan untuk membangunkan dia di pagi hari.

Minggu pagi jam 8, teman-teman sudah kumpul di apartemen kami. Disiapkan, lilin dinyalakan, dan kami pun mengendap-endap masuk ke kamar dimana si PLS ini masih tidur dengan nyenyak. Semenit kemudian….

Lagu Happy Birthday berkumandang tepat di sebelah tempat tidur PLS. Tapi, yang di tempat tidur kok nggak bangun, ya? Akhirnya volume dinaikkan ditambah dengan goncangan kecil di bahu, daaannn sodara-sodara….sleeping beauty-nya bangun jugaa!

Happy Birthday Eunika!

Dengan wajah masih bingung dan bau bantal, PLS meniup lilinnya. Ketika digiring keluar, dengan masih setengah hilang nyawanya, dia mencoba membalas mengerjai kami dengan memotong kue secara zigzag. Katanya kami harus memakan kue zigzag itu secara bersamaan. Sumpah ya, waktu yang dibutuhin buat motong kue kali ini lama banget. Seandainya kami melakukannya lebih pagi, mungkin kami bisa ketiduran sambil berdiri nunggu dia mikir haha.

Belum cukup dikasih surprise, kami mengerjai dia supaya masak sarapan, dan hasilnya adalah Spaghetti Tuna!

Spaghetti Ulang Tahun

So, Happy Birthday Unik! Semoga sukses, semua cita-cita dan impiannya terwujud. Panjang umur, sehat selalu dan cepet lulus! Amiiinn! :D

http://www.emocutez.com

Kehangatan dari Selatan

Bagian selatan Italia memang lebih hangat dibanding dengan daerah utara. Banyak kabar yang saya dengar, orang-orang di selatan Italia juga lebih hangat. Seorang teman italia saya pernah berkata pada saya “Kalau kamu nyasar di Milan, kamu pasti mati. Jangan harap akan ada orang yang membantu tanpa diminta. Tapi di Selatan, tanpa kamu minta pun orang pasti akan datang membatu kalau kamu kebingungan”.

Memang ada pandangan bahwa Italia selatan, khususnya Calabria bukanlah bagian dari Italia. Ini seperti di negeri antah berantah. Karena entah mengapa banyak sekali perbedaan yang terdapat antara kedua bagian ini (utara dan selatan). Orang Utara menganggap orang Selatan adalah orang desa. Hmm…mungkin ada benarnya karena daerah selatan memang lebih didominasi oleh pegunungan dan menurut beberapa teman, perekonomian di sini juga tidak sepesat di Utara. Satu lagi permasalahan adalah, orang – orang Selatan, jarang yang bisa bicara bahasa Inggris. Mereka juga punya dialek sendiri yang membuat mereka seperti tidak sedang bicara dengan bahasa italia, ini namanya dialetto calabrese. Kalau mau tahu, bisa nonton film “Benvenuti Al Sud” yang kocak banget.

Tapi, saya suka Selatan! :D

Setelah mendengar rumor bahwa orang-orang selatan itu memang ramah dan hangat, akhirnya saya bertemu juga dengan mereka. Lagi-lagi pertemuan yang tidak diduga. Berawal dari teman saya, Christine, yang merupakan anggota Leo Club di Medan. Leo club ini semacam organisasi pemuda internasional. Cabangnya ada dimana-mana, termasuk di kota kecil seperti Cosenza. Rupanya, teman saya ini mencari-cari apakah ada Leo Club di deket kota kami, Rende (lebih kecil dari Cosenza). Dan, ternyata dia menemukan club ini. Setelah melakukan kontak, akhirnya mereka janji bertemu di Cosenza. Awalnya saya berpikir, oh, kami hanya mengantar dan menemani saja.

Ketika sampai di tempat pertemuan, ternyata mereka sedang mengadakan pertemuan. Saya sempat merasa nggak enak karena takut mengganggu mereka. Di luar dugaan, justru mereka menyambut kami dengan ramah.

Leo Club, you’re awesome!

Presiden Club-nya, Marlena Parisi, super duper ramah! Anggota – anggota yang lain juga sangat welcome. Kami yang awalnya grogi akhirnya jadi lebih santai karena mereka selalu berusaha untuk berbicara dengan bahasa inggris. Pertemuan singkat ini diakhiri dengan, Marlena yang mengajak kami untuk ikut kegiatan mereka. Kebetulan mereka akan merayakan ulang tahun club di panti asuhan bersama anak-anak.

