Pernah mengalami cinta pada pandangan pertama? Itu lho yang katanya begitu melihat seseorang atau sesuatu kita akan merasa klop, merasa bahwa dia adalah sesuatu yang kita cari selama ini, semacam soulmate gitu, walaupun kita tidak pernah melihat dia sebelumnya.
Nah, inilah yang saya alami dengan benda ini. Berawal dari sebuah bazaar dimana kantor saya dulu ikut berpartisisapi, eh partisipasi di dalamnya. Selama seminggu saya berjaga di stand milik kantor saya ini. Suatu ketika di jam makan siang, saya diijinkan untuk istirahat. Tentu saja saya memanfaatkan waktu saya untuk berkeliling melihat-lihat sekitar.
Niat awalnya sih mau membelikan jaket sebagai kado ulang tahun teman saya. Ketika melihat sebuah stand jaket import bertuliskan “sisa eksport MURAH“ mata saya langsung IJO! *maklum penggemar jaket.
Mata saya tertuju pada sebuah jaket berwarna hijau tentara dengan 6 kancing. Hmm keren juga, tp harganya berapa ya…pikir saya waktu itu. Karena di sebuah papan di depan, tertera harga Rp30.000. Setelah ditanya ternyata harga jaket hijau lumut itu adalah Rp150.000. Hari itu saya tidak membawa uang sebanyak itu
. Pupus sudah harapan saya. Mana sudah dicoba dan pas ukurannya
. Memang sih tadinya tidak berniat untuk membeli tapi saya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Walaupun saya sudah beringsut kembali ke stand saya, tetapi mata saya tidak mau lepas dari jaket itu (stand jaket itu hanya beberapa kotak dari stand saya). Kemudian, hal tidak diduga terjadi. Tiba-tiba teman saya menawarkan meminjamkan uangnya, kalau memang saya mau membelinya. Yaaaay! Saya langsung mengiyakan. Setelah menerima uang dari teman saya itu, saya langsung melesat menuju stand dan membawa kembali si hijau lumut yang sekarang menjadi kesayangan saya ini.
Pada Desember 2009 lalu, Si hijau lumut ini sudah genap setahun menemani saya. Dia yang selalu setia menemani saya kemana saja, bahkan sampai ke Jepang!
Hey hijau lumut, kamu sudah melintasi laut China Selatan, menemani ketika aku kebingungan di Beijing, merasakan salju di Morioka, aroma Takoyaki di Dotonburi pun ikut melekat ke dalam helai seratmu, bisingnya pachinko pun kau lalui, hembusan angin dingin Tokyo dan Kabushima, kau pun merasakan asinnya tetes air mataku di Miyagi Koen.
Hijau Lumut kau adalah… saksi kisah kami berdua.
Sampai akhirnya kembali ke tanah air merasakan hiruk pikuk Jakarta, debu dan bau dari asap knalpot yang membuatku harus mencucimu sesering mungkin. Aku selalu merindukanmu jika kau harus masuk ke dalam mesin cuci itu, terlebih jika kau tak kunjung kering. Aku terpaksa memakai yang lain. Namun, meski ada yang baru namun tetap tidak ada yang bisa menggantikanmu.
Hey Hijau Lumut, besok waktunya kau bertugas kembali! (^^)>
So, bagaimana dengan kalian? Punya benda kesayangan juga?
-EPS-
NB:
Terima kasih untuk Chintari Yulinar yang sudah meminjami saya uang waktu itu
