Jadi, hari Senin kemarin, saya dan tiga orang lainnya dijemput Marlena untuk sama-sama menuju panti asuhan. Setelah bertemu dengan anggota yang lain, kami meluncur menuju panti. Mmm…agak sedikit terlambat, tapi kata Marlena dan teman saya Harry yang sudah 2 tahun di sini, orang italia itu biasa terlambat (wow, ternyata orang Indonesia ada saingannya nih hihi).

Sampai di panti, kami langsung disambut sekitar belasan anak – anak yang duhhh lucu-lucu banget. Pipinya saingan deh sama Kai-nya neechan Imelda hehe. Kami langsung mendekorasi aula kecil dan menata makanan. Masing-masing anggota membawa masakannya masing-masing. Kalau kata mereka, ini kesempatan buat mencicipi masakan Italia yang sesungguhnya *tsah*. Karena mereka tahu, kalau makanan di Mensa (kantin di kampus) tidak enak (menurut mereka lho), menurut kami sih, yahh, yang penting makan gratis hehe.

Alessandro, saingannya si pipi tomat, Kai hihi

Setelah pengukuhan anggota baru, Auguri Francescoo!! Acara makan-makan dimulai. Ketika penutup dibuka, wohooooooo, semua tampak lezatt! Tapi sayang nggak semua bisa saya cicipi karena beberapa hidangan menggunakan daging B2. Tapi mereka rupanya juga sudah diberitahu bahwa ada satu anak yang berasal dari Maroko dan dia muslim. Jadi, saya juga ikut dipilihin makanan yang nggak ada dagingnya.

Saya mencoba lasagna buatan Alberto yang rasanya wuaahhhh, mantab! Saya ngaku kalah deh! Hehehe oiya, rata-rata cowok italia itu bisa masak. Saya pernah dikasih sepotong tiramisu sama room mate saya si PinkyLlightSaber dan rasanya enaakkk. Mungkin itu tiramisu terenak yang pernah saya coba dan yang mengejutkan adalah kokinya itu cowok! Waw o_O;

Happy 37th Birthday Leo Club Cosenza!

Oke, kembali ke acara makan-makan Leo Club. Baru kali itu saya mencicipi makanan Italia. Kesempatan ini juga saya pakai untuk melancarkan bahasa Italia saya: bicara dengan anak kecil hehe. Bicara dengan mereka akan lebih mudah karena bahasa mereka masih sederhana. Satu hal yang membuat saya suka bicara dengan anak-anak kecil adalah tidak peduli bahasa apa yang digunakan, tapi mereka bisa mengerti lewat mata dan senyuman. Melihat anak-anak yang lucu ini saya gembira sekaligus sedih. Gembira karena mereka lucu-lucu. Sedih karena sekecil itu, mereka sudah tidak punya orang tua. Terkadang kita memang harus melihat kesusahan orang lain agar bisa terus bersyukur atas apa yang kita punya.

Akhirnya saya membenarkan rumor makanan italia itu enak dan orang-orangnya hangat. Di malam yang dingin itu, saya ada di tempat ini, bersama orang-orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Tanpa prejudice, tanpa peduli saya memakai kerudung, mereka tersenyum bersama saya. Oh, Calabria, Aku jatuh cinta padamu!

Kereta Lambat

So the fire is almost out and there’s nothing left to burn… – The Cure, 39

Bahkan obrolan dengan subjek tentang dia pun tidak bisa mengubah suasana hati ini. entah mengapa, semua terasa salah. Entah bagian mana. Tempat inikah? Orang-orang inikah? Ah atau mungkin otakku yang salah?

Semua terasa kosong. Ada kalanya aku bergumam dan bermain dengan pikiranku sendiri “mungkin tidak seharusnya aku di sini. Apa sih yang aku lakukan di sini? Untuk apa?”. Di saat semua orang sudah duduk di kursi masing-masing dan siap melaju, aku masih ragu menjejakkan kakiku ke arah pintu kereta itu. aku tidak yakin kereta ini akan membawaku ke arah tujuanku. Namun, wajah-wajah di dalam kereta seakan berkata “apa yang kau lakukan, Pandir? Ayo cepat naik! Kereta ini akan segera berangkat!”.

Aku tanpa pikir panjang memanjat masuk ke dalam pintu yang tak lama menutup dengan cepat di belakangku. Pemandangan di stasiun mulai kabur. Aku menatap kosong stasiun melalui kaca transparan di depanku. Aku pergi…akankah kukembali? Pertanyaan yang sulit kujawab namun satu yang pasti… gerbong keretaku mulai bergerak…perlahan tapi pasti.

Pesta Cokelat!

Dolce Vita! Atau juga berarti hidup yang manis. Dua kata ini yang pantas digunakan untuk menggambarkan akhir minggu saya kemarin. Dua hari yaitu Jumat (28/10) dan Sabtu (29/10) hidup saya terasa manisss sekali karena saya mendapat kesempatan untuk datang ke Festival Cokelat (Festa Del Cioccolato) di Cosenza.

Hari Jumat saya berangkat bersama teman-teman Turki saya. Sebenarnya teman-teman Indonesia juga mau ikut, tapi karena ada dua orang teman yang berulang tahun jadinya mereka sibuk mempersiapkan pesta sendiri hehe. Rombongan kami berjumlah 10 orang. Sembilan Turki dan satu Indonesia (saya dihitung orang Turki juga deh, gimana? Hehe). Kami naik bis dari depan kampus. Saya tergopoh-gopoh membeli tiket bis sedangkan teman-teman yang lain mencari-cari mana bis yang harus kami naiki. Maklum kami semua pendatang baru di negara ini, jadi kalo nyasar, ya nyasar bareng-bareng deh.

Perjalanan menuju Cosenza hanya ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit. Kami sampai di Autostazione (terminal bis utama di Cosenza) pukul 5 lebih sedikit. Saya menyempatkan bertanya pada seorang bapak pedagang kaki lima tentang festival coklat ini. Saya sempat khawatir tidak akan menemukan lokasinya karena sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kami melewati Corso Mazzini dan menyempatkan bertanya sana sini tentang lokasinya.

Setelah berjalan sekitar satu jam (diselingi dengan acara beli makan & sepatu) akhirnya kami ketemu juga dengan festival ini. Pintu masuk berupa gapura berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan “Benvenuti Festa del Cioccolato” menyambut kami. Karena baru saja dibuka, jumlah pengunjung belum terlalu banyak.

Di sini ada puluhan tenda yang masing-masing menyajikan coklat dengan ciri khas masing-masing. Satu buah tenda besar di dekat pintu masuk menyajikan segala macam pasta rasa coklat. Ravioli coklat, fettucine coklat, pokoknya serba coklat. Pengunjung harus membeli voucher terlebih dulu yang kemudian ditukarkan dengan sepiring pasta coklat. Tentu saja harus sabar mengantri karena yang pesan banyak banget. Satu piring Ravioli coklat panas adalah 3 Euro. Mahal sih memang tapi cukup mengenyangkan perut, lho.

Satu makananan yang paling popular dan yang paling banyak diminati pengunjung dalam festival ini adalah Waffellini. Ini adalah wafel berbentuk seperti donat dan ditusuk kemudian dioleskan dengan coklat leleh dan ditaburi dengan serutan coklat putih, kacang, atau meyses. Rasanya? Maniss dan enak (menurut teman-teman Turki saya).

Menikmati Waffellini

Ada banyak hal yang bisa dilihat di dalam festival ini. Coklat dari berbagai macam bentuk dan filling tersedia di sini. Ada satu yang unik yaitu Coklat rasa cabai. Sumpah saya nggak mengada-ada. Satu kantong kertas ini harganya 2 euro. Menurut cerita teman saya, coklat ini rasanya enak. Manis bercampur pedas. Hmm…nggak kebayang deh. Berhubung saya cuma bawa uang pas-pasan dan lagi ngidam chocoballs, akhirnya saya membeli bola-bola coklat seharga 2 Euro untuk mengganjal perut.

Coklat rasa cabe

Festa del Cioccolato merupakan salah satu jenis Sagra atau Food Festival. Acara ini digelar oleh pemerintah lokal Cosenza tiap tahunnya pada akhir bulan Oktober. Tahun ini adalah yang ke-9 kalinya festival 3 hari ini (28-30 Oktober 2011) ini diadakan. Di Italia, ada bermacam-macam sagra. Bagi para turis, event semacam ini memiliki daya tarik tersendiri karena mereka dapat menikmati kuliner khas Italia. Semua hidangan terasa berbeda karena dimasak dan disajikan langsung oleh penduduk lokal. Selain cokelat, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan khas kota tua Cosenza (Cosenza Vechia) di atas bukit. Indah!

Kaki saya sudah pegal. Kepala saya mulai pening karena angin dingin. Waktunya mengejar bis dan pulang ke rumah. Sampai ketemu di Festa del Cioccolato tahun depan!

See you next year!

PS:

Thanks to Ayşe Hümeyra for the pictures :)

Kejahatan Pertama di Calabria

Oke, waktu itu saya baru sekitar dua minggu di Rende, Calabria tapi saya sudah melakukan kejahatan. Tidak besar sih tapi cukup membuat ingin menutup muka sampai depan pintu kamar. Berawal dari tiket bis. Di Italia, kita tidak perlu membayar ongkos berupa uang tapi cukup dengan membeli tiket atau disebut juga Biglietto.

Nah, harga tiket ini tergantung waktu. Ada tiket seharga 1, 20 euro untuk waktu guna 90 menit. Ini artinya tiket hanya berlaku untuk 90 menit setelah divalidasi. Validasi? Ya, semua tiket bis maupun kereta di Italia harus divalidasi. Caranya dengan memasukkan tiket ke dalam sebuah mesin yang ada di dekat pak sopir (kalau bis) dan di stasiun (kalau kereta). Setelah tiket divalidasi (layaknya mesin absen kantoran) maka hari tanggal dan jam waktu validasi akan tercetak di bagian putih di ujung tiket. Jika membeli tiket 90 menit maka batas waktu masa berlaku tiket adalah 90 menit dari waktu yang tertera. Kalau mau aman sih, baiknya beli yang “Giornaliero” yaitu tiket untuk satu hari penuh. Tapi harganya juga lebih mahal yaitu 3 Euro. Kalau sering-sering pergi pakai bus ada juga tiket untuk satu minggu yang harganya 9 Euro. Hmm…tinggal dipilih aja sesuai kemampuan kantong hehe (kalo saya cuma mampu yang 1,20 Euro atau jalan kaki aja deh).

Tiket bus untuk 1 hari

Ok, berhubung kota ini hampir 80 persen dihuni oleh mahasiswa. Sudah pasti ada trik untuk mengakali supaya tiket ini bisa dipakai berkali-kali. Ada yang ‘mencurangi’ dengan cara melipat menjadi 2 agar validasinya hanya sedikit mengenai bagian putih, ada juga yang nekat tidak memvalidasi. Nggak apa-apa tuh?  Ya, asalkan tidak ada petugas yang mengecek tiket sih tidak apa-apa. Anggap saja naik bus gratis.

Ok, kejahatan saya berhubungan dengan validasi tiket. Waktu itu saya dan ketiga teman saya, lupa untuk memvalidasi tiket. Ketika petugas pengecek karcis masuk ke dalam bis, kami langsung panic dan langsung mendekat dan berusaha memvalidasi karcis. Namun, terlambat karena pak sopir sudah mematikan mesin itu tanpa kami sadar.

Alhasil, ketika melihat karcis kami masih putih bersih, petugas langsung meminta sopir untuk mematikan alat tersebut. Kami mati kutu. Akhirnya petugas mengecek tiket kami yang masih bersih. Ketika saya tunjukkan tiket yang saya punya itu, ia mengeryitkan dahi dan mulai menyuruh sopir untuk merapat ke pinggir.

Kami dengan tampang bodoh cuma saling bertatap pandang mencoba mencerna maksud si bapak ini. Karena yang diajak omong nggak ngerti juga, ia pun berkata  “il piedi” artinya “Jalan kaki sonoh lu!” Heheh akhirnya kami jalan kaki sampai ke rumah. Lumayan jalan sore. Menurut teman yang sudah lama di sini, kami beruntung karena hanya disuruh jalan, bukan denda 50 euro. Heiks! Mending suruh jalan aja deh.

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini adalah perhatikan jalan supaya tidak sala, tapi jika sudah terlanjur berbuat salah ya pasang aja tampang bloon dan pura-pura ehm…memang tidak mengerti bahasa Italia. First crime in Rende: cheating for bus ticket! lol

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 558 other followers